What is the Most Common Question in Your Late 20s?




*Ekspresi mikirin jawaban buat pertanyaan yang sama selama bertahun-tahun
dan akan tetap sama bertahun kemudian*

Day 9, tema dari Fajar

Tinggal enam belas hari menuju usia ke-29 tahun, tahun terakhir melewati usia 20-an sebelum memasuki kepala tiga. Dulu, saya takut ketika akan berulang tahun ke-20. Rasanya begitu menyeramkan. Angka 20 rasanya terlalu besar untuk dihadapi. Namun ternyata, saya berhasil melewatinya hingga saat ini.
Tidak mudah memang. Ups and downs itu selalu ada. Saya mengawali usia 20-an dengan semangat menggebu, dengan beribu keinginan bermain di pikiran dan semangat pantang menyerah untuk mendapatkannya. Namun, berbagai realita demi realita mulai menghadang. Saya pun mulai merasakan pahitnya kehidupan ketika realita tidaklah sesuai dengan ekspektasi. Saya mulai dipaksa berpikir dewasa, ketika harus mengambil keputusan untuk mengikuti kata hati atau berdamai dengan realita. Saya juga merasakan kehilangan, jatuh cinta, kehilangan, dan jatuh cinta lagi.
Hidup itu sangat berwarna, benar?
Menginjak tahun terakhir berusia 20-an, saya kembali merasa sama seperti sepuluh tahun lalu. Takut sekaligus excited karena akan menginjak usia 30. Di mata saya dulu, 30 itu kesannya tua banget #sorrynotsorry. Namun ketika melihat lingkungan sekitar, dengan teman-teman yang sudah lebih dulu menginjak usia 30-an, ternyata tidak sama dengan apa yang saya pikirkan dulu, he-he.
Ketika menerima tema ini, saya tergelak. Pertanyaan paling umum ditanyakan di usia akhir 20-an. Tentu sudah bisa menebaknya, bukan?
Untuk perempuan single, apa lagi, sih, yang sering ditanyakan ketimbang ‘kapan nikah?’ Sampai-sampai saya hanya bisa rolling eyes menertawakan dalam hati ketidakkreatifan orang-orang yang selalu mempertanyakan hal yang sama dari tahun ke tahun.
Lucunya, hari ini saya membaca berita soal Raline Shah yang sudah bosan ditanya pertanyaan yang sama. “Pertanyaan seperti itu sebenarnya bikin sakit hati,” ungkap Raline. Dia juga menekankan kalau setiap individu memiliki target pribadi, dan kadang masyarakat terlalu memaksakan hal yang dianggap common, meski kadang bertentangan dengan keputusan yang diambil setiap individu.
Raline berkelakar, “Target saya adalah membuat kamu mempertanyakan hal yang sama tahun depan, juga tahun depannya lagi.”
Saya setuju dengan Raline karena pertanyaan ini sangat pribadi, terlebih seringkali si pihak yang bertanya menunjukkan sikap judgemental yang seolah-olah menilai rendah pihak yang ditanya. Ditambah, biasanya pihak yang bertanya tidaklah terlalu dekat, karena sosok yang dekat tidak akan bertanya. Toh, mereka sudah tahu, kan, keputusan kita?

*Ilustrasi kursi kosong di stasiun,
menunjukkan bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan tanpa henti*

