Ifnur Hikmah

Featured Post

Resign: Menutup Satu Episode Kehidupan

Saturday, May 26, 2018

Resign: Menutup Satu Episode Kehidupan
May 26, 20180 Comments

Personal integrity. Kamu dan aku rada mirip. Uang dan posisi itu nomor kesekian. Harus ada yang memotivasi lebiih dari itu. Dan kalau emang udah nemuin ‘rumah’ kayaknya kalau harus pergi itu kayak diusir, padahal ya kita sendiri yang mau pergi.” - Mbak Marti.

Pada satu Juli nanti, tepat lima tahun saya bekerja di Kompas Gramedia. Seharusnya, karena sebulan sebelum merayakan ulang tahun ke-lima, saya memutuskan untuk pergi. Tentu, bukan keputusan yang mudah ketika akhirnya memutuskan untuk mengakhiri petualangan di tempat yang sudah memberikan kenyamanan. Saking nyamannya, saya tidak pernah memikirkan untuk pergi.

Tapi, hidup selalu bergerak maju sehingga kita tidak bisa selamanya berdiam di suatu tempat, sekalipun tempat itu adalah yang kita rasa sebagai tempat terbaik. Hal inilah yang akhirnya saya alami, meskipun untuk melangkah keluar dari tempat ini, rasanya sangat berat.

Saya mengawali postingan ini dengan sebuah kalimat dari mentor terbaik saya di majalah KaWanku. Mbak Marti berkata seperti itu ketika saya mengaku akan pindah kerja. She knows me since five years ago. Bahkan, dialah yang menginterview saya kala itu. Dia sudah bersama saya sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di lantai 14 Graha Mandiri, meski dia tidak bersama saya ketika saya keluar dari lantai 5 Gedung Gramedia Majalah-tapi mbak Marti menawarkan bantuan, he-he.

Kalimat itu benar. Jika saya memikirkan uang dan posisi, saya sudah lama pergi. Tapi, ada sesuatu yang mengikat saya untuk bertahan. Saya tidak menyangka keterikatan emosionalnya begitu tinggi, baik dulu saat masih bernama majalah KaWanku, hingga sekarang, bertransformasi menjadi Cewekbanget.id.

Let me teel you my story. Looking back to one afternoon in the middle of July, 2017. Saat itu saya berada di ruangan mas Devy. Keadaannya, saat itu saya sendirian. Sendirian dalam artian, semua mentor dan teman yang membimbing saya sejak saya masuk ke kantor ini pergi di saat yang bersamaan, meninggalkan saya dengan tanggung jawab baru. Mas Devy bertanya, kenapa kamu tinggal?

Kenapa saya tinggal?

Mari kita kembali ke masa lima tahun lalu. Seperti yang saya tulis di tulisan ini, ada masanya saya merasa hilang dan tidak tahu apa yang sebenarnya saya cari. I don’t even know who I am. Saya selalu dipenuhi pikiran negatif dan ketakutan. Salah satu momen yang membuat saya keluar dari masa-masa itu adalah dengan menemukan lingkungan baru.


Di lingkungan baru ini, saya bertemu orang dengan pemikiran positif. Orang yang tahu about their purpose in life. Orang yang tidak ragu untuk beropini, sekalipun mungkin opininya itu bertentangan dengan apa yang disukai oleh umum. Orang yang berani menunjukkan siapa dirinya, sekalipun mungkin tidak semua orang bisa menerimanya. Tanpa saya sadari, pikiran saya terbuka. Saya menyadari apa yang salah dengan hidup saya. Perlahan, mereka membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang. Saya pun sering berdialog dengan diri sendiri hingga akhirnya, perlahan tapi pasti, saya paham siapa diri saya yang sebenarnya. Perlahan juga, saya mulai berani beropini hingga akhirnya sekarang saya tidak lagi seperti tikus kecemplung got yang kedinginaan jadi bisanya hanya mojok.

I finally found my voice. And the most important thing, I finally found my self.

Balik lagi ke pertanyaan dari Mas Devy saat itu, apa yang membuat saya tinggal ketika ‘kakak-kakak’ saya pergi?

Jawabannya adalah karena saya masih sayang dengan tempat ini. Saya masih berharap tempat ini bisa terus menempa diri saya agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan wishful thinking saya adalah saya ingin berbagi agar orang-orang di luar sana, yang pernah merasa seperti saya--clueless, have low self esteem, merasa berada di tengah kegelapan, takut akan masa depan, tidak tahu akan siapa dirinya dan tidak tahu cara mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya--agar menemukan suara mereka dan nantinya, menemukan tempat mereka di dunia ini.

Saya tidak ingin egois. Tempat ini memberikan kesempatan bagi saya untuk berubah menjadi lebih baik lagi, dan sudah semestinya saya berbagi hal itu. Karena itulah, saya sangat menyayangi Cewekbanget.id. Ini tempat saya bersuara.

Lalu, kenapa akhirnya memutuskan untuk pergi?

Looking forward ke masa hampir satu tahun kemudian, Mas Devy kembali mempertanyakan hal yang sama. Apakah tanggung jawab itu sudah selesai? My another boss, Mas Didi, juga mempertanyakan hal yang sama, apakah sudah tidak ada lagi yang ingin saya suarakan?

Jawabannya, ada.

Lalu? Kenapa akhirnya pergi?

