Chillin' by the Lake: Cara Beda Nikmati Senja Sendu di Yogyakarta Bersama Nuvantara

Leave a Comment
Chillin' by the Lake

This is the highlight of the trip!

Yup, tujuan utama ke Yogya sebenarnya untuk ikut trip Chillin by the Lake yang diadakan oleh Nuvantara Indonesia. Awalnya karena beberapa selebgram yang aku follow ikut trip ini dan aku pun tergoda.

This is something new and fun to enjoy Yogya in different way.

Mandatory picture, sebelum berangkat


Karena sesuatu dan lain hal, termasuk cuaca di Februari yang belum menentu, jadi juga berangkat. Walau, akhirnya hanya berdua dengan Rini saja.

Fun with Camper Van



Lokasinya berada di Waduk Sermo. Temanku yang berasal dari Yogya cukup amaze, karena dia enggak menyangka Waduk Sermo bisa sebagus itu, he-he.

Nah, untuk trip ini kita bisa memilih dari tiga mobil combi yang tersedia. Pilihanku jatuh ke si hijau. Alasannya simple: that combi is very Instagramable and classic. LOL!

Alasan pilih hijau karena warnanya nyatu dengan alam.


Ternyata ini pilihan yang tepat, karena si hijau cocok dengan vibe misty dan syahdu yang dipersembahkan oleh Waduk Sermo di sore menjelang malam.

Selain di combi, kita juga bisa memesan tenda. Tergantung jumlah berapa orang yang ikut. Berhubung hanya berdua, jadinya cuma tambahan tenda free yang sudah include ketika memesan combi. Toh, hanya berdua ini.



Malam itu kami awalnya tidur di tenda, tapi sekitar jam 2 Rini minta pindah ke combi karena pengap dan panas. Jadinya, lanjut tidur di combi dengan pintu yang dibiarkan terbuka, sehingga angin malam yang membuai menjadi teman tidur.

Ngapain Aja?
Yup, ini yang jadi pertanyaan penting, ngapain aja selama di sana? jawabannya: foto-foto.



Kidding.

Basically, this is camping ground. Jadi jangan heran kalau banyak yang kemping di sepanjang sisi Waduk Sermo. Namun, Nuvantara memiliki spot khusus agak ke bawah dan dekat dengan waduk. Perfect place to catch sunrise and sunset, tho!

Ada banyak additional activities yang bisa ditambahin ketika booking. Yang paling populer, sih, mancing, kayaking, and movie under the stars.

Waktu itu, kami hanya kayaking dan memancing ala-ala (karena enggak pakai kail), he-he.

This is my first time of kayaking. Deg-degan, sih, he-he. Tadinya harusnya satu kayak berdua dengan Rini, tapi guide menawarkan apa mau satu kayak sendiri dan didampingi? Oh, tentu saja. They are my savior, karena kusangat tak bisa diandalkan dalam mengayuh.



Sore itu cerah, dengan matahari yang enggak menyorot terlalu tajam. Waduk Sermo dikeliling oleh hutan yang membuat suasana semakin syahdu.

Di tengah waduk, ingin rasanya melagukan Misty Mountain. Anggap saja ini pemanasan sebelum ke New Zealand, ya, he-he.



Sore itu rasanya berbeda. Kayak bukan di Yogya. I mean, look at this picture and you’ll realize that this is one peaceful afternoon.






Nah, kalau memesan Movie Under the Stars, tentunya bisa menghabiskan malam dengan menonton film. Beruntung juga, sih, enggak jadi pesan karena malam itu hujan. Lagi enak-enakan bakar-bakaran, eh hujan.

Soal makanan gimana? Kita dapat dua kali makan, dinner dan breakfast. Dinner berupa barbeque. Tentu saja, barbeque dan bonfire pas banget diadakan di bawah langit malam. Sementara untuk sarapan, menunya diserahkan kepada warga lokal.




Malam itu lumayan ramai. Sepertinya ada gathering, karena sampai jam 2 malam masih ribut dangdutan. Ya, namanya juga camping ground yang dibuka untuk umum, ya, jadi banyak orang. Apalagi di akhir pekan, di mana demand semakin tinggi, sih.

Setelah sunset

Ketika malam mulai turun, sesaat sebelum hujan

Kegiatan lainnya, mancing. Hanya mancing ala-ala karena aku jijik sama cacing, he-he. Jadi, pancing hanya dibutuhkan sebagai properti foto.



Dan, tentu saja, capture moment as much as you can.

Menatap waduk ditemani bebek, he-he






Memang, enggak banyak aktivitas fisik yang bisa dilakukan. Ya, namanya saja chillin’ by the Lake. Ya mostly di sana untuk chill out. Menenangkan diri dan pikiran. Paling cocok untuk yang suka melamun dan zone out seperti aku, he-he.



Oh ya, hal penting lain, gimana dengan kamar mandi? Yah, namnya juga camping ground ya. Butuh jalan kaki sekitar 5 menit menuju kamar mandi. Tempatnya gelap, sih, karena di area masuk ke camping ground ini. Ada 4 kamar mandi di dua tempat. Kita disaranin untuk yang lebih jauh, dan gelap, karena baru dan lebih bersih. Alhasil, malam itu mandi bareng Rini karena takut nungguin di luar gelap-gelapan, he-he.

Sunrise



Buat yang sekadar pengin menikmati momen saja, mungkin memesan tenda ke warlok sudah cukup. Namun, bagi yang pengin chillin with a style, let’s choose your favorite combi.

For more information, you can ask directly to @nuvantara and book your slot (of course, after this pandemic end, lol).



On a simple note, try this trip to relax your mind.

XOXO,
Iif
SHARE:
0 Comments

Kata Kita, Chill Out Place yang Menggoyang Lidah di Yogyakarta

Leave a Comment

Aku memang enggak picky kalau soal makanan. Mau makan di mana pun, boleh-boleh aja. Namun, pastinya akan bete kalau udah jauh-jauh mengunjungi suatu tempat ternyata makanannya enggak enak. Apalagi, banyak tempat yang ngeklaim dirinya sangat Instagramable, tapi rasa makanannya mengajak berantem di lidah.

Rekomendasi itu sangat membantu banget, ya. Thanks to @depepedia akhirnya menemukan satu lagi tempat yang enggak hanya memanjakan mata, tapi juga lidah. Café yang didominasi warna oranye dan putih ini cocok untuk tempat mengisi perut saat makan siang, sekaligus merencanakan ingin ke mana lagi setelah ini.

Kata Kita, café kecil dengan makanan juara


Hari terakhir di Yogya, kamu pun menghabiskan makan siang di sini. Apa daya, kami terjebak hujan sehingga lebih lama berada di sini. Beruntung Kata Kita enggak terlalu ramai, sehingga bisa berteduh untuk beberapa saat.

Termasuk, foto-foto. Bahkan buku menunya aja lucu, he-he.



Namun, yang juara dari café ini adalah makanannya. Rasanya benar-benar enak. Kalau dibandingkan dengan RM Demangan, aku bingung memutuskan mana yang enak, he-he.

Saat itu, aku memesan Beef Cheek Sambal Ijo. Beef-nya lembut, enggak butuh usaha untuk mengunyahnya. Sebagai orang yang malas berurusan dengan beef karena kadang suka keras, kali ini aku bisa menikmati beef dalam damai.

Pedasnya nampol


Namun oh namun, sambal ijo-nya pedas banget. Salah sendiri, sih, enggak minta sedang aja. Apalagi sekarang, kadar toleransi pedasku sudah mulai berkurang, sehingga jadi terbata-bata. Bagi penyuka pedas, ini juara, sih.

Soto Tangkarnya segar, enggak bikin eneg

Rini memesan Soto Tangkar. Konon kabarnya, ini yang paling direkomendasikan di sini. Rasanya enak sih, santannya pas, enggak bikin eneg.

Sebenarnya, bingung mau pesan apa. Soalnya, dilihat dari foto di buku menunya, semuanya terlihat menggugah selera. Apalagi saat itu lagi lapar-laparnya, jadi semuanya terlihat menggoda, he-he.

Warnanya serasi dengan dekorasi cafe

Cubangs!!!


Sebagai pendamping makanan, aku memesan Yakul on Top. Jujur saja, memesan ini karena tertarik dengan fotonya. Ternyata, lucu banget sumpah, enggak bohong, he-he. Rasanya manis, sodanya enggak begitu menyengat. Aku, sih, enggak suka Yakult, tapi di sini masih tolerable, sih.

Sebagai bucin boba, I approve!

Selain itu, kami juga memesan dessert, Milk Tea Pannacota. Tentu saja, sebagai bucinnya boba, aku enggak mau ketinggalan. Bobanya enak, enggak liat tapi juga enggak encer banget. Mengunyahnya pas, enggak butuh effort, tapi sensasi makan boba dapat. Sudah gitu, ukurannya enggak segede boba pada umumnya, jadi lebih enak ngunyahnya. Sedangkan pannacota-nya sih, enak. Namun, pannacota terenak di lidahku tetap bikinannya mantan bosku dulu, Mbak Marti, he-he.

