Celebrating the Life of Chester Bennington, Top 10 Linkin Park’s Song Who Saves Me Through the Year - Ifnur Hikmah

Saturday, July 22, 2017

Celebrating the Life of Chester Bennington, Top 10 Linkin Park’s Song Who Saves Me Through the Year

(Caution: this post will be very long and contain my curhat securhat-curhatnya. Not about Chester, but about my life)



Pagi itu, saya terbangun sekitar pukul lima. Seperti biasa, saya langsung meraih handphone yang tergeletak di lantai di dekat kasur. Dengan mata masih setengah terbuka, dengan nyawa setengahnya masih berada di alam mimpi saya menyalakan handphone dan membaca pesan yang masuk semalaman.
Salah satunya membuka mata saya. Tidak, tepatnya membuat saya terbelalak.
Isinya begini.
“If, Chester meninggal. Bunuh diri.”
Sekilas isi pesan ini seolah membicarakan seseorang yang dekat dengan saya. Lalu, saya berpikir kira-kira Chester siapa yang dimaksud, dan hasilnya nihil. Mungkin karena masih pagi dan saya belum 100% sadar.
Saya pun membalas. Dan terjadilah percakapan ini.
“Who?”
“Chester Bennington. Vokalis Linkin Park.”
Oke, ini tidak mungkin.
Saya masih denial, sampai saya masuk ke salah satu grup WhatsApp dan mendapatkan berita yang sama. Saya pun masih denial. Akhirnya, ketika membuka Google Trend, website yang selalu saya buka setiap buka demi pekerjaan, nama Chester Bennington bertengger di posisi pertama. Dengan tangan gemetar, saya mengklik nama itu dan langsung menuju ke media besar luar negeri dengan headline yang nyaris sama.
Chester Bennington died at 41.
Otomatis saya langsung 100% sadar. Namun dalam hati saya masih denial. Meskipun timeline Twitter, Instagram, dan Path semuanya membicarakan kabar ini, dalam hati saya masih berharap ini hoax.
But sometimes reality suck. Now, reality took away someone who I look up to while I was growing up.
Our music hero, he’s no longer here.

He’s Everyone’s Hero
I may not be their avid fans. I’m just a casual listener. But there’s a part in my heart for them, especially while I was growing up or when I was at my lowest point. I scream about life through Chester’s voice.
Saya pertama kali mengenal Linkin Park ketika kakak sepupu memutar lagu In The End. Lalu, di MTV (yup, saat itu MTV sedang berjaya dan literally being music television) lagu mereka sering diputar. Dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata, saya mencoba memahami makna lagu itu.
Saya mungkin enggak begitu memahami apa yang mereka sampaikan. Namun saya bisa menangkap kesan anger and vulnerable di dalam lagu-lagu mereka. Chester is crying for help or shouting his anger about life. Later I know that mereka memang menyuarakan isi hati banyak orang dalam lagu tersebut.
Including me. Sebagai seseorang yang tidak terbiasa dan tidak berani untuk speak up dan lebih sering memendam perasaan sendiri, saya merasa diwakili oleh mereka. Apa yang ingin saya sampaikan tapi sayangnya hanya bisa menggema dalam benak, akhirnya terwakilkan dalam lagu mereka.
I shout with him. I scream with him. I cry with him.
Dan bukan saya saja. Banyak orang yang menjalani masa remaja di early 2000 merasa kalau lagu-lagu ini mewakili apa yang mereka rasakan.

Through the Years
(Foto: news.abs-cbn.com)

Bertahun berlalu, mereka terus melahirkan lagu. Masih sama, masih mengandung anger and vulnerableSampai akhirnya beberapa bulan lalu mereka merilis album One More Light. Banyak yang kecewa dengan perubahan musik mereka. Saya pun mempertanyakan hal yang sama, menginginkan mereka yang dulu karena saya ingin berteriak bersama Chester lagi.
Namun satu hal yang tidak berubah. Anger and vulnerable.
Juga, lagu mereka yang mewakili perasaan saya. Di saat saya tidak tahu harus berkata apa sementara ada banyak hal memenuhi benak, saya berteriak bersama Heavy dan Nobody Can Save Me.
Dan juga, membuat saya tersenyum bersama One More Light

My Top 10 Linkin Park’s Song
Ada masanya Chester Bersama Linkin Park menjadi panutan, the cool squad all over the world. Berbekal MTV dan radio, saya tumbuh bersama lagu mereka.
And to celebrate the life of Chester Bennington, this is my top 10 Linkin Park’s song who saves me through the year.
(Butuh pertimbangan panjang untuk menentukan sepuluh lagu ini karena kalau dipikir-pikir tentu saja jumlahnya lebih dari 10. Every song from them has their own story and I can relate to them in so many ways)