Because, for the first time in my life, I want to put myself first. Selama ini, saya seringkali mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang apa yang diinginkan oleh diri saya sendiri. Jadi, ketika di awal tahun saya tanpa sengaja melihat kembali daftar impian lama yang saya buat dan menyadari, sudah saatnya untuk mewujudkan impian yang tertunda itu. Dan kesempatan itu datang.

Saya memiliki target untuk pindah di 2015, tapi setiap kali saya akan pergi, ada tantangan baru, juga tanggung jawab baru (termasuk dalam hal pribadi) yang membuat saya memutuskan untuk stay.
Tiga tahun kemudian, kesempatan itu datang. Kesempatan untuk memenuhi impian yang sudah menghuni bucket list saja sejak lima tahun lalu.

Jadi, saya tidak menemukan alasan untuk menghindar. Karena dengan menghindar, saya hanya akan kembali menjadi diri saya yang dulu--takut untuk memulai sesuatu yang baru dan bertahan di kenyamanan.

Balik lagi ke omongan Mbak Marti yang saya kutip di pembuka tulisan ini. Ada banyak pertimbangan yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk pergi. Uang dan posisi bukanlah hal utama, meski pertimbangan itu terlalu personal untuk saya bagi di sini. Ketika akhirnya keputusan itu sudah saya ambil, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, saya masih menyayangi Cewekbanget.id. Namun di sisi lain, ada tujuan lain yang harus saya raih.

Meminjam istilah Mas Devy, ‘ini tuh sama kayak harus berpisah dengan orang yang kamu sayang karena beda agama. Sama-sama tahu masih sayang tapi sama-sama tahu juga, hubungan ini enggak bisa dibawa ke mana-mana.”

It’s time to move on, but why it feels so hard?

Selama satu bulan terakhir saya seolah berada di awang-awang. Setiap kali memasuki ruangan, saya berpikir, is it real?

Semakin mendekati hari akhir, semakin saya merasa berada di dalam sebuah limbo. Dan ketika hari itu tiba, ketika saya melangkahkan kaki keluar kantor untuk terakhir kalinya, di satu sisi saya merasa berat, tapi di sisi lain saya merasa bersemangat. Berat karena itu berarti saya harus menutup satu episode panjang kehidupan. Dan bersemangat karena saya akan mulai menulis episode baru dalam kehidupan.

Mas Devy pernah bertanya, apakah kamu akan bahagia di tempat baru? I don’t know what future holds for me but one thing for sure, whatever happen, I’m ready to take a risk because I have responsibility for every choice I made.

Jadi, saya ingin berterima kasih kepada Kompas Gramedia Majalah, Majalah KaWanku dan Cewekbanget.id yang telah menempa saya selama lima tahun terakhir ini, membentuk saya dari a-clueless-girl-who-doesn’t-know-who-she-is menjadi seseorang yang *insya Allah* yakin dengan hidup yang dijalaninya.

Pada akhirnya, saya akan menutup episode kehidupan yang ini.
Reading Time:

Sunday, April 29, 2018

6 Hal yang Saya Pelajari dari Pengalaman Pertama Solo Trip
April 29, 20180 Comments

(Me @ Casa Manila)
Solo trip? Sedikitpun tidak pernah terlintas di benak saya untuk melakukan perjalanan seorang diri. Saya memang tidak masalah ke mana-mana sendirian, tapi masih dalam lingkup yang mudah dijangkau. Sedangkan untuk liburan? Selama ini, keinginan itu masih ada di angan-angan semata.
Saya akui saya tipe traveler malas. Senang liburan, tapi hanya sebagai pengikut. Alias membiarkan orang lain membuat itinerary dan saya tinggal angkat koper dan bawa badan saja.
Juga, sepertinya saya lebih sering bepergian sebagai bagian dari pekerjaan, dan itu justru membuat saya jauh lebih malas lagi karena semuanya sudah diatur. Paling hanya ada satu hari kosong, dan itu pun seringkali saya isi dengan bepergian impulsif.
Keinginan untuk menonton Ed Sheeran akhirnya membuat saya terpaksa melakukan solo trip sendiri. Tidak jauh-jauh, hanya ke Manila. Namun, Manila ternyata bukan destinasi liburan favorit, sehingga tidak jarang saya menerima kernyitan dahi dari orang-orang yang tahu saya akan ke sana.
Namun, pengalaman ini memberikan banyak pelajaran untuk saya. Jika disimpulkan, berikut enam hal yang saya pelajadi dari pengalaman pertama solo trip.