Dibanding teman-teman lain yang juga single di usia penghujung 20-an, bisa dibilang saya tidak terlalu sering mendapat pertanyaan ini. Bahkan di saat lebaran yang katanya jadi momok paling mengerikan, saya hanya mengalami momen ini dua kali.
Pertama, ketika berkunjung ke saudara papa yang kalau dilihat dari asal usul darah tidaklah terlalu dekat, tapi sejak kecil keluarga saling berkunjung. Kalimat beliau adalah, “Duh, jangan sampai udah 30 kamu belum nikah. Udahlah, enggak usah pilih-pilih, yang penting seakidah dan dia kerja.”
Saya cuma rolling eyes mendengar pernyataan itu dan lanjut makan.
Ketimbang menjawab dan pasti nyelekit sehingga menimbulkan masalah baru. Meski dalam hati saya menertawakan nasihatnya yang menurut saya sudah tidak sangat relevan. Come on, nyari suami tapi enggak pilih-pilih, yang benar saja. Itu, kan, investasi jangka panjang, tentu saja harus dipikirkan matang-matang.
Yang penting seakidah dan dia kerja? Bukannya saya sombong atau sok kaya atau sok punya gaya hidup mahal, tapi hidup itu memang mahal. Terbiasa memberikan yang terbaik untuk diri sendiri, tentunya saya juga ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga. Karena itu, asal kerja saja jelas tidak mungkin, kan? Saya melihat sendiri bagaimana rumah tangga yang setiap hari selalu membahas masalah finansial, dan itu sangat menyebalkan. Tentu saja, saya tidak ingin terjebak dalam hal yang sama.
Momen kedua datang dari kakak sepupu saya. Sudah hampir tengah malam dan saya sedang asyik-asyiknya menikmati air kawa daun hangat di malam yang dingin. Dia cuma menyinggung sambil lalu, jadi saya pun menjawab sambil lalu meski serius.
I told her my target. Saya memberitahu dia apa yang ingin saya raih di tahun ini, juga tahun depan.
Komentarnya? “Main-main terus.”
Jawaban saya? “Tentu saja. Apa gunanya kerja kalau enggak dinikmati?”
Egois? I don’t think so. Tidak peduli berada di umur berapa, setiap individu berhak memanjakan dirinya sendiri. Kita kerja keras Senin sampai Jumat, kadang lebih, kenapa tidak dinikmati? Kebetulan, baru beberapa tahun terakhir inilah saya bisa menikmatinya.
Tanggapan mama? “Biarin ajalah dia mau ngapain dulu.” Ya, meski di kesempatan lain mama berkata, “Suka-suka dialah, enggak ngerti dia maunya apa.” Ya, meski mama bersikap pasif-agresif, tapi untungnya tidak mendesak, sampai-sampai menyodorkan laki-laki entah siapa buat dinikahi hanya karena ‘masa iya umur segini belum nikah?’ (well, it happened ya di lingkungan saya. Jauh lebih baik kamu menikah ketimbang melanjutkan sekolah).

*Ilustrasi kaki yang menunjukkan kesiapan diri untuk melangkah ke kehidupan selanjutnya,
apa pun jenis kehidupan yang dipilih*

Simpelnya seperti ini: pernikahan itu hal yang paling pribadi. Kapan dan dengan siapa kamu menikah, itu tidak bisa diputuskan sama untuk semua orang. Ada yang sudah siap lahir batin dan finansial di umur 25, dan silakan menikah. Namun, ada juga yang memiliki target lain untuk dicapai sehingga menikah ada di prioritas ke sekian, ya silakan. Jadi ketimbang bertanya ‘kapan nikah?’ yang memang kadang nyakitin, kenapa tidak ganti pertanyaannya menjadi ‘apa targetmu sekarang?’ Setidaknya, kita bisa berdiskusi panjang soal hal ini.
When will you get married? I don’t usually answer tho because it’s definitely not in the near future. Tapi, umumnya laki-laki di minang menikah di usia yang relatif muda, misal 25-an. Walaupun sebenarnya enggak ada pakem kapan laki-laki harus menikah, tapi karena kebanyakan menikah di usia segitu, seakan itu jadi tolok ukur. Padahal, kan, enggak begitu ya. Sering orang-orang yang nanya suka lupa bahwa ada banyak pertimbangan atau alasan mengapa seseorang belum (atau tidak) menikah. Bisa ekonomi, bisa pendidikan, dan lainnya.” Fajar, yang juga menginjak usia akhir 20-an, dan sering mendapat pertanyaan ini.
For you, what is the most common question in your late 20-s?

What is the Most Emotional Moment in Your Life?