In the End


Meski dirilis tahun 2000, lagu ini baru memberikan pengaruhnya di hidup saya 2-3 tahun kemudian, tepatnya ketika saya duduk di bangku SMP. Saya berada di kelas unggulan, dengan murid super pintar (mungkin bukan hanya di sekolah tapi di seluruh kota karena SMP saya juga sekolah unggulan).
Di usia belasan awal, saya sudah berhadapan dengan teman-teman yang kompetitif and maybe a lil bit ambitious (I realize it years later). Di saat itu, saya merasa tertinggal. I’m not that clever dan saya merasa salah tempat. Ditambah dengan ekspektasi orangtua yang yakin saya bisa mendapat ranking tinggi. Ketika saya membawa rapor dengan ranking standar, saya merasa sudah mengecewakan mereka.
I tried but I failed. Sempat saya menyalahkan diri sendiri, berkata saya bodoh, melakukan hal curang for the sake of I got high ranking. But in the end? Later I know that it doesn’t matter. Mendapat ranking rendah, it doesn’t matter. Enggak bisa paham Fisika? Well, it doesn’t matter.
Meski saat itu, hal tersebut sangat matter.
Namun di titik terendah dan di saat saya capek belajar, saya akan melempar buku pelajaran lalu mengambil novel dan menyanyikan lagu ini. Believe that in the end it doesn’t matter.

Crawling

Dengan Bahasa Inggris terbata-bata, saya mencoba memahami lagu ini. And I found the song of my life. Insecure, don’t have a confidence, merasa diri selalu kurang dalam hal apa pun, dan ketika melihat teman-teman yang pede dan yakin dengan dirinya, saya merasa kalau I’m nothing.
Lalu lagu ini menemani saya mencari tahu siapa diri saya sebenarnya. Berkali-kali saya request lagu ini ke radio, karena ingin berteriak bersama Chester sekaligus bertanya siapa diri saya sebenarnya? What I want in my life? What I want to achieve? What’s the meaning of life? Beribu pertanyaan yang memenuhi benak sembari berbaring menatap langit-langit kamar.

Somewhere I Belong

Sejak kecil, saya sering merasa lost. Merasa tidak diterima. Merasa tidak nyaman saat bersama orang lain. Saya cukup kesulitan menemukan orang-orang yang benar-benar paham isi pikiran saya tanpa nge-judge or side eyeing me.
Saya sekolah di SD yang cukup jauh dari rumah, terpisah dengan teman-teman di lingkungan tempat tinggal sehingga ketika akhirnya saya bermain bareng, saya tidak bisa nyambung. Hal ini terus berlanjut ke jenjang endidikan berikutnya, juga lingkup pergaulan selanjutnya. Saya sering merasa lost dan tidak nyambung dengan lingkungan, bahkan hingga sekarang. Karena itu, sejak dulu saya mendambakan petualangan sehingga saya benar-benar menemukan tempat yang cocok.
Awalnya saya memaksakan diri untuk fit in tapi lama-lama saya merasa capek. Pada akhirnya, saya mencoba ‘keluar’ dan mencari mereka yang bisa membuat saya nyaman dan benar-benar paham dengan saya, dan saya juga memahami mereka. Termasuk keluar dari kampung halaman yang membuat saya merasa tercekik dan mencoba mencari tempat lain yang lebih cocok.
Bagaimana kalau saya tidak menemukan mereka? Well, I still have myself.

In Between

Have you ever pretended to be someone else because you think this is the only way people would accept you? Well, I did.
Ketika mencoba untuk fit in, saya menjadi pribadi lain. Pribadi yang sesuai dengan yang diinginkan orang lain. They see me as a chill, cool, and outgoing girl. But deep in my heart I know that’s not me.
Pretending to be someone else is suck. Berada di tengah-tengah alias in between juga suck. Beruntung saya sudah melewati hal ini dan sama sekali tidak ingin kembali ke masa-masa itu.

Numb

Lagu ini kurang lebih menggambarkan hubungan saya dan kakak. She’s so perfect, at least in my eyes. I was look up into her, I adore her, and yeah I wanna be like her. She’s smart, pretty, feminine, everybody’s sweetheart. Saya bertekad ingin menjadi seperti dia, dan salah satu hal gila adalah mengikuti jejak sekolah dia. Saya harus masuk UI, apapun yang terjadi. Karena jika saya tidak masuk UI, maka saya kalah dan saya tidak suka kalah dari dia.
This is a battle that I face alone. Lama-lama saya capek sendiri. Berperang tanpa lawan dan tanpa tujuan.
Namun dulu, saya benar-benar mencoba segala cara untuk memenuhi ekspektasi orang-orang kalau saya bisa seperti kakak. Ekspektasi yang bikin capek dan serba salah.
Perang ini berakhir bertahun-tahun kemudian, ketika di suatu hari si kakak berkata. “I want to be like you, reckless and impulsive. Because I feel tired to live like this.”
At that time I realize that her life is not always like a cotton candy. She has her own struggle, just like me.
In the end, I said to myself that I want to be more like me and be less like her. It takes time until I can accept myself, but it’s okay.