Ternyata saya sangat clumsy

(Gereja San Agustin)
Katanya, kamu akan benar-benar mengenal watak seseorang lewat traveling. Salah satu teman saya, Ossy, yang Agustus 2017 lalu liburan bersama saya ke Agustus pernah berkata, “Ossy kira Kak If itu orangnya cool, tough, gitu. Tahunya clumsy banget.”
Well, I don’t know that I’m clumsy actually. Namun saya akui di beberapa kesempatan saya memang ceroboh, tapi selalu ada yang mengingatkan saya. Di solo trip ini, tidak ada seorang pun yang mengingatkan saya. Hal inilah yang akhirnya menyadarkan saya untuk lebih berhati-hati.
Berikut beberapa kecerobohan yang saya lakukan dan jangan diikuti.
-                      Begitu mendarat di Ninoy Aquino, saya membeli SIM Card Filipina untuk mempermudah komunikasi. Setelah semuanya beres, saya langsung pergi dari counter. Sekitar sepuluh langkah, saya tersadar. ‘Where’s my bag?’ Setelah celingak celinguk, ternyata koper saya ketinggalan di counter SIM Card. Belum lima menit di negara orang, saya sudah berbuat hal konyol.
-                      Saya sering jatuh karena sepertinya ada yang salah dengan kinetik saya. Bahkan, dengan memakai flat shoes dan berjalan di lantai yang rata saja, saya bisa jatuh. Jadi, teman-teman saya bertaruh, berapa kali saya akan terjatuh? Yang saya ingat hanya dua, di lantai dua gereja San Agustin. Namanya bangunan tua, jadi lantainya licin, dan tiba-tiba.. I fell, haha. Yang kedua terjadi di Sky Ranch, Tagaytay. Ketika asyik memotret, enggak sadar ada tangga sehingga terjatuh.
-                      Di SM By the Bay. Saya akan naik kapal kecil untuk menikmati sunset ketika salah satu petugas yang memeriksa karcis mengingatkan untuk, ‘ma’am, please keep your money well. You never know what kind of people you’ll met at the ship,’ sambil melirik tas saya. Saat itu saya memakai tas yang hanya memiliki satu kancing saja, sehingga cenderung terbuka. Well, bukan pilihan tas yang tepat untuk liburan.
Dalam hal ini, saya masih beruntung tingkat keteledoran saya masih dalam tahap bearable, dan masih ada orang yang berbaik hati mengingatkan.

Pelupa parah


(SM By the Bay
Saya memang pelupa, dan sepertinya saya semakin menyadari kalau saya pelupa setelah berlibur sendirian. Ditambah dengan sikap saya yang clumsy, sehingga saya sering melupakan hal yang penting. Berikut beberapa hal yang saya ingat, terkait dengan sifat pelupa, dan sepertinya banyak hal lain yang saya alami, tapi berhubung saya pelupa, saya hanya ingat beberapa.
-                      Saya selesai makan di McDonald dekat hotel ketika Grab pesanan saya datang dan saya langsung pergi, sama sekali tidak ingat meninggalkan handphone di atas meja. Beruntung petugas McDo berbaik hati mengejar saya, sebelum saya pergi.
-                      Lupa membawa kunci hotel, sampai-sampai petugasnya hanya ketawa setiap kali saya minta dibukain pintu kamar.
-                      Lupa membawa makanan yang sudah dibeli dan dibayar. Well, kebiasaan di Jakarta dibawa-bawa.
Untungnya, saya tidak meninggalkan barang apapun di kamar hotel, karena biasanya selalu saja ada yang ketinggalan. Entah charger, lipstik, skincare, anything.

Always have plan B

(Sky Eye at Sky Ranch, Tagaytay

Di hari ketiga, rencananya saya akan mengikuti half-day trip ke Corregidor Island. Saya sudah booking trip ini sejak jauh-jauh hari. Untuk ikutan, saya harus tiba di pelabuhan maksimal pukul 7 pagi. Saya sudah bersiap-siap, tapi sayangnya, sehari sebelumnya, saya demam. Malam sebelumnya, saya minum obat untuk meredakan demam dan flu. Saya sempat terbangun karena alarm jam lima pagi, tapi pengaruh obat masih sangat kuat dan hidung super beler sehingga saya kembali tertidur. Bangun-bangun, ternyata sudah pukul tujuh kurang 15 menit. Saya mandi dan siap-siap dengan terburu-buru. Setengah jam kemudian, saya sampai di pelabuhan, but I didn’t make it.
Seharusnya saya kembali ke hotel untuk beristirahat. Tapi, saya malah nekat membuat plan B dalam waktu super mendadak. Akhirnya, saya pergi ke Tagaytay. Cukup jauh, sekitar dua jam perjalanan normal lewat skyway dari Manila.
Pelajarannya, sebaiknya selalu sediakan Plan B sejak jauh-jauh hari, sehingga ketika terjadi sesuatu dan rencana awal tidak terlaksana, jadinya enggak perlu panik karena ada plan B. Namun, saya tidak memiliki Plan B sehingga terpaksa membuat rencana dadakan. Dan namanya juga rencana dadakan, tentu saja ada banyak rintangan.
Rintangan pertama, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan di Tagaytay. Ditambah dengan kondisi tubuh yang tidak 100% fit.

Implusive will lead you somewhere

(Bonifacio Global City, Taguig City)

Karena ditinggal oleh kapal yang seharusnya membawa saya ke Corregidor, saya akhirnya memesan Grab ke Tagaytay. Selama di Manila, saya memanfaatkan Grab sebagai sarana transportasi utama. Perjalanan dari Manila ke Tagaytay lancar, sepi, dengan lahan kosong lalu tiba-tiba ada Jollibee lalu lahan kosong lagi, lalu Jollibee lagi. Begitu seterusnya. Membuat saya berpikir betapa menyenangkannya road trip di sini—tentunya dengan hidung yang tidak meler.
Begitu sampai di Sky Ranch, sopir Grab bertanya bagaimana saya akan kembali ke Manila nanti? Tidak ada Grab. Tidak ada taksi. Dan saya hanya melongo.
Dengan kondisi tubuh yang terbatas, saya tidak banyak bermain di Tagaytay. Saya akhirnya pulang naik bis, melewati jalur lain yang jalanannya kurang lebih seperti Jalanan di Lenteng Agung atau Pasar Minggu, dan berakhir di terminal bus Pasay yang membuat saya seperti berada di Tanah Abang. Saya pun melihat sisi lain Manila yang tidak saya lihat di hari-hari sebelumnya. Padat dan ruwet.

You have to manage your money well

(MoA Eye at SM By the Bay

Saya memang boros. Namun ketika liburan, saya harus lebih berhati-hati lagi dalam mengatur keuangan kalau tidak ingin kebablasan, dan saya rasa kemarin cukup kebablasan—terbukti dengan tagihan yang menumpuk.
I’m not fancy traveler but I also don’t want to be ‘susah’ traveler. Come on, sehari-hari hidup ini sudah susah, masa iya pas liburan juga harus susah? Untuk makan, saya all out. Untuk transport, saya manja. Untuk mencoba suatu arena atau masuk ke suatu tempat penting, saya tidak berpikir dua kali. Untuk belanja? Saya kalap. Hahaha.
Next time kalau mau liburan lagi, harus lebih detail dalam membuat perencanaan.

Now I know how important it is to talk to yourself


Kesimpulan dari perjalanan ini adalah, saya jadi lebih kenal dengan diri sendiri. Klise memang, karena setiap orang yang bepergian sendiri, pasti akan bicara hal yang sama. Namun ini benar. Solo trip menantang saya membuat rencana sendiri, dengan memikirkan kebutuhan sendiri, dan untuk itu, saya harus berbincang dengan diri sendiri akan apa yang saya inginkan.
Solo trip juga memungkinkan kita memiliki banyak waktu sendirian. Pertama kali saya tersadar itu ketika melewati McKinley Road. Saya langsung jatuh cinta dengan tempat itu. Kalau suatu hari nanti saya membuat novel dengan latar belakang Manila, tokohnya harus tinggal di sana.
Balik lagi ke poin semula. Saat itu sudah sore dan saya melewati McKinley Road yang lengang, dan perasaan tenang itu tiba-tiba menyelimuti saya. Sepenjang perjalanan, saya bercakap-cakap dengan diri sendiri. Begitu juga halnya dengan perjalanan tiga jam lebih Tagaytay – Manila. Di tengah kepala yang berdentum hebat, saya jadi memikirkan kehidupan saya.
And it’s fun.
It’s amazing.
Salah satu teman saya, Ira, pernah bertanya, ‘apa mau ngelakuin itu lagi?’ dan maksudnya adalah, solo trip. Jawaban saya, iya. Tidak usah yang jauh-jauh karena menjelang akhir tahun ini, saya sudah menyusun rencana lain.
Here’s on my next list: Penang.

XOXO
iif
Reading Time:

Friday, April 20, 2018

Ed Sheeran Divide Tour in Manila: Screaming. Singing. Dancing. Smiling. Laughing. Crying.
April 20, 20180 Comments

Satu minggu berlalu setelah saya menyaksikan langsung konser Ed Sheeran, dan saya masih belum bisa move on. Sepanjang hari, Spotify saya memutar lagu Ed Sheeran. Setiap kali berkumandang lagu yang minggu lalu saya saksikan di Manila, euphoria konser kembali terasa.
Mengunjungi konser Ed Sheeran di negara orang masih terasa surreal. Karena saya tahu saya tidak seberani itu untuk pergi sendiri. Terlebih, ke Manila, kota yang setiap kali ada yang mendengar saya ingin ke Manila, selalu membalas dengan pertanyaan, “Ngapain ke sana? Emang di sana bagus buat liburan? Kenapa enggak Bangkok aja?”
Well, Manila memang bukan kota yang terkenal untuk liburan karena mindset orang-orang adalah sama-aja-kayak-Jakarta. Namun, saya tidak punya pilihan lain karena hanya di sanalah harapan terakhir saya bertemu Ed Sheeran.
Saya menginjakkan kaki di NInoy Aquino International Airport pukul lima lewat waktu setempat. Terlambat setengah jam karena pesawat yang saya tumpangi telat berangkat. Begitu sampai di airport dan membeli simcard lokal, saya langsung menghubungi Shelly untuk memberitahu kedatangan saya.
Dari airport saya menuju hotel yang ternyata hanya berjarak 15 menit saja dari airport. Lucky me, he-he. Shelly pun berjanji akan menjemput saya malam nanti sekitar jam delapan, sepulang dia dari gereja. Namun ternyata Shelly harus mengurus anaknya dulu sehingga dia baru sampai di hotel saya hampir jam sembilan. Empat tahun tidak bertemu, akhirnya kami bertemu kembali.
Shelly dan suaminya membawa saya ke SM Mall of Asia yang ternyata… hanya berjarak sepuluh menit dari hotel. Kami makan malam di Jollibee (permintaan saya karena saya suka iklannya Jollibee, he-he). Kami tidak lama-lama karena mall itu tutup jam sepuluh (iya, sama kayak Jakarta). Namun, sebelum pulang, suaminya Shelly mengajak saya ke MoA Concert Ground. Alasannya, biar saya ada gambaran besok mau ke mana.
Mereka dengan baik hati menunjukkan di mana sebaiknya saya turun Grab lalu harus berjalan ke arah mana. Berkali-kali mereka mewanti-wanti untuk, ‘kalau bingung, tanya ke sekuriti aja, jangan ke orang asing.’ Begitu juga ketika mereka tahu saya mau jalan-jalan sendiri ke Intramuros keesokan harinya. Ketika orang yang saya temui di Jakarta memberikan nasihat yang sama, saya selow. Namun ketika penduduk lokal memberikan wejangan seperti itu, saya manut.
Akhirnya, keesokan harinya, berkat bantuan Shelly dan suaminya, saya selamat sampai di lokasi konser. Sebenarnya tidak sulit untuk mencari lokasi, karena setiap sepuluh meter ada penunjuk jalan dadakan. Sign setiap booth juga besar dan mudah dilihat oleh mata minus saya di malam hari. Sekuriti juga menjelaskan dengan sangat baik.
Lancar dan Rapi
Dari Instagram SM Ticket saya tahu kalau mereka membuka booth tiket. Tahu gitu, mending saya beli di sana aja langsung ketimbang di calo? Well, saya tidak menyesalinya karena saya tidak tahu soal hal ini. Untung juga, karena ketika saya tiba di sana, ternyata tiket yang mereka jual hanya Patron A, B, C, kelas super mahal dan duduk. Tadinya, saya berniat upgrade tiket ke Gold, tapi karena tidak ada, saya pun tetap memakai tiket yang saya punya (sambil deg-degan apakah tiketnya beneran asli?)
Sebelum masuk venue, saya memutuskan untuk membeli merchandise. Yup, ini sudah ada di dalam daftar budgeting saya, karena saya tidak akan pulang dari konser ini dengan tangan kosong. Antreannya lumayan panjang meski petugas yang melayani bisa mencapai sepuluh orang. Untungnya mereka bekerja dengan sangat cepat. Terlebih ketika saya mengantre, hanya tinggal satu jam menjelang konser mulai.
Tidak ada yang desak-desakan dan membuat antrean jadi kacau. Petugas juga sigap. Tidak ada yang bersorak dari belakang menyuruh cepetan. Dan saya bisa mengantre dengan tenang. Karena sudah tahu saya hanya ingin membeli t-shirt, saya langsung menunjuk yang saya mau, bayar ke Mbak A sementara mbak B mengambilkan pesanan saya, tidak perlu dimasukin paper bag karena saya tidak mau ribet, jadi kaos itu pun masuk ke tas, semuanya dalam waktu kurang dari lima menit, dan saya menuju gerbang masuk dengan perasaan campur aduk.
Nyatanya?
Ini pengalaman menonton konser pertama di luar negeri (Meghan Trainor dan Charli XCX di Singapura tidak termasuk karena saya ke sana bersama pihak label) sehingga mau tidak mau saya membandingkan dengan Indonesia. Antrean sudah agak lowong karena sudah hampir mulai sehingga saya tidak butuh waktu lama.
Petugas pertama nge-scan access card dan begitu berhasil, saya sudah bisa langsung masuk. Iya, segampang itu. I was like… really? Dengan terbengong-bengong saya menghampiri petugas di lapis kedua. Dia melihat isi tas saya, melihat tiket konser, dan saya langsung masuk ke arena konser. Tidak ada grepe-grepe super lebay seperti yang selalu saya alami di konser di Indonesia.
Begitu memasuki arena konser, saya langsung berteriak. Lega!!! Meski saya berteriak kencang, teriakan saya ditenggelamkan oleh suara lain yang lebih heboh.
Saya pun langsung mencari posisi yang lumayan strategis. Malam itu, saya sengaja memakai sepatu boots berhak karena saya pendek, sehingga butuh bantuan beberapa senti, he-he. Sambil menunggu, saya duduk berselonjor, begitu juga dengan penonton lain. Sebuah pilihan yang tepat karena konser yang tadinya dimulai jam delapan, malah dimulai hampir jam sembilan.
Lapar dan haus, tidak perlu khawatir karena ada yang menjual makanan di pinggir arena. Bahkan ada McDonald. Serius, saya sampai bengong ketika melihat ada McD di sana. Saya sempat membeli minum (dengan harga yang tidak naik drastis dan lebay) dan saking hausnya langsung menghabiskan satu botol. Begitu saya transaksi botol kedua, background music yang tadi diputar mendadak berhenti. Penonton yang tadi duduk-duduk, serentak berdiri. Saya langsung membayar minuman dan berlari ke tempat yang sudah saya incar sejak tadi.
Bersamaan dengan intro Castle on the Hill berkumandang.
And I screamed!!!
Sebagai bukti cinta saya sama Ed Sheeran, saya akan mereview konser per lagu. So enjoy my rambling.
Castle on the Hill
Sejujurnya, saya tidak melihat bocoran setlist sehingga saya cukup kaget ketika Castle on the Hill menjadi lagu pembuka. Karena biasanya single terbaru ditaroh belakangan. Saya melompat saking bahagianya ketika tanpa basa basi, Ed Sheeran langsung menyanyikan salah satu lagu favorit saya.
Permainan gitar Ed menjadi highlight di lagu ini. Gila, baru lagu pembuka saja sudah bikin suasana panas. Malam itu, Ed tampil sederhana dengan jins hitam dan kaos hitam. Terbiasa menonton konser Kpop yang fancy, saya pun sangat menikmati kesederhanaan yang dihadirkan Ed malam itu.
Tidak perlu gimmick. Hanya suaranya dan petikan gitarnya, itu sudah membuat saya jatuh hati.
Eraser
Menonton konser ini sekaligus menguji seberapa kenal saya dengan lagu yang dibawakan. Dan, ada satu Pinoy di sebelah saya yang setiap intro dimulai, langsung memberitahu kepada temennya judul lagu ini. Saya pun jadi berpacu dalam diam dengannya.
Eraser. I have no word to describe this song. Lagu ini membuktikan kalau Ed bukan hanya spesialis lagu galau. Ketika nge-rap (yang tentu saja tidak bisa saya ikuti), suasana jadi semakin panas. Dari layar yang begitu close up dan membantu saya untuk melihat ekspresi Ed, saya merinding melihat dia menyanyikan lagu ini.
Oh ya, hampir di setiap lagu Ed berganti gitar, dan seru aja melihat dia berganti gitar di waktu singkat.
The A Team
Begitu Eraser selesai, akhirnya Ed menyapa Sheerios yang hadir malam itu. Berkali-kali dia bilang kalau dia senang bisa kembali ke Manila dan Manila adalah salah satu kota yang disukainya. Tentu saja itu membuat saya iri, he-he.
Tidak banyak basa basi, Ed memperkenalkan lagu selanjutnya. Dia mengajak semua penonton untuk nyanyi bareng, atau kalau tidak hafal liriknya, cukup rambling saja. Ed bilang dia ingin menyanyikan lagu lama dan mungkin tidak banyak yang kenal lagu ini.
Dan begitu petikan gitarnya berkumandang, saya berteriak ‘GIMANA CARANYA ORANG ENGGAK KENAL INI LAGU? THIS IS THE FRICKING A FRICKING TEAM. Terbukti banyak yang nyanyi bareng. Namun di beberapa part, MoA Concert Ground berubah hening dan hanya ada suara Ed yang terdengar menyayat hati menyanyikan ‘Angels to fly’.
Sepanjang lagu ini, saya tidak bisa melakukan apa-apa, selain menyanyi lirih dan menangkupkan tangan di dada, menatap Ed yang menampilkan ekspresi pedih, tanda dia begitu menghayati lagu ini.
Don’t/New Man
Rasanya saya menahan napas cukup lama, karena ketika The A Team selesai, saya mengembuskan napas panjang. Rasanya ada ganjalan di hati yang akhirnya terlepas.
Selesai bersyahdu ria, Ed menghentak dengan lagu up beat miliknya. Don’t yang digabung dengan New Man. Gosh, I wish there was John Mayer at that stage and they played guitar together like what I saw at YouTube.
Berhubung ini menempati the least favorite song from Ed, saya tidak berekspektasi apa-apa. Namun tanpa bisa dicegah, saya ikut menari. Terlebih satu geng Pinoy di sebelah saya heboh banget nge-dance and they asked me to dance with them. Kami tidak saling kenal, hanya dipersatukan oleh musik, dan kami menikmati konser ini bersama-sama.
Saya pun menari, seolah tanpa beban. Like there’ll no tomorrow. We just dance and dance and dance until I realize that I need to drink haha.
Dive


Dengan napas terngah-engah, Ed bercerita kalau dia baru saja pulang dari New Zealand. Yeah right, he was unleashed his inner hobbit and channeling Frodo. Have I told you that one of reason why I like him because he looks like Hobbit, my favorite creature in the world and actually they are my long lost kin? Yeah, forget it.
Selesai bercerita, Ed pun memainkan gitarnya. Hampir saja saya menyemburkan minuman yang sedang saya teguk ketika, lagi-lagi tanpa basa basi, intro lagu Dive diputar. THIS IS IT. DIVE. Ini yang menjadi alasan saya begitu ngotot ingin menonton Ed. Ketika dengerin versi rekamannya, suara Ed terdengar sangat rough. Jadi saya penasaran bagaimana dia menghayati lagu ini secara langsung.
Ditambah dengan lagu ini menjadi my personal anthem karena saya bisa meneriakkan isi hati yang sesuai dengan lirik lagu ini.
Tidak peduli dengan suara yang cempreng, saya menyanyi sekuat tenaga, ikut berteriak bersama Ed yang melarang ‘dia’ untuk memanggil kami dengan sebutan Baby jika dia tidak benar-benar memaknainya.
Tadinya, saya tidak ingin merekam apa-apa, tapi begitu konser dimulai, saya berpikir, ‘bodo amat sama mereka yang mengomentari layar hape di konser. Saya butuh kenang-kenangan. Terutama di lagu favorit.’ Karena itulah saya mengabadikan Dive.
Highlight lagu ini berada di bagian ketika Ed menyanyikan ‘what’s your history’ dan penonton kompak menjadi suara dua menyanyikan ‘what’s your history’ di detik yang pas dan serentak, sampai-sampai Ed tersenyum kaget mendengarnya.
His smile is so beautiful.
Bloodstream
Saya suka setlist konser ini, tapi di sisi lain, tidak ada waktu untuk bernapas. Karena setelah Dive, kita langsung dihajar dengan Bloodstream. Saya sudah sering mendengar berbagai versi Bloodstream, jadi saya penasaran dengan versi yang akan dibawakan Ed.
My jaw almost drop when I heard his solo guitar. Lagu ini jadi panjang banget berkat improvisasi Ed. Ketika suaranya makin lama makin pelan dan menyebutkan Bloodstream dengan suara rendah berlatar belakang gitar, tanpa disadari saya ikut menahan napas dengan air mata menggenang di ujung mata.
Happier
I think this is one of the most underrated song from Divide. Enggak banyak yang memfavoritkan lagu ini, padahal liriknya tuh tulus banget. Mendoakan orang yang pernah menjadi bagian dari hidup kita.
Lagu ini sederhana, dan kesederhaan itu sangat cocok dengan konser outdoor di pinggir pantai seperti ini. Saya bisa sedikit cooling down di lagu ini. Bernyanyi tapi tidak ambisius, dan bisa berdiri tegak untuk mengistirahatkan tubuh.
I’m a Mess
Disambung dengan I’m a Mess yang lumayan memperpanjang waktu untuk beristirahat. Saya menikmati lagu ini karena ini salah satu lagu favorit saya (iya, ngomongin lagu favorit, itu jumlahnya banyak) dan sekali lagi, saya terpesona dengan permainan gitar Ed.
Tenerife Sea

Setelah berbasa basi sedikit memberitahu betapa dia menyukai Manila, Ed memperkenalkan lagu selanjutnya. Dari penjelasan itu, saya langsung menebak. Tenerife Sea. Dan saya langsung berteriak kencang.
Highlight lagu ini terletak di improvisasi Ed ketika menyanyikan bagian bridge. Mendadak, MoA Concert Ground jadi hening. Hanya ada petikan gitar dan Ed yang berbisik ‘Lumiere, darling’. Bayangkan, di lokasi seluas itu, ribuan orang, dan dia dengan sukses membuat kita semua terdiam, lalu detik berikutnya ikut bernyanyi bersama.
That was magical moment for me. Satu kata: syahdu.
Galway Girl
Mungkin Ed merasa, ‘udahan ya galau-galaunya’ karena setelah itu langsung deh dia menghentak dengan Galway Girl. Dengerin intro aja udah bikin badan lo goyang, kayak lagu dangdut, he-he. Si Pinoy di sebelah lagi-lagi berkata, ‘hey. Let’s dance’. Dan, tidak perlu dibayangin yah nge-dance kayak gimana, yang penting bergerak ngikutin aja itu musik.
Oh, this song makes me fall in love with Irish music. Galway, wait for me. Someday, I’ll visit you.
I See Fire
I See Fire Agak ragu bakal denger lagu ini karena enggak di semua show dibawain. Mungkin Ed masih kebawa euforia dia habis unleash his inner Hobbit di New Zealand minggu lalu hehe. Ketika dengerin 'Misty Mountain' langsung kaget. Dan pas sampai bagian Durin's Song, tanpa disadari udah nangis aja. I See Fire itu bagian dari hal paling berarti di hidup gue. I've grown up with Middle Earth. Belasan tahun bareng Middle Earth. Ketika The Hobbit selesai, ada satu bagian yang dicerabut paksa dari hidup. Jadi tiap kali dengerin lagu ini, selalu ngingetin ke masa itu. Improvisasi Ed di lagu ini bikin merinding parah. Panas cuy. Dan enggak bisa berkata apa-apa. (PS: Middle Earth, Hobbit, Naga, Benedict Cumberbatch, Ed Sheeran di satu proyek. I couldn't ask for more). Thank you Katie Jackson, for suggest him to your father so we could hear this wonderful song. #iseefire #thehobbit #desolationofsmaug #edsheeranconcert #edsheeran #concert #divide #dividetourmnl #dividetour #dividetourmanila
A post shared by ifnur hiKmah (@ifnurhikmah) on

Saya tidak menyangka jika Ed akan membawakan I See Fire. Saya sempat melihat setlist dulu dan tidak di semua pemberhentian dia membawakan lagu ini. Mungkin dia masih terbawa euphoria menjadi Hobbit, he-he.
Saya tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengarkan lagu ini. Tanpa disadari, saya terisak sendirian. Terlebih ketika di bagian bridge dan improvisasinya Ed yang memukau, saya berkali-kali menggelengkan kepala mengusir emosi yang tiba-tiba memuncak.
Hobbit merupakan bagian dari kehidupan saya selama belasan tahun sehingga saya merasa memiliki keterkaitan emosional dengan apapun yang berhubungan dengan lagu itu. Termasuk I See Fire, yang seketika melemparkan saya ke masa kecil, ketika saya memimpikan petualangan saat berdiri di depan pintu menunggu Gandalf, dan berharap ketika saya berumur 33, seperti Frodo dan Bilbo, saya pun mengalami petualangan besar seperti mereka.
Dan malam ini, menjadi saksi saya perlahan memulai petualangan itu. Keluar dari Hobbit hole yang nyaman dan bergerak. Entah akan bertemu siapa. The rider, the Orcs, or Sauron itself? I don’t know. Ketika ketika Ed berkata ‘I hope that you’ll remember me’, I was like, ‘yeah Shire, remember my promise today. I’ll come to you. I’ll come home.”
I was sobbing like a mess when the song end.
Photograph

Butuh waktu sekian menit untuk mengembalikan emosi saya menjadi seperti semula, sehingga saya kehilangan momen di awal lagu Photograph. Padahal ini adalah salah satu lagu favorit saya. Cocok sih, karena lagu ini punya efek yang sama dengan I See Fire, yaitu calling me to come home.
Perfect