 Day 8, tema dari Wita

Sebenarnya saya cukup menghindari tema ini karena yakin, akan sangat sulit untuk menahan diri. Mengingat momen emosional ini membuat saya harus merelakan kepergian sesosok yang sangat berarti di hidup saya, untuk selamanya, setelah selama 2,5 tahun terakhir keadaan keluarga terombang ambing setelah kesehatan Papa yang menurun,
I had to say goodbye to my father.
Di tulisan ini, saya menulis surat untuk Papa, karena sulit untuk mengungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan di hadapan beliau, untuk terakhir kalinya. Ketika diberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu sebelum kain kafan ditutup, saya tidak bisa berkata apa-apa selain menangis tersedu-sedu.
Namun, itu bukan momen emosional pertama yang saya rasakan.
Sekitar Oktober atau November 2015, saya ditugaskan untuk liputan ke Makassar. Sekitar satu jam sebelum berangkat, Uni menelepon untuk memberitahu Papa masuk rumah sakit. Ada yang salah dengan jantungnya. Saat itu saya merasa gamang, antara tetap pergi atau pulang. Tentu saja kedua pilihan itu terasa sulit, mengingat liputan tersebut berpengaruh dengan klien yang bekerjasama dengan majalah tempat saya bekerja dulu. Namun, akhirnya Uni dan Mama menegaskan kalau Papa baik-baik saja dan saya tetap bisa pergi. Selama perjalanan menuju Makassar, sambil menatap ke luar jendela, saya tidak kuasa untuk menahan tangis.
Bagaimana kalau saya terlambat?
Beruntung saya masih bisa bertemu dengan Papa sekembalinya dari Makassar.
Sejak saat itu, kesehatan Papa menurun. Papa memang masih suka berkebun di tanah kosong depan rumah, susah disuruh diam istirahat di rumah, tapi saya tahu dia tidak lagi sekuat dulu.
Sejak saat itu juga, Papa sering bolak balik masuk rumah sakit. Awalnya hanya kontrol bulanan, tapi selang beberapa bulan, Papa harus dirawat. Beberapa kali saya ikut menginap di ICU menemani beliau setiap malam. Dalam kondisi susah tidur, capek karena harus bolak balik Kebon Jeruk – Cibinong setiap hari, bahkan kadang jam 10 malam baru sampai di rumah sakit, entah bagaimana caranya saya tidak tumbang. Mengingat selama ini saya selalu tumbang setiap kali kelewat capek.
Saya pernah tidak sengaja mencuri dengar Mama mengobrol dengan Tante di telepon. Kurang lebih isinya begini, “If yang jaga, dia malam di rumah sakit, pagi ke kantor. Enggak disangka anak itu bisa diandalkan dalam keadaan begini, biasanya manja enggak mau disuruh-suruh. Dia juga yang bayar, ternyata dia punya tabungan, berdua sama kakaknya.”
Mendengar itu, saya melihat kembali ke diri sendiri. Ya, terbiasa jadi anak bungsu yang dipermudah dalam segala hal, inilah titik di mana saya harus berhenti menjadi anak kolokan yang bergantung pada orangtua.
Sekarang keadaannya di balik, saya tidak lagi bisa bergantung kepada Papa.
Menemani beliau di rumah sakit memang melelahkan, lahir batin. Beliau yang selama ini bisa melakukan apa saja, sekarang harus diam di tempat tidur dan tidak bisa ngapa-ngapain. It was very stressful for him. Sifatnya yang tidak sabaran itu seringkali membuat saya emosi, ditambah akumulasi capek dan kurang tidur yang sangat menguji kesabaran.
Dan, yang membuat saya sekarang menyesal adalah, saya tidak punya kesempatan untuk meminta maaf atas ketidaksabaran itu.
Di sisi lain, saya sangat malas untuk pulang ke Cimanggis setiap weekend. Bekerja lima hari, berinteraksi dengan orang lain selama lima hari, membuat saya ingin menghabiskan weekend sendirian, sekaligus untuk recharge energi, dan saya tidak akan bisa beristirahat total jika berada di rumah.
Hingga suatu hari, chat singkat dari Uni membuat saya tertegun. Seperti biasa, dia bertanya apa saya akan pulang atau tidak, dan saya jawab tidak. Sebulan sekali sudah cukup, itu prinsip saya. Namun chat Uni selanjutnya membuat saya meneteskan air mata. “Kalau ada waktu, kamu ke sini. Ketemu Papa. Kelihatannya Papa memang baik-baik aja, tapi kesehatannya makin menurun. Jangan sampai nanti kamu menyesal enggak bisa ketemu Papa lagi. Sering-sering ke sini, jangan main-main terus weekend.”
Saat itu saya menyadari kalau pikiran itu sudah lama saya miliki, hanya saja terlalu berat untuk menerimanya, sehingga saya menyimpan pikiran itu jauh-jauh di memori terdalam. Ketika dihadapkan pada kenyataan, mau tidak mau saya harus memikirkan kembali hal tersebut.
Sepulangnya Papa dari rumah sakit untuk yang terakhir kalinya, keadaannya sangat berbeda. Dia selalu merasa lemah, bahkan untuk jalan saja harus berpegangan. Ketika beliau dirawat di ICU, Papa mendapat serangan yang parah. Sampai-sampai, dokter meminta keluarga menandatangani perjanjian untuk memberikan kejut jantung pada Papa jika ada serangan lagi. Saat berdiskusi soal hal itu dengan Uni, rasanya ingin kabur. Saya tidak ingin ada di momen itu, membahas hal itu. Namun, wajah pias Uni membuat saya bertahan. Apalagi ketika melihat Papa yang sangat lemah di ruang ICU.
I asked God to give him another chance.

Dear father, tomorrow is suppose to be your birthday, Wish that you have fabolous birthday in heaven.

Malam itu, saya tertidur dengan handphone mati, seperti biasa. Saya tidur nyenyak, setelah semalam dipijit dan merasa rileks. Namun, ketika menyalakan ponsel keesokan harinya, saya mendapati puluhan telepon dari Mama, Uni, dan Abang. Perasaan saya langsung tidak enak, dan yang saya pikirkan adalah Papa masuk rumah sakit lagi.
Ternyata, dugaan saya salah. Papa sudah tiada. Papa sudah berpulang saat adzan subuh, di rumah, tanpa merasa sakit sedikitpun.
Ketika menutup telepon dari Mama, saya merasa linglung. Saya terdiam di tempat tidur, tidak melakukan apa-apa, dengan pikiran kosong. Hingga akhirnya saya memaksakan diri untuk bangun dan pulang. Ketika di perjalanan, saya baru merasa sedih dan menyesal karena tidak ada bersama Papa di saat terakhirnya.
Sejak kecil, saya lebih dekat dengan Papa. We are partner. Dan sekarang, saya kehilangan partner terbaik yang pernah saya miliki.
Ketika sampai di rumah dan mendapati Papa sudah tiada, saya merasa kebas. Bahkan, sampai selesai dimakamkan, saya masih merasa kebas.
Beberapa hari kemudian, ketika sendirian, saya seringkali menangis.
Seperti malam ini. Ketika saya merindukan beliau dan teringat janji untuk menonton bola di GBK tidak pernah terwujud. Itu hanya satu dari sekian banyak janji yang saya buat, dan keegoisan membuat saya menomorsekiankan janji-janji tersebut.
Hingga tidak ada lagi kesempatan untuk mewujudkan janji itu.
But, I could meet him in my prayer, right?


“Kalau aku pribadi, the most emotional moment in my life adalah ketika aku diselingkuhin. Well, karena sebelumnya aku belum pernah punya orang terdekat yang mengkhiatiku. Aku memutuskan buat cabut dari apapun yang berhubungan dekat sama dia. Aku resign (ini alasan sebenernya, maaf receh), aku pergi dari Jakarta dua bulan, aku enggak main medsos dua bulan.
Aku menenangkan diri karena sangat susah rasanya mengontrol biar aku enggak menyalahkan diri sendiri atas gagalnya hubunganku. Lucu kalau diinget sekarang, tapi so far itu the most emotional moment in my life. Kenapa, karena semua keputusan dan tindakan dan sikap aku ya dari emosi aja. Dan kenapa ini sangat emosional, karena ini bukan masalah patah hati buatku, ini masalah aku diboongin segitunya aja.” Wita, yang aku ingat banget betapa emosinya dia ketika putus setelah diselingkuhi.

And you, what is the most emotional moment in your life?

What is the Most Guilty Pleasure Thing You Ever Did?


Queen Rania and Queen Letizia, my woman crush

Day 7, tema dari Fhia

Setiap orang pasti punya sesuatu yang menjadi guilty pleasure, benar? Bahkan saya rasa, memiliki guilty pleasure ini wajar, karena untuk sejenak kita berhenti berpikir dan menghabiskan waktu melakukan sesuatu yang di mata orang lain mungkin dianggap ‘buang-buang waktu’. Tapi setidaknya, guilty pleasure inilah yang membuat kita waras.
Bicara soal guilty pleasure, butuh waktu lama untuk menentukan guilty pleasure ter-guilty saya, saking banyaknya. Namun, teman saya mengingatkan, ‘lo kan royal trash’.
Benar juga.
Yes, you hear me. I love everything about royal. Royal pertama yang membuat saya jatuh cinta adalah Lady Diana, ketika saya membaca aksi sosialnya di majalah Bobo. Dia berada nun jauh di sana, dan di usia yang masih kanak-kanak, saya sangat mengaguminya. Saya bahkan menangis meraung-raung ketika Lady Di meninggal, satu hari setelah saya merayakan ulang tahun ke-8.
Long story short, saya jadi tertarik mengikuti semua hal yang berbau royal. Dari Kerajaan Inggris, lalu meluas ke kerajaan lainnya. Adalah ketika saya membaca profil Charlotte Casiraghi di majalah Aneka Yess! punya Uni. Sejak itu, saya tertarik dengan Kerajaan Monaco. Saya ingat, di majalah itu ada peramal entah siapa meramalkan kalau kelak Charlotte akan menikah dengan Prince William. She will be Queen of England. Saya masih merasa patah hati ketika akhirnya Prince William menikah dengan Kate, karena tanpa disadari selama bertahun-tahun saya nge-ship Prince William dengan Charlotte Casiraghi.
Sampai sekarang, Casiraghi Siblings tetap menjadi salah satu royal favorit saya.

A post shared by Charlotte Casiraghi ♡ (@dailycharlottecasiraghi) on


Mengikuti cerita soal royal itu penuh intrik. Karena saya suka Casiraghi Siblings, mengikuti intrik kerajaan Monaco yang penuh skandal itu membuat saya hanya geleng-geleng kepala. Terlebih ketika Princess Charlene menangis di hari pernikahannya dan hampir saja menjadi ‘runaway bride from Monaco’ seminggu sebelum menikah hanya karena skandal ‘anak di –mana-mana’ Prince Albert.
Juga skandal percintaan para royal yang selama ini saya pikir hanya ada di novel Harlequin. Meet cute yang berujung happily ever after yang tak hanya ada di dongeng Disney tapi beneran terjadi antara Queen Rania dan King Abdullah II. Perjuangan mempertahankan cinta. Crown Prince Haakon yang keukeuh menikah dengan Princess Mette-Marit meski Mette-Marit punya mantan suami yang bermasalah dengan drug, Prince Carl Philip dan Princess Sofia yang menikah meski ditentang rakyat karena masa lalu Sofia yang pernah jadi model majalah dewasa, atau Queen Jetsun Pema yang masih bocah tapi yakin someday dia akan jadi ratu dan King Jigme Khesar berjanji enggak akan menikah lagi karena setia sama Jetsun Pema.



How romantic, isn’t it?
Selain itu, saya suka melihat foto-foto anggota royal yang super elegan. Memang, sih, membuat saya berpikir betapa jauh berbedanya dunia rakyat jelata dengan mereka, tapi itulah guilty pleasure yang saya rasakan.
Bukan hanya intrik, tapi para royal ini juga melakukan banyak hal yang inspiring. Entah kenapa, sejak awal saya sudah menaruh perhatian lebih pada para Princess dan Queen. Maksudnya, Pierre dan Andrea Casiraghi itu drop dead gorgeous, tapi Princess Charlotte lebih menarik untuk diikuti.
Kecuali Prince William, yang sejak dulu memang bikin drooling.
Dan Crown Prince Hussein yang enggak kalah bikin drooling dan menjadi guilty pleasure terbesar saya saat ini, he-he.

Queen Rania of Jordan



Dia mengisi celah yang ditinggalkan sejak Lady Di meninggal. Selain aksