Jakarta Rasa Bali, Pengalaman Staycation di DoubleTree by Hilton Hotel Jakarta

Leave a Comment



I’m not a traveler but I know that I need to go somewhere else at least once in three months. Jadi, bisa dibayangkan ketika pandemi melanda, perjalanan paling jauh hanyalah sebatas Indomaret.


Dari yang awalnya biasa saja dan mencoba positive thinking, hingga akhirnya uring-uringan dan kesel sendiri karena enggak bisa ngapa-ngapain. I need to be somewhere else. Bukan hanya kamar kosan dengan empat sisi dinding yang kian lama kian bikin pengap ini.


Di saat seperti ini, ketika enggak bisa ke mana-mana atau belum berani untuk melakukan perjalanan jauh dengan transportasi publik, maka staycation jadi pilihan yang tepat. Terlebih, hotel pun cukup terdampak pandemi sehingga banyak yang banting harga.


Berhubung PSBB sudah dilonggarin dan sudah enggak tahan, akhirnya memutuskan untuk staycation. Bukan berarti staycation enggak butuh pertimbangan matang. Namanya juga hotel, masih berupa public space. That’s why I chose a 4 stars hotel with an international brand to feel safe. Mereka mempertaruhkan nama besar, sehingga safety protocol seharusnya lebih aman



Staycation kali ini, terpilihlah DoubleTree by Hilton Hotel Jakarta. Alasannya karena foto-foto yang ada menunjukkan suasana hotel yang hijau. I keep asking, is it in Jakarta? Enggak kayak di Jakarta, sih, sejujurnya.








Kalau kata Sindy, “Masuk DoubleTree ini, baru sampai lobi aja bawaannya udah mau tidur.” Enggak lebay, sih, tapi memang gitu. Auranya memang pengin ngajakin bobok banget.


DoubleTree berlokasi di Menteng, tengahnya Jakarta, tapi begitu masuk rasanya kayak bukan di Jakarta. Dengan pohon palem dan kolam, kayak Bali, ya? Sayangnya karena masih pandemi, semua aktivitas di kolam pun ditiadakan.






Batal sudah rencana pengin tropical party di cabbana.



Pertama, kita cek kamarnya dulu.


Aku memilih kamar paling standar, tapi begitu masuk, hawa pengin ngajakin boboknya makin kencang, he-he. Suasana kamar yang nyaman, dengan penerangan ala kamar hotel yang memberikan kesan elegan. Selama dua malam, aku pun jadi mager parah dan finally, I can get a deep sleep.


Yuk, room tour dulu!






Kamar mandinya juga menyenangkan. Tentu saja, ada ringlight biar makin cetar pas dandan.





Highlight dari DoubleTree adalah area outdoor yang menyenangkan. Sore itu cerah, angin juga sepoi-sepoi, sehingga rasanya makin jauh aja dari Jakarta. Padahal, di baliknya langsung berbatasan dengan stasiun Gondangdia dan arena sana yang macet.









Sore hingga malam, aku pun menghabiskan waktu dengan menulis di restoran. Writing with a style, he-he.





Mungkin masih pandemi, sehingga suasananya sepi. Pun di restoran, enggak begitu banyak. Pihak hotel juga membatasi jarak antar-meja untuk physical distancing. Namun, yah, namanya juga outdoor, harus sediain Autan, he-he.





Kebayang, sih, bakalan seru kalau cabbana sudah diaktifin. Cuma, untuk sekadar chillin sore-sore, ini sudah cukup.




Makanan!

Karena booking tanpa breakfast, jadi enggak sempat nyobain breakfast. Oh ya, waktu itu sudah enggak ada buffet jadi untuk sarapan pun udah disiapin. Ke depannya mungkin harus dealing dengan ketiadaan buffet ini, padahal serunya menginap ya karena breakfast buffet ini.






Suasana restoran yang lumayan sepi di hari menginap.


Namun, sempat memesan beberapa makanan buat teman chilling selama nongkrong di restorannya.





Ini beef nachos. Enak dan enggak pedas. Untuk minumannya, cocktail Moon Fresh. Lupa, deh, campurannya apa aja tapi enggak begitu manis dan segar. Seingatku, sih, memang sengaja memesan yang sedikit asam.








Di malam kedua, nongkrong lagi di restorannya bareng Veve. Kita pun memesan pizza dan chicken wings. Untuk minumannya, sepertinya ini something vodka. Lupa, he-he.





Sebelum pulang, sempat makan siang dulu di restorannya. Aku memesan Thai Salad Beef. Asli, ini super duper enak. Asamnya enggak nyakitin, dan bikin segar. Beef-nya lumer di mulut. Enggak ada obat, nih.





Veve memesan Indonesian food alias Gado-gado yang ketika datang, ternyata porsinya jumbo banget, he-he. Suka sama saus kacangnya yang kental dan enggak bikin eneg.


Untuk pengalaman staycation ini, aku berterima kasih banget sama semua staf di DoubleTree by Hilton. Mereka super ramah dan baik, juga selalu memastikan kenyamanan pengunjung. Mereka sering checking through SMS soal kondisi kamar dan memastikan kamar sudah memenuhi protokol kesehatan yang berlaku. Seperti yang dibilang sebelumnya, dengan nama besar seharusnya sudah berbanding lurus dengan pelayanan dan safety yang ditawarkan.


One thing for sure, I’ll be back after the pandemic end because I want to throw my own tropical party at the cabbana, he-he.


XOXO,

iif




SHARE:
0 Comments

Having a Birthday Blast at Plataran Hutan Kota Jakarta

Leave a Comment



Super duper late post!


Di akhir Agustus 2020 kemarin, akhirnya menginjakkan kaki di usia 31. Rencananya, di hari itu seharusnya berada di Hobbiton, merayakan ulang tahun di kampung halaman bersama para hobbit kesayangan dan minum ale di Green Dragon. Apalah daya, rencana tinggal rencana. Melancong ke New Zealand pun akhirnya batal.


Beruntung, teman-teman masih bisa dibajak sehingga ulang tahun kali ini enggak sendirian. Hitung-hitung, sudah lama juga enggak ketemu. Mumpung PSBB sudah dilonggarin dan bisa kumpul-kumpul lagi, rasanya sudah senang.





Sebenarnya bukan tipe yang harus ada perayaan di ulang tahun. Kalau dulu lebih ke kumpul bareng teman-teman (my family didn’t celebrate birthday by the way), sekarang lebih ke memberi hadiah untuk diri sendiri.


Setelah 364 hari bekerja keras, setidaknya ada satu hari khusus yang diperuntukkan untuk bersenang-senang. Sekadar ucapan terima kasih buat diri sendiri karena sudah bertahan sejauh ini.


Tahun ini kondisinya serba baru. Serba membingungkan juga. But I realize one thing, how can we forgot to appreciate small things?


Salah satu small thing yang selama ini malah taken for granted yaitu spend some quality time with your friend.





Okay, enough with my blabbing.


So, what’s for the birthday?


Saatnya makan enak. Mumpung lagi in the mood enggak mau hitung-hitungan, kenapa enggak going extra miles sekalian? Berhubung momennya ada.


Jadi, makan di mana, nih?





Gue selalu pengin ke Hutan Kota tapi momennya belum ada yang pas. Giliran bisa, eh keburu PSBB. Jadi, sekarang momennya ada, kenapa enggak dimanfaatin?


Jadilah di hari itu kita makan enak di Plataran Tiga Dari. Sebenarnya lebih pengin di Pidari Lounge, sembari mengisi sore dan menunggu sunset, tapi full book di hari itu.


Plataran Tiga Dari jadi pilihan yang pas buat makan rame-rame, karena konsepnya sebagai family restaurant. Makanan khas Indonesia yang disajikan juga pas dengan konsep keluarga.


Plataran Tiga Dari memiliki konsep yang elegan dan terbuka, sehingga terkesan lowong. Cocok, sih, untuk meeting atau gathering. Di hari kita di sana, ada wedding ceremony bahkan. Dengan sisi dinding dari kaca dan bisa menikmati view di luar, jadinya makin merasa lapang.


Oh ya, untuk waktu makan dibatasi hanya dua jam. Sisanya, bisa jalan-jalan di Hutan Kota buat nurunin isi perut.


Makanan yang disajikan khas Indonesia, dengan rasa yang ramah di lidah, seakan bikin kita reminiscing memories lewat masakan rumahan. Lewat cerita dan tawa, rasanya kayak lagi ketemu di rumah aja sambil makan masakan mama.





Salah satu menu andalannya adalah Ayam Hutan Kota. Lihat taburan bubuk cabai itu? Enak banget, gila! No wonder kalau kita jadi norak alias melahapnya sampai tetes terakhir. Malah, saking enggak tahu dirinya, ditawarin bumbu tambahan dan langsung mengangguk, he-he.





Juga ada Bebek Panggang Aroma. Pribadi, bebek ini kadang hit kadang miss. Di sini, bebeknya hit. Enggak keras, empuk, dan makannya enggak capek.


Next, Gurame Telor Asin. Duh, kurang saung aja, nih, buat menikmati gurame, he-he.





Tahu Telor Asin juga enak, enggak begitu garing tapi crunchy.


Juga ada Tumis Daun Dewa. Sejujurnya aku tidak mengerti apa itu Daun Dewa, tapi berhubung enggak pahit, bisa diterima di lidah.




Not a birthday without a cake. Actually this is a surprise. Tiba-tiba dibawain kue kecil dengan lilin. Sebagai yang enggak begitu suka manis, kuenya cukup bisa ditolerir.





Next, mari menurunkan isi perut dengan jalan-jalan.


Setiap sudut Hutan Kota itu memang Instagramable banget. Ketika berada di sini dan melihat deretan gedung-gedung di Sudirman, rasanya kayak enggak di Jakarta.






Sore itu cukup ramai, terutama oleh keluarga, dengan banyaknya anak-anak yang bermain. Menyenangkan bisa menghabiskan waktu meski hanya beberapa jam saja, di ruang terbuka setelah berbulan-bulan terkurung di dalam rumah.






Waktu mau pulang, jadi ingat celetukan Rini. “Begini aja gue senang, enggak usah pergi jauh-jauh. Di sini aja udah bikin happy.”





Selama ini kita berpikir grande sampai lupa kalau hal dekat dan sederhana juga bisa bikin bahagia. Dan, pandemi mengajarkan itu.

 




SHARE:
0 Comments

Chillin' by the Lake: Cara Beda Nikmati Senja Sendu di Yogyakarta Bersama Nuvantara

Leave a Comment
Chillin' by the Lake

This is the highlight of the trip!

Yup, tujuan utama ke Yogya sebenarnya untuk ikut trip Chillin by the Lake yang diadakan oleh Nuvantara Indonesia. Awalnya karena beberapa selebgram yang aku follow ikut trip ini dan aku pun tergoda.

This is something new and fun to enjoy Yogya in different way.

Mandatory picture, sebelum berangkat


Karena sesuatu dan lain hal, termasuk cuaca di Februari yang belum menentu, jadi juga berangkat. Walau, akhirnya hanya berdua dengan Rini saja.

Fun with Camper Van



Lokasinya berada di Waduk Sermo. Temanku yang berasal dari Yogya cukup amaze, karena dia enggak menyangka Waduk Sermo bisa sebagus itu, he-he.

Nah, untuk trip ini kita bisa memilih dari tiga mobil combi yang tersedia. Pilihanku jatuh ke si hijau. Alasannya simple: that combi is very Instagramable and classic. LOL!

Alasan pilih hijau karena warnanya nyatu dengan alam.


Ternyata ini pilihan yang tepat, karena si hijau cocok dengan vibe misty dan syahdu yang dipersembahkan oleh Waduk Sermo di sore menjelang malam.

Selain di combi, kita juga bisa memesan tenda. Tergantung jumlah berapa orang yang ikut. Berhubung hanya berdua, jadinya cuma tambahan tenda free yang sudah include ketika memesan combi. Toh, hanya berdua ini.



Malam itu kami awalnya tidur di tenda, tapi sekitar jam 2 Rini minta pindah ke combi karena pengap dan panas. Jadinya, lanjut tidur di combi dengan pintu yang dibiarkan terbuka, sehingga angin malam yang membuai menjadi teman tidur.

Ngapain Aja?
Yup, ini yang jadi pertanyaan penting, ngapain aja selama di sana? jawabannya: foto-foto.



Kidding.

Basically, this is camping ground. Jadi jangan heran kalau banyak yang kemping di sepanjang sisi Waduk Sermo. Namun, Nuvantara memiliki spot khusus agak ke bawah dan dekat dengan waduk. Perfect place to catch sunrise and sunset, tho!

Ada banyak additional activities yang bisa ditambahin ketika booking. Yang paling populer, sih, mancing, kayaking, and movie under the stars.

Waktu itu, kami hanya kayaking dan memancing ala-ala (karena enggak pakai kail), he-he.

This is my first time of kayaking. Deg-degan, sih, he-he. Tadinya harusnya satu kayak berdua dengan Rini, tapi guide menawarkan apa mau satu kayak sendiri dan didampingi? Oh, tentu saja. They are my savior, karena kusangat tak bisa diandalkan dalam mengayuh.



Sore itu cerah, dengan matahari yang enggak menyorot terlalu tajam. Waduk Sermo dikeliling oleh hutan yang membuat suasana semakin syahdu.

Di tengah waduk, ingin rasanya melagukan Misty Mountain. Anggap saja ini pemanasan sebelum ke New Zealand, ya, he-he.



Sore itu rasanya berbeda. Kayak bukan di Yogya. I mean, look at this picture and you’ll realize that this is one peaceful afternoon.






Nah, kalau memesan Movie Under the Stars, tentunya bisa menghabiskan malam dengan menonton film. Beruntung juga, sih, enggak jadi pesan karena malam itu hujan. Lagi enak-enakan bakar-bakaran, eh hujan.

Soal makanan gimana? Kita dapat dua kali makan, dinner dan breakfast. Dinner berupa barbeque. Tentu saja, barbeque dan bonfire pas banget diadakan di bawah langit malam. Sementara untuk sarapan, menunya diserahkan kepada warga lokal.




Malam itu lumayan ramai. Sepertinya ada gathering, karena sampai jam 2 malam masih ribut dangdutan. Ya, namanya juga camping ground yang dibuka untuk umum, ya, jadi banyak orang. Apalagi di akhir pekan, di mana demand semakin tinggi, sih.

Setelah sunset

Ketika malam mulai turun, sesaat sebelum hujan

Kegiatan lainnya, mancing. Hanya mancing ala-ala karena aku jijik sama cacing, he-he. Jadi, pancing hanya dibutuhkan sebagai properti foto.



Dan, tentu saja, capture moment as much as you can.

Menatap waduk ditemani bebek, he-he






Memang, enggak banyak aktivitas fisik yang bisa dilakukan. Ya, namanya saja chillin’ by the Lake. Ya mostly di sana untuk chill out. Menenangkan diri dan pikiran. Paling cocok untuk yang suka melamun dan zone out seperti aku, he-he.



Oh ya, hal penting lain, gimana dengan kamar mandi? Yah, namnya juga camping ground ya. Butuh jalan kaki sekitar 5 menit menuju kamar mandi. Tempatnya gelap, sih, karena di area masuk ke camping ground ini. Ada 4 kamar mandi di dua tempat. Kita disaranin untuk yang lebih jauh, dan gelap, karena baru dan lebih bersih. Alhasil, malam itu mandi bareng Rini karena takut nungguin di luar gelap-gelapan, he-he.

Sunrise



Buat yang sekadar pengin menikmati momen saja, mungkin memesan tenda ke warlok sudah cukup. Namun, bagi yang pengin chillin with a style, let’s choose your favorite combi.

For more information, you can ask directly to @nuvantara and book your slot (of course, after this pandemic end, lol).



On a simple note, try this trip to relax your mind.

XOXO,
Iif
SHARE:
0 Comments
Previous PostOlder Posts Home
BLOG TEMPLATE CREATED BY pipdig