9 Things About Being Solo Traveler in Japan for Nine Days


-->

Shibuya Crossing yang sibuk


Jepang memang menjadi salah satu destinasi favorit untuk liburan. Terlebih bagi orang Indonesia. Bisa dibuktikan dengan banyaknya promo dan travel fair yang memprioritaskan Jepang. Tidak peduli musim, Jepang selalu sukses menarik perhatian untuk dikunjungi.
Termasuk, aku salah satunya.
Sejujurnya, lupa bagaimana awalnya menjadikan Jepang sebagai destinasi liburan. Mungkin, karena ingin mendapatkan cap negara di luar Asia Tenggara di paspor. Mungkin ingin menjajal keberanian untuk jalan lebih jauh, karena salah satu resolusi di 2019 adalah jalan lebih jauh. Mungkin juga, karena Jepang sudah ada dalam daftar impian sejak lama. Ada banyak negara dalam bucketlist, dan somehow, Jepang terasa masih terjangkau untuk dikunjungi dalam waktu dekat.
Lalu, mengapa solo traveling?
Di tahun 2018, aku sudah dua kali melakukan perjalanan solo. Pertama, ke Manila. Bisa dibilang ini accidental, karena tidak ada niatan penuh untuk solo traveling ke Manila. Lagipula, Manila bukan destinasi favorit untuk perjalanan solo. Kedua, di akhir tahun, liburan singkat ke Penang. Ini juga tanpa persiapan matang. Tiba-tiba saja merasa jenuh dan butuh liburan, lalu melihat sepertinya Penang seru juga untuk dikunjungi.
Ketika ingin ke Jepang, sejak awal sudah menetapkan ini perjalanan solo. Bukan karena enggak ada teman. Di tahun ini saja, ada banyak teman yang liburan ke Jepang, dan sangat mudah untuk ikutan nebeng atau malah merencanakan sejak awal. Namun, balik lagi ke keinginan awal yang mau jalan lebih jauh, jadi sejak awal pun sudah memutuskan bahwa ini akan menjadi perjalanan solo pertama yang serius.
Melakukan perjalanan solo ke Jepang mungkin bukan hal yang ‘istimewa’ lagi, saking banyaknya yang sudah melakukannya. Bukan hal yang aneh, mengingat Jepang merupakan salah satu negara aman dan nyaman bagi solo traveler.
Namun, tetap saja deg-degan setengah mati ketika akan melakukan perjalanan ini.
Long story short, berikut rangkuman dari perjalanan saya selama sembilan hari sendirian di Jepang.

1.      Tema perjalanan solo kali ini adalah reconnecting

Wizarding World of Harry Potter di Universal Studios Japan, Osaka

Sebenarnya ini iseng aja, sih. Untuk perjalanan kali ini, aku mengambil tema reconnecting. Why?
Ada banyak makna terkait reconnecting ini. Pertama, menjalin kembali hubungan dengan diri sendiri. Ada banyak kesibukan, target, dan pikiran sehingga waktu untuk diri sendiri jadi minim. Aku sendiri lupa, kapan terakhir kali berdialog serius dengan diri sendiri. Sehingga, momen sembilan hari ini sangat pas dijadikan sebagai waktu untuk menjalin kembali hubungan dengan diri sendiri. Ini saat yang tepat untuk berkomunikasi, berdialog, berdiskusi, dan menggali kembali diri sendiri yang sebenarnya. Seperti ketika menghabiskan waktu dua jam di perahu saat menyusuri Sungai Hozugawa di Kyoto, rasanya sudah sangat lama tidak setenang itu dan pemikiran yang ada di kepala terdengar dengan sangat lantang.
Kedua, reconnecting dengan masa kecil. Hal ini tergambar dari destinasi yang dituju. Universal Studio Japan, tepatnya Wizarding World of Harry Potter atau Fujiko F. Fujio Museum, tempat tersebut erat kaitannya dengan masa kecil. Mereka ada di saat aku tumbuh dulu. Jadi, liburan kali ini juga menjadi saat yang pas untuk menjalin kembali hubungan dengan masa kecil. Sekaligus pengingat, apa pun yang terjadi, jauh di dalam hati, kita tetaplah anak-anak. Fun, reckless, spontant, dinamis, dan muda.
Ketiga, reconnecting dengan mimpi. Ada perasaan emosional ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Rasanya surreal, karena bisa mengunjungi negara yang dulu rasanya sangat jauh, hanya ada di angan-angan, tapi saat ini berhasil dikunjungi. Dengan usaha sendiri. Dengan jerih payah sendiri. Semua lelah bekerja akhirnya terbayar.
Aku percaya dengan timing yang tepat. Mungkin bagi sebagian orang, ke Jepang di umur 30 tahun itu sudah terlambat, tapi bagiku ini timing yang pas.
Surprise, aku juga menemukan reconnecting dengan teman lama ketika Vinny, teman SMA dulu, mengajak ketemu di Kobe. Sebab, dia sedang tinggal di Kobe sekarang.

2.      Persiapan sejak jauh-jauh hari

Shitenno-Ji Temple, Osaka


Ini penting, terlebih karena ini perjalanan solo. Terlebih lagi karena aku seorang Virgo, jadi maklum-maklum aja kalau sedikit banyak perfeksionis.
Saat memutuskan untuk ke Jepang, untuk pertama kalinya juga aku mengunjungi travel fair. Biasanya, sih, enggak pernah beruntung di travel fair karena sudah mundur duluan melihat orang ramai. Pertama, aku datang ke Singapore Airlines Travel Fair dan menemukan harga yang pas. Namun, karena masih galau, akhirnya mundur. Ditambah dengan penjelasan Mbak Muti yang bilang, ‘tunggu aja, nanti juga bakal ada travel fair lain. Sekarang Jepang kan lagi jor-joran.’ Eh, ternyata benar. Akhirnya, dapat harga promo Jakarta – Osaka – Jakarta dengan Singapore Airlines di harga Rp5,6 juta. Secara sudah berumur, maka mari kita cari flight yang full service.
Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang mau membeli tiket pesawat jauh-jauh hari. Beberapa kali pernah seperti ini, dan ada saja kejadian mendadak yang mengakibatkan gagal pergi dan rugi. Namun, kali ini aku pun meneguhkan hati. Apa pun yang terjadi, aku harus pergi nanti, dan tiket yang sudah ada di tangan ini jadi semacam jaminan bahwa nanti aku pasti akan berangkat.
Menjadi stranger di negara orang selama sembilan hari tentu bukan perkara gampang. Apalagi, rencananya aku akan mengunjungi beberapa kota sekaligus. Semakin banyak baca soal Jepang, semakin bingung. Apalagi soal perkeretaan. Asli, njelimet banget.
Beruntung aku dikelilingi orang-orang sabar yang mau ditanya-tanya, bahkan untuk pertanyaan bodoh sekalipun.
Kenjrot yang sudah memberikan itinerary ciamik dan paling paham soal Jepang, sehingga setiap detail yang dikasih itu ngebantu banget.
Wita, yang setahun sebelumnya, sudah melakukan solo traveling ke Jepang, sehingga dia pun mau berbagi pengalamannya.
Mbak Muti, yang nemenin beli tiket, dan berbagi pengalamannya ke Jepang dulu.
Mbak Marti, yang beberapa bulan sebelumnya juga ke Jepang, dan mau menjawab semua pertanyaanku.
Tanpa mereka, mungkin aku sudah kelimpungan sendiri.
Juga untuk teman-teman yang meyakinkanku bahwa aku bisa, karena menjelang hari keberangkatan, aku dilanda ketakutan akut, sampai muncul pikiran untuk mundur.
Namun, tidak serta merta semua rencana yang sudah disusun berjalan sempurna. Faktor X di lapangan itu menuntut keluwesan. Sebagai Virgo sejati, akhirnya aku belajar untuk sedikit rileks dan enjoy dengan perubahan mendadak.

3.      Pemilihan hostel itu sangat krusial


Gundam statue yang super ganteng

Menginap di mana?
Ada banyak pilihan akan menginap di mana. AirBnb, hotel, hostel, guesthouse, dll. Bagi aku pribadi, tidak perlu hotel mahal selama dia nyaman dan dekat dari stasiun. Toh, nanti tidak akan memakan waktu lama di hotel, cuma numpang tidur doang.
Dekat stasiun itu penting, agar enggak kejauhan ngegeret koper.
Berhubung sendiri, jadi aku memutuskan untuk menginap di hostel saja. Tepatnya di dormitory dan gabung dengan penghuni lain.
Sewaktu di Osaka, aku menginap di Osaka Namba Miyabi Hostel. Lokasinya berjarak sepuluh menit jalan kaki dari stasiun Namba dan masih walking distance ke Dotonburi.
Ketika di Kyoto, aku menginap di Kyoto Hana Hostel, hanya lima menit jalan kaki dari stasiun Kyoto dan semenit jalan kaki dari halte bis.
Di Tokyo, aku dua kali pindah hostel. Pertama di Unplan Shinjuku. Jujur, aku terpesona dengan review bagus dan sangat Instagramable. Entah apa yang terjadi sewaktu pesan, karena ternyata lokasinya sangat jauh dari stasiun, he-he.
Di malam terakhir, aku pindah ke Ueno Uno di daerah Ueno. Tidak terlalu jauh dari stasiun, dan lokasinya tenang.
Untuk hostel ini, review menyusul di postingan berikutnya.

4.      JR Pass, pentingkah?

Begini penampakannya JR Pass


Ini juga jadi pertanyaan besar sebelum berangkat. Penting enggak, sih, membeli JR Pass? Di beberapa blog yang aku baca, ada yang bilang penting, ada juga yang bilang enggak. Akhirnya, persoalan JR Pass ini bisa diatasi setelah memiliki itinerary yang tepat.
Berhubung aku harus balik lagi ke Osaka karena pesawat pulang berangkat dari KIX, maka JR Pass jadi penting karena aku harus naik Shinkansen dari Kyoto ke Tokto, dan nantinya dari Tokyo ke Osaka.
JR Pass terdiri dari 7, 14, dan 21 hari. Aku memilih JR Pass National Wide yang tujuh hari, dan baru aku aktifin di hari ketiga. Dua hari pertama, aku membeli ICOCA di Osaka dan memanfaatkannya untuk membayar transportasi selama dua hari pertama di Osaka. Kartu ini juga berguna untuk membayar sewa loker atau membeli makanan dan minuman di Lawson/Family Mart/Sevel. Kartu ini juga bisa digunakan di Tokyo, kalau kereta yang digunakan tidak di-cover oleh JR Pass.
Dalam perjalanan kemarin, aku merasa beruntung dan jauh lebih hemat ketika memakai JR Pass. Namun, kalau enggak harus balik lagi ke Osaka, agak rugi, sih, beli JR Pass. Mending beli tiket ketengan.

5.      Pocket Wi Fi dari Jakarta


Balik jadi anak delapan tahun bermain bersama Doraemon

Internet itu penting banget, karena selama di Jepang aku sangat tergantung kepada peta. Juga, mengetahui jadwal kereta. Aku sangat mengandalkan Google Maps dan seringkali benar. Jadwal kereta, lengkap dengan peronnya, tersedia di sana, jadi ngebantu banget. Apalagi kalau malas bertanya ke petugas stasiun. Dibantu juga dengan pengumuman di stasiun umumnya ada bahasa Inggris, jadi bisa double check.
Kali ini, aku menyewa paspod. Kebetulan lagi promo, jadi hemat, he-he. Paspod sinyalnya oke, meski beberapa kali sempat hilang sinyal atau tiba-tiba handphone enggak connect ke wi fi. Paspod hanya kehilangan sinyal dalam waktu lama saat aku mengarungi Sungai Hozugawa dan di Fuji 5th Station. Sisanya, sih, aman.
Kalau enggak mau rental wi fi dari Indonesia, di bandara di Jepang juga banyak tempat penyewaan. Namun, kalau mau tenang sejak awal, ya mending sewa dari Indonesia. Lagipula, beli nomor Jepang itu ribet dan mahal.

6.      Locker is the best




Umumnya, hotel di Jepang memiliki jam check in di jam 4 sore, dan check out di jam 10 pagi. Seringnya, sih, jam ini enggak sesuai dengan jam kedatangan atau jam keberangkatan. Dan juga, tidak semua hostel di Jepang bisa dititipin koper gratis. Lagipula, agak ribet, sih, harus ke hotel dulu dari bandara atau stasiun untuk nitip, atau harus ke hotel lagi sebelum cabut ke bandara atau stasiun.
Jalan keluarnya ada pada locker. Hampir semua stasiun memiliki locker dengan beragam ukuran, jadi bisa disesuaikan dengan koper. Bahkan, stasiun kecil aja ada locker.
Selama di Jepang, ada dua jenis lcoker yang aku coba. Pertama, locker manual. Ada yang jagain, sekaligus tempat nukar duit ke recehan karena bayar locker pakai pecahan koin 100. Selain itu, ada juga locker yang dioperasikan oleh mesin dan bisa bayar pakai koin atau IC Card.
Cara pakai locker gampang banget. Pilih locker yang kosong, lalu masukin koper, tutup rapat. Kalau manual, tinggal masukin koin sesuai harganya dan loker bisa dikunci. Hati-hati, jangan sampai kuncinya hilang.
Jenis kedua juga sama. Bedanya, ada mesin yang mengoperasikannya. Enggak perlu khawatir, karena ada layanan dalam bahasa Inggris. Sebelum bayar, pastikan nomor locker dengan nomor yang tertera di layar itu sama. Pembayarannya ada dua, pakai koin atau IC Card. Kalau pakai koin, nanti akan keluar struk berisi pin yang berguna untuk membuka kunci, jadi pastikan jangan sampai hilang.
Ada cerita lucu ketika pertama kali memakai locker ini. Awalnya, aku enggak ngeh dengan tulisan bahasa Inggris. Ketika mengunci, ada tempelan petunjuk, jadi aku mengandalkan itu. Nah, pas mau mengambil, enggak ada tempelan petunjuk. Bingung dong, ya. Mungkin aku tampak seperti orang panik dan linglung, dan ada ibu-ibu menghampiri. Dia tidak bisa bahasa Inggris, tapi dia mengerti kesulitanku. Entah bagaimana, kita bisa saling paham. Ketika melihat layar, dia menyadari tulisan English, dan menunjuknya. Sesaat, aku pun menyadari kebodohan, he-he.
Terima kasih kepada ibu-ibu yang sudah membantuku di Osaka Station.
Oh ya, penting untuk mengingat di mana lokasi locker berada karena stasiun yang gede dan ada banyak sudut tempat menyimpan locker. Enggak mau, kan, ngabisin waktu lama-lama di dalam stasiun nyari loker di mana?

7.      Jepang mahal enggak, sih?


Ini beli di Oshino Hakkai, asli endes


Sejujurnya, iya. He-he. Namun, aku punya prinsip untuk tidak pernah merupiahkan jika sedang ada di luar negeri, karena akan terasa sangat mahal. Yang penting, ingat berapa duit yang dibawa dan dibagi-bagi. Aku bukan tipe yang foya-foya, tapi juga enggak mau pelit. Sing penting porsinya pas.
Ada baiknya sehari ditarget harus habis berapa, jadi enggak kedodoran.
Pertanyaan lain, mending cash atau cashless? Buatku pribadi, cash. Karena, lebih mudah mengontrolnya. Aku tahu soal kebiasaanku yang asal main gesek, lalu tiba-tiba kaget aja kok sudah habis.
Namun, aku juga punya cadangan di kartu dan credit card. Just in case sih ceritanya. Oh ya, selama di Jepang aku pakai Jenius, karena rate yang bersahabat.
Aku juga menerima pertanyaan, habis berapa di Jepang? Ada yang ingin memasang perkiraan nanti kalau ke Jepang bawa duit berapa. Berdasarkan pengalaman, aku tidak bisa mengikuti kata orang soal budget mereka karena setiap orang pasti beda. Entah tujuannya, entah gaya hidupnya. Aku, sih, sedang-sedang aja, enggak pelit tapi enggak foya-foya. Dan yang paling penting, enggak mau menyusahkan diri sendiri.

8.      Ke mana saja selama di Jepang?

Hozugawa River Boat Ride, Kyoto

Ini dia yang paling krusial. Sebagai newbie dan first timer, tentu saja aku mengandalkan jalur yang sangat mainstream, Golden Route. Osaka – Kyoto – Tokyo. Di sela dengan Kobe, Fuji, dan Kawasaki.
Jadwal yang aku buat sangat padat saking ambisiusnya. Namun, kenyataannya sih sedikit luwes. Enggak semua tempat di itinerary berhasil dituju. Mungkin itu pertanda suatu hari nanti harus kembali lagi.
Ketika meminta itinerary ke Kak Kenjrot, aku menegaskan beberapa hal: USJ, Glico Sign, Museum Doraemon. Sisanya, kuserahkan padanya.
Rute ini termasuk padat, meski sembilan hari rasanya lama. Percayalah, sembilan hari itu sebentar dan rasanya masih kurang puas.
Lengkapnya soal itinerary akan kuceritain di postingan selanjutnya.

9. Makan dan minum gimana?


Vending Machine my savior


Salah satu prinsip yang kupegang yaitu mencoba makanan lokal, tapi yang masih boleh dimakan. Nah, yang bikin kenyang selama di Jepang justru street food dan camilan. Jadi, begitu tiba waktu makan, sudah kenyang dengan sendirinya, he-he.
Kalau mau menghemat makan, sih, bisa banget. Toh, onigiri atau bento di Lawson/Family Mart/Sevel juga enak-enak. Tapi, masa iya makan di situ terus? Jadi, aku mengimbangi makan yang layak dengan makan dari convenient store. Namun, untuk jajan, itu sangat susah ditolak, he-he.
Pengeluaran terbesarku juga di minum, karena aku suka minum. Nah, Jepang tuh vending machine di mana-mana. Dengan beragam minuman itu, sering bangetlah beli di vending machine. Baru juga jalan beberapa langkah minumannya sudah habis, jadi seringnya setiap kali mampir vending machine, minimal beli dua botol.

Sebagai seorang introvert, sembilan hari sebagai stranger itu bukan hanya capek fisik, tapi juga capek mental. Sebab, mau enggak mau harus berdialog dengan orang lain dan itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Jika malas, aku selalu mengingatkan diri dengan tema yang kupilih, reconnecting. Dan ya, ini saatnya untuk reconnecting dengan keberanian yang dulu kumiliki, untuk memulai hal baru, dengan orang baru.
Sembilan hari itu lumayan lelah. Dengan kulit kusam dan menghitam. Jerawat bertaburan. Pegal di mana-mana. Namun, aku bahagia. Survive. Bangga dengan diriku sendiri. Bersemangat. I feel something different with me, mungkin karena mataku terbuka. Ada dunia yang begitu luas di luar sana, dan aku harus berpikir, bagaimana cara menaklukkannya.

Sampai bertemu di tulisan selanjutnya.

XOXO,
iif

Reactions

0 Comments:

Post a Comment