Faint

Frasa ‘I won’t be ignore’ benar-benar mengena di hati. Siapa, sih, yang suka diabaikan? Namun sayangnya seringkali kita merasa diabaikan. Dalam kasus saya adalah apa yang saya inginkan dianggap remeh dan saya dipandang sebelah mata. Berkali-kali saya mendengar orang mengejek impian saya dan mengabaikan kenyataan kalau saya mampu meraih impian itu.
Akhirnya? Saya pernah mempertanyakan kemampuan diri saya.
Bertahun berlalu, sampai sekarang, lagu ini masih menjadi jeritan hati saya.

Leave Out All the Rest

Salah satu ketakutan terbesar saya adalah kematian (I will write about this in my next post). Sejak dulu saya sering bermimpi soal kematian, termasuk kematian saya sendiri. Setelah terbangun saya selalu bertanya-tanya, what will happen when I’m no longer here?
Dua lagu yang selalu mengingatkan saya akan ketakutan ini adalah The Spirit Carries On by Dream Theatre dan Leave Out All the Rest by Linkin Park.
Ketakutan ini yang akhirnya membuat saya untuk mencoba living in the moment and doing my best karena saya ingin meninggalkan sebuah kenangan manis.

My December

Berbeda dengan kisah di balik lagu yang lain, khusus My December simply because I like December. No, I love it. Saya pernah protes kepada mama kenapa enggak dilahirkan di Desember? Jika ada kehidupan selanjutnya, saya sangat ingin lahir di Desember.
Desember itu sebuah akhir, sekaligus jembatan ke sebuah awal yang baru. Meninggalkan dan menyambut hidup baru. Kontradiktif, dan sebagai penyuka hal-hal yang kontras, saya pun jatuh cinta pada Desember.

Waiting for the End


Selain kematian, ketakutan terbesar saya lainnya adalah salah memilih dan akhirnya menciptakan chaos. Hal ini terjadi beberapa kali. Skalanya berbeda-beda tapi selalu berhasil membuat saya freak out. Jika berada di situasi ini, Waiting for the End adalah jawabannya.
Chaos itu akan selalu ada. Enggak selamanya kita selalu mengambil keputusan yang salah. Bagi saya, ini adalah salah satu proses pendewasaan yang harus dijalani. Yaitu, ketimbang menunggu badai ini reda, saya harus mencari cara untuk menempuh badai tersebut sampai akhirnya badai itu berlalu.
Again, it’s not easy. Never be easy.

Nobody Can Save Me

Ini salah satu lagu di album terbaru Linkin Park yang sangat cocok dengan keadaan saya. Sekitar dua bulan lalu saya berada di titik gamang. Saya dihadapkan pada keharusan untuk memilih, apapun nantinya yang saya pilih akan membuat hidup saya berubah. And it’s not easy. It never be easy. Because it’s life and life never be easy, right?
Saya bukan seseorang yang bisa ngobrol heart to heart dengan mama. Namun saat itu saya bercerita banyak. Mungkin di sepanjang hidup saya, itulah masanya saya bicara dari dalam hati bersama mama. Saya menyampaikan semua keraguan yang saya rasakan. Tidak mudah memang karena akhirnya kami kembali bersitegang, seperti biasa.
Namun ada satu perkataan mama yang melekat di benak saya. “In the end, nobody can save you. You only have yourself. Not me, not your father, not your sister. So you have to think before you make a decision.”
Keesokan harinya, di tengah perjalanan ke kantor, lagu ini mengalun begitu saja dari Spotify yang saya atur dalam mode shuffle. Perkataan mama malam sebelumnya kembali terngiang.
In the end, I only have myself and only me can save myself.

Special Mention: One More Light


Lagu ini paling berbeda di album yang berjudul sama. Paling enggak kekinianlah, sederhananya. Lagu ini juga menjadi lagu favorit saya di album ini. Chester selalu emosional ketika menyanyikannya, mungkin bikin dia ingat Chris Cornell.
The thing is, lagu ini berisi pengharapan.
“If they say, who cares if one more light goes out, in the sky of million stars, it flickers, flickers.
Who cares when someone’s time runs out if a moment is all we are, or quicker, quicker.
Who cares if one more light goes out. Well I do.”

One more light goes out and the light named Chester Bennington. He may not be here anymore but his legacy will still remain. At least for me, because his song makes my teenage life feel less shitty. When he’s crying for help, he helped me to know who I am. When he’s asking for help, he saves my life. When he’s shouting his anger, I scream with him and he makes me found courage to speak up.

XOXO,

iif

2 comments: