What is the Most Guilty Pleasure Thing You Ever Did?


Queen Rania and Queen Letizia, my woman crush

Day 7, tema dari Fhia

Setiap orang pasti punya sesuatu yang menjadi guilty pleasure, benar? Bahkan saya rasa, memiliki guilty pleasure ini wajar, karena untuk sejenak kita berhenti berpikir dan menghabiskan waktu melakukan sesuatu yang di mata orang lain mungkin dianggap ‘buang-buang waktu’. Tapi setidaknya, guilty pleasure inilah yang membuat kita waras.
Bicara soal guilty pleasure, butuh waktu lama untuk menentukan guilty pleasure ter-guilty saya, saking banyaknya. Namun, teman saya mengingatkan, ‘lo kan royal trash’.
Benar juga.
Yes, you hear me. I love everything about royal. Royal pertama yang membuat saya jatuh cinta adalah Lady Diana, ketika saya membaca aksi sosialnya di majalah Bobo. Dia berada nun jauh di sana, dan di usia yang masih kanak-kanak, saya sangat mengaguminya. Saya bahkan menangis meraung-raung ketika Lady Di meninggal, satu hari setelah saya merayakan ulang tahun ke-8.
Long story short, saya jadi tertarik mengikuti semua hal yang berbau royal. Dari Kerajaan Inggris, lalu meluas ke kerajaan lainnya. Adalah ketika saya membaca profil Charlotte Casiraghi di majalah Aneka Yess! punya Uni. Sejak itu, saya tertarik dengan Kerajaan Monaco. Saya ingat, di majalah itu ada peramal entah siapa meramalkan kalau kelak Charlotte akan menikah dengan Prince William. She will be Queen of England. Saya masih merasa patah hati ketika akhirnya Prince William menikah dengan Kate, karena tanpa disadari selama bertahun-tahun saya nge-ship Prince William dengan Charlotte Casiraghi.
Sampai sekarang, Casiraghi Siblings tetap menjadi salah satu royal favorit saya.

A post shared by Charlotte Casiraghi ♡ (@dailycharlottecasiraghi) on


Mengikuti cerita soal royal itu penuh intrik. Karena saya suka Casiraghi Siblings, mengikuti intrik kerajaan Monaco yang penuh skandal itu membuat saya hanya geleng-geleng kepala. Terlebih ketika Princess Charlene menangis di hari pernikahannya dan hampir saja menjadi ‘runaway bride from Monaco’ seminggu sebelum menikah hanya karena skandal ‘anak di –mana-mana’ Prince Albert.
Juga skandal percintaan para royal yang selama ini saya pikir hanya ada di novel Harlequin. Meet cute yang berujung happily ever after yang tak hanya ada di dongeng Disney tapi beneran terjadi antara Queen Rania dan King Abdullah II. Perjuangan mempertahankan cinta. Crown Prince Haakon yang keukeuh menikah dengan Princess Mette-Marit meski Mette-Marit punya mantan suami yang bermasalah dengan drug, Prince Carl Philip dan Princess Sofia yang menikah meski ditentang rakyat karena masa lalu Sofia yang pernah jadi model majalah dewasa, atau Queen Jetsun Pema yang masih bocah tapi yakin someday dia akan jadi ratu dan King Jigme Khesar berjanji enggak akan menikah lagi karena setia sama Jetsun Pema.



How romantic, isn’t it?
Selain itu, saya suka melihat foto-foto anggota royal yang super elegan. Memang, sih, membuat saya berpikir betapa jauh berbedanya dunia rakyat jelata dengan mereka, tapi itulah guilty pleasure yang saya rasakan.
Bukan hanya intrik, tapi para royal ini juga melakukan banyak hal yang inspiring. Entah kenapa, sejak awal saya sudah menaruh perhatian lebih pada para Princess dan Queen. Maksudnya, Pierre dan Andrea Casiraghi itu drop dead gorgeous, tapi Princess Charlotte lebih menarik untuk diikuti.
Kecuali Prince William, yang sejak dulu memang bikin drooling.
Dan Crown Prince Hussein yang enggak kalah bikin drooling dan menjadi guilty pleasure terbesar saya saat ini, he-he.

Queen Rania of Jordan



Dia mengisi celah yang ditinggalkan sejak Lady Di meninggal. Selain aksi sosialnya, Queen Rania juga berani. Ingat, dia dari negara Arab, ketika perempuan seringkali sulit untuk tampil. Bahkan, ada beberapa rakyat Jordan konservatif yang tidak suka sama Queen Rania karena terlalu speak up. Untung saja dia hidup di masa sekarang, dan King Abdullah II yang sangat mendukungnya. Kalau tidak, nasib Queen Rania mungkin akan seperti Princess Dina, istri pertama late King Hussein of Jordan.
Queen Rania memang fokus di anak-anak dan pendidikan, tapi saya suka cara dia membawakan diri sebagai perempuan dan mengajak perempuan di manapun untuk berani mengungkapkan pendapat. Dia juga berusaha mematahkan stigma di dunia bahwa perempuan muslim tidak boleh bersuara. She’s the real queen.


Karena itu, Jordan royal family menjadi keluarga kerajaan favorit, setelah British Royal yang ultimate yah, disukai banyak orang.

Queen Letizia of Spain



She’s journalist before she became queen. Sekilas, dia mirip Queen Rania, ya. Entahlah, vibe yang mereka berikan terasa sama, perempuan cerdas yang tahu cara membawakan diri. Alasan saya menyukai Queen Letizia sama dengan alasan saya menyukai Queen Rania. Dia sosok cewek keren modern yang tahu cara bertindak.
Sama juga dengan Queen Rania, she puts her family first. Dia bahkan melarang Queen Sofia bertemu anak-anaknya, Princess Leonor dan Infanta Sofia, agar mertuanya itu tidak ikut campur cara dia merawat anak-anaknya. Atau ketika dia nganterin anaknya sekolah, dan King Felipe di mobil kesulitan ngajarin soal tabel Kimia ke anak-anaknya, he-he.



Crown Princess Victoria of Sweden


You may say Duchess of Cambridge or Duchess of Sussex, but she is the most famous royal. Bayangin girl’s squad yang isinya the future queen of Europe, seperti Crown Princess Victoria of Sweden, Princess Mary of Denmark, Princess Matte-Marit of Norway, Queen Mathilde of Belgium, Queen Maxima of the Netherland, Princess Madeleine of Sweden dan Princess Sofia of Sweden.
Victoria juga dikenal sebagai Godmother of Europe saking banyaknya jadi Godmother untuk anak-anak royals. Tapi, vibe hangat yang dia pancarkan yang membuat saya menyukainya. Juga pengalaman hidupnya yang kaya, berpindah dari satu negara ke negara lain demi misi kemanusiannya. Dan jangan lupa, kisah cinta sederhana dan manis dengan Prince Daniel, yang tadinya personal trainer dia.
Sebenarnya, agak susah memilih antara Victoria atau Madeleine karena dua-duanya sama-sama hangat dan murah senyum, juga punya kisah cinta dramatis, he-he.



Charlotte Casiraghi



Keanggunannya membuat orang-orang seperti melihat Princess Grace Kelly semasa muda. Alasan saya menyukainya simpel, bisa dibilang karena cinta masa kecil, he-he. Ditambah dengan kehidupannya sebagai rakyat biasa (karena ayahnya tidak menerima gelar kerajaan meski secara garis darah, dia keturunan kerajaan), dan punya karier di bidang jurnalistik. Ah, kulemah sama mereka yang bekerja di bidang ini.
Royal Children
Yes, you heard me. Saya membayangkan di masa depan, ketika royal children ini sudah dewasa, beberapa memerintah negaranya, pasti akan sangat menyenangkan. Karena, entah mengapa mereka hampir seumuran dan sebagian besar PEREMPUAN. Girl Power, yes!
Sebut saja Princess Leonor yang ada di urutan tahta pertama kerajaan Spanyol, Princess Elisabeth yang sekarang berumur 17 tahun, Catharina-Amalia, Princess of Orange dari Belanda yang masih 13 tahun, Princess Estelle, urutan kedua tahta Swedia. Jadi, ketika mereka memerintah, bisa aja samaan periodenya.







Belum lagi royal children lain yang ada di urutan tahta kesekian tapi diyakini akan sangat berpengaruh di masa depan. My favorite, Princess Charlotte yang kecil-kecil sudah tahu cara bertindak seperti seorang ratu. Juga Infanta Sofia, meski lucu aja lihat dia kalau lagi bareng Princess Leonor, karena sering didandanin kembar sama ibunya jadi berasa lihat si kembar di The Shining, he-he. Juga Princess Leonore dan Princess Adrienne yang masih bayi, pasti mereka akan jadi seperti ibunya, Princess Madeleine.





Crown Prince Hussein of Jordan


Ini dia contoh kesuksesan mendidik dari orangtua keren. How he looks up to his father, how he balance his duty as second in line to the throne and being ordinary guy who loves football, just like her mother who is Queen by day and just an ordinary mother by night.
Mengikuti Instagram dia sih guilty pleasure banget. Dan sosok pangeran serba bisa melekat di dia. Militer? Check. Bisnis? Check. Pintar? Check. Nerbangin helikopter, wall climbing atau safari dessert, main bola sama teman-teman atau jamming bareng adik di waktu senggang? Check. No wonder kalau dia disebut sebagai the leader of 21st century dan icon young leader di masa depan.
I mean, look at him. I bet you’ll have a very nice dream tonight.



Dan mengikuti kegiatan para royal ini di Instagram adalah guilty pleasure. Membaca Daily Mail dan segala intriknya, itu lebih guilty pleasure lagi. Membahas kabar terbaru dengan teman sesame royal trash, chat bisa berjam-jam tanpa henti, he-he.
“Guilty pleasure gue itu main hape depan anak. Karena mestinya, sebagai working mom, waktu gue yang tersisa sedikit di rumah harusnya dimanfaatin total sama anak. Tapi karena gue suka scrolling Instagram, Twitter, kepo, dll jadi ya… kebiasaan ini susah lepas. Itu sekarang, kalau dulu gue suka banget kepoin mantan gue dan mantannya suami. He-he, enggak banget sih, but somehow itu menarik, apalagi when you know your life is happier without your ex. In my husband’s ex case, kadang gue tetap berpikir kalau gue jauh lebih baik dari dia. Kepo is my middle name, he-he. Tapi sejak nikah, cuma buat iseng aja, bukan buat comparing.” Fhia, yang entah gimana malah kepikiran ngasih tema ini, he-he.

So, what are the most guilty pleasure thing you ever did?

Reactions

0 Comments:

Post a Comment