Setidaknya, Kata Kita berhasil mematahkan stigma kalau café Instagramable enggak selamanya rasanya dipertanyakan.

Dominasi oranye putih yang cantik


Ketika masuk ke dalam café ini, pasti langsung tertarik dengan bagian dinding ini. Sesuai namanya, kata-kata di papan ini bisa disusun. Awalnya berantakan, karena ada anak-anak yang mainin. Lalu, sama petugasnya dibenerin jadi kata yang bisa dibaca.



Rasanya enggak afdhol kalau enggak foto di sini, ya.



Selain dinding, dekorasi café ini didominasi oranye dan putih. Setelah dua café sebelumnya didominasi pink, kali ini segar banget lihat oranye.


Cafenya memanjang dan terdiri dari dua lantai. Lantai dua lebih Instagramable, sih. Namun, enggak sempat foto banyak di sana.

Buat persinggahan sementara selama di Yogya, yuk mampir ke Kata Kita.

XOXO,
Iif
SHARE:
0 Comments

RM Demangan Yogyakarta, Makanan Rumahan dengan Vibe Kekinian

Leave a Comment





Makanan rumahan memang enggak pernah salah. Selain mengenyangkan, juga bikin kangen karena selalu teringat akan rumah. Itulah yang dirasakan ketika menghabiskan waktu makan siang di RM Demangan. Terletak di Jalan Demangan, tadinya ini adalah rumah makan biasa. Makanya, menu yang disajikan kebanyakan memang menu rumahan. Namun, setelah rebranding, RM Demangan menjelma menjadi salah satu tempat hits di Yogyakarta.

Walaupun dengan interior dan vibe kekinian, tetap saja kesan homey yang hangat terasa kental ketika berada di sini.

Siang itu sepi, sehingga seolah-olah berperan jadi penguasa RM Demangan, he-he. Kesan pertama yang ditangkap ketika datang, it’s so pinky, ya. Pas banget dengan outfitku saat itu, pink in red. Jadi, selaras dengan konsep rumah makan ini.

Pink Everywhere


Waktu kecil dulu, aku suka pink. Hampir semua bajuku berwarna pink. Centil memang, tapi pink itu sangat menyenangkan. Selama menjalani kehidupan kanak-kanak, bajuku memang berwarna-warni. Ceria bangetlah pokoknya.

Beranjak dewasa, aku pun melupakan warna-warna ceria itu. Entah gimana awalnya sehingga hidup yang tadinya ceria, berubah jadi monokrom.

Di liburan kali ini, aku kembali ingin tampil ceria. Pun beberapa bulan terakhir, aku kembali menampilkan warna setelah bertahun-tahun berada dalam hidup monokrom.




Sehingga, ketika menginjakkan kaki di RM Demangan, aku merasa senang. It’s pink. It’s colorful. It’s a new me.



Bercandaanku dan Rini menyebut tema liburan kali ini ‘Lucedale’ karena tempat yang kami kunjungi milik selebgram favoritku itu. Kurang nginap di LOKAL aja, sih, ini biar total, he-he.

Sama seperti TUJUAN, RM Demangan juga sangat instagramable. Aku pernah baca di Instagram Claradevi bahwa tujuannya rebranding RM Demangan memang untuk membuat tempat ini jadi lebih menarik. Detail yang sangat diperhatikan, warna-warna yang pas untuk menghias laman Instagram, membuat tempat yang tadinya hanya rumah makan biasa, jadi sangat kekinian.










Meski kekinian dan penyembah konten pasti suka dengan desainnya, mereka yang ingin santai atau sekadar makan siang dengan menu rumahan pun akan menyukai tempat ini.

Makanan yang Menggugah Lidah




Seringkali banyak tempat yang begitu memerhatikan desain sehingga rasa makanan jadi terabaikan. Padahal, di bisnis hospitality seperti ini, rasa nomor satu. Di RM Demangan, semua aspek terpenuhi. Panca indra dipuaskan. View menarik yang memanjakan mata. Rasa enak yang menggugah lidah. Alunan ambience music dan jazz yang meninabobokan. Aroma menenangkan. Dan perasaan hangat ketika berada di sini.

Aku memesan Udang Sambal Matah. Hmm … sambal matahnya gila. Jarang-jarang ada sambal matah yang membuat merem melek saking enaknya, tapi ini pas di lidah. Pedas, tapi juga segar. Udangnya juga empuk. Namun, yang paling pas itu porsinya. Enggak sedikit, tapi juga enggak kebanyakan dan bikin begah.




Rini memesan Paru Sambal Ijo. Aku enggak suka paru, jadi enggak nyoba. Namun, sambal ijonya juara. Tahu gitu, tadi aku pesan sambal ijo aja karena sambal ijo di sini enak banget.


Sebagai minuman, aku memesan Es Red Velvet. Enggak nyambung memang, tapi biarin. Sebenarnya rasanya biasa aja, tapi aku sangat puas dengan makanannya jadi enggak kecewa.


Udah gitu harganya murah. Seorang cuma sektiar Rp50 ribuan. Ya, kalau dibanding dengan harga di café sejenis di Jakarta, ya, he-he.

Terima kasih RM Demangan yang sudah mengembalikan ingatanku ke masa kecil. Nanti, aku akan kembali lagi.

xoxo
iif
SHARE:
0 Comments

#SampaidiTUJUAN Coffee Shop Nyaman yang Bikin Betah di Yogyakarta

Leave a Comment



Biasanya, setiap kali ke Yogya lebih suka wisata budaya dan alam. Namun, kali ini mencoba untuk wisata kuliner, tapi dari café ke café. Tentu saja, pilihan pertama dan utama adalah TUJUAN. Sekian kali ke Jogja, belum berkesempatan ke sini.

Baru kali ini benar-benar perhatiin daerah Tirtodipuran. Turns out, aku suka daerah ini. Chill meski festive dengan deretan café. Ketika jalan kaki di sana, serasa sedang di Seminyak karena ada café-café dan toko-toko kecil, termasuk tattoo parlour. Malah, ketika jalan kaki dari Tujuan ke Warung Bu Ageng, melewati galeri kecil dan sedang ada pameran foto di sana.

Kembali ke Tujuan



Ngomongin soal coffee shop, sih, yang kayak gini juga banyak di Jakarta. Namun, vibe yang diberikan tempat ini terasa beda. Sesuai dengan namanya, mungkin ketika kita #sampaidiTUJUAN saatnya untuk rehat sejenak. I can imagine myself being stuck di sini sambil menulis.

Pertama kali datang ke sana, cafenya ramai tapi enggak ribut. Pun di kali kedua. Semua orang saling berbicara dengan nada rendah, jadi enggak merasa terganggu. Di kedatangan pertama masih sedikit lowong sehingga bebas foto-foto.




Memang, ya, secara yang punya selebgram hits, setiap sudutnya menawarkan spot foto yang menarik. Kemana pun menoleh, ketemu spot menarik untuk diabadikan. Coffee shop ini colorful, sehingga kesannya vibrant tapi tetap hangat.




Penataan interior juga menarik. Tentu saja, yang menjadi perhatian adalah deretan lampu bulat unik yang membuat tempat ini jadi lebih artistik. Ada meja panjang yang cocok sebagai tempat bekerja atau sofa empuk untuk bercengkrama bersama teman-teman.







Area outdoor juga menarik. Ada, sih, satu spot yang sangat hits tapi sayangnya dua kali ke sana, semuanya ditempati orang lain.








Saran untuk datang ke sini, pakai outfit yang vibrant biar selaras dengan vibe coffee shop ini.






Makanan yang Juara



Namanya coffee shop, seharusnya memesan kopi. Namun, karena sedang mengurangi kopi akhirnya memutuskan minum yang lain saja. Aku memesan Jiff Regal Shake. Kebetulan aku sedang terobsesi dengan semua hal berbau Regal, dan Regal di sini juara.




Untungnya, aku juga sempat mencicipi Tujuan Latte milik Rini. Sedikit strong, cocok dengan preferensiku.

Di kedatangan kedua, aku memesan Avocado Coffee. Enggak tahan juga untuk enggak ngopi, he-he. Biasanya aku enggak suka alpukat, tapi Avocado Coffee di sini enak. Enggak begitu manis sehingga menyatu dengan kopi yang strong.

Gimana dengan makanannya? Kami memesan Nasi Goreng Cumi Hitam. Enak, sih, tapi terlalu kering dan sedikit kosong.

Salah satu andalan di sini adalah chiffon cake. Enak banget, asli. Namun, saat itu lagi kenyang-kenyangnya jadi enggak dihabisin.

Overall, TUJUAN menjadi tempat favoritku di Yogya. Seandainya coffee shop ini buka di Jakarta, pasti sudah menjadi pengunjung tetap.

Sampai bertemu lagi di TUJUAN.
xoxo,
Iif
SHARE:
0 Comments
Previous PostOlder Posts Home
BLOG TEMPLATE CREATED BY pipdig