Setiap kali karaoke (dan saya suka karaoke meski suara saya sangat teramat ala kadarnya), saya pasti menyanyikan lagu ini. Malam ini, saya mendengarkan langsung Perfect.
Sekali lagi Ed menunjukkan kalau sesekali, sederhana itu jauh lebih indah. Perfect dibawakan secara akustik, dan itu justru membuat lagu ini jadi lebih merasuk ke hati. Semuanya bernyanyi lirih, sehingga suara Ed sangat terdengar mendominasi.
How magical it is. Ketika satu orang mampu membuat diam ribuan orang.
Nancy Mulligan
Seperti yang sudah-sudah, begitu selesai menyanyikan lagu slow, Ed langsung meledak dengan lagu up beat. Another irish-inspired song, who tell the love story of his grandparents. Nancy Mulligan. Kembali, saya dan si geng Pinoy menari heboh, seakan-akan kamilah Nancy Mulligan, dan yang di atas stage itu adalah William Sheeran, dan malam ini kami berada di desa di Irlandia ketika selesai World War II.
Ed pernah bilang kalau dia ingin main film. Hey producer, do you want to make another tearjerking story after The Notebook? Nancy Mulligan is for you. And, who is the perfect choice to play William Sheeran? Oh, his grandson itlesf, Ed Sheeran. Also, Saoirse Ronan will be a perfect choice to play as Nancy Mulligan. Have you ever see her chemistry with Ed in Galway Girl? Besides, she’s an Irish. So, I’ll live for the day that my dream will come true.
Hey, a girl can dream, right?
Nancy Mulligan membuat saya jatuh cinta.
Oh, mungkin karena ada Pinoy lain di belakang saya yang di setiap lagu meneriakkan ‘I love you, Ed.’
Atau Pinoy di depan saya yang secara tidak sengaja saya curi dengar berkata ke temennya, ‘how does it feel to having sex with him and he’ll serenade you with his guitar and sing for you?’ Gue cuma bisa ngakak sambil manggut-manggut setuju.
Thinking Out Loud
Ketika intro lagu ini berkumandang, saya menjerit. Lagu ini pertanda kalau konser akan segera selesai, dan saya tidak rela.
Di Multiply tour, di setiap konser pasti ada cowok yang berlutut melamar pacarnya di lagu ini. Entahlah di malam itu, mungkin ada, tapi saya tidak tahu. Thinking Out Loud memang lagu nikah sejuta umat, jadi kejadian seperti itu bukan hal yang asing lagi.
I’m never been a fans of TOL, tapi saya selalu menunggu momen mendengarkan lagu ini langsung. Why? Karena saya ingin merasakan momen super romantis itu. Sekali lagi, Ed membuat semua orang terdiam. Bahkan, saking syahdunya, itu suara angin dan ombak kedengeran, lho (lebay, I know) tapi sumpah. Saya tidak mengerti bagaimana mungkin semua orang bisa kompak hening, bahkan untuk bernapas aja hati-hati banget. Tidak ada yang tiba-tiba random berteriak, atau melompat, atau mengangkat hape tinggi-tinggi. Hanya sinar flashlight dari handphone dan keheningan sepanjang empat menit lebih. Ini bukan lagu favorit, tapi ini salah satu live performance terbaik yang pernah saya ikuti.
Sing
Keheningan langsung pecah begitu lagu selesai dan semuanya bertepuk tangan. Namun lenguhan kecewa terdengar ketika Ed berkata dia sudah sampai di lagu terakhir. No way. Saya masih ingin bersama Ed lebih lama lagi. Saya tidak ingin momen ini segera berakhir.
Sing menjadi lagu penutup. Ed menyuruh kita semua mengangkat tangan, mengikuti dia menyanyi. Saya menenggak minum, lalu mengikuti suruhannya. Menjelang tujuh menit, kami bernyanyi dan menari bersama, hingga akhirnya stage jadi gelap.
Encore
Masih zaman ya gimmick ala-ala encore? Memang masih ada yang ketipu? He-he.
Shape of You
Tentu saja ada encore, karena Shape of You belum terdengar sejak tadi. Setidaksukanya saya sama lagu ini, tapi tetap saja saya tidak menahan diri untuk tidak ikut bernyanyi dengan suara cempreng dan menari. Menikmati menit-menit menjelang saya dan Ed harus berpisah.
Rasanya? Saya masih sanggup ketika harus mendengarnya menyanyikan seratus lagu lagi.
You Need Me, I Don't Need You

Ed bilang sudah seharusnya dia pergi, tapi ada satu lagu bonus. Yeah right, your lip service is so on point yah, he-he.
Highlight lagu ini? Tentu saja gitarnya Ed. We back to the time that Ed is not a superstar like tonight. He’s like our little secret because only few people know him. Lagu ini yang membuat Ed jadi diperhitungkan karena kejujuran liriknya, dan kejeniusan dia.
You know what? Ed Sheeran and his foot thingy (pedal loop, I mean) is the sexiest thing in the world.
Ketika bridge dan Ed memamerkan kepiawaiannya bermain gitar, wajahnya yang super close up di layar dengan ekspresi yang susah diungkapkan dengan kata-kata dan dia berteriak tertahan seolah melampiaskan semua isi hati ke dalam permainan gitarnya, kita semua yang menonton hanya bisa melongo.
Who is he? Is he human?
Dan dia mengakhiri konser ini dengan nyanyi bareng di lagu ini.
Ketika lampu benar-benar padam, dan semua orang menghela napas panjang setelah menyaksikan performance yang sangat luar biasa, perlahan kita mulai beranjak menuju pintu keluar.
Dalam perjalanan kembali ke SM Mall of Asia, berkali-kali saya menoleh ke belakang, berharap Ed kembali berada di stage.
Bahkan sampai ketika saya sudah berada di hotel lima belas menit kemudian (yup, sedekat itu), saya masih tidak menyangka kalau akhirnya, saya berhasil menuntaskan bucketlist yang saya tulis empat tahun lalu.
Saya menonton ED SHEERAN!!!
Reading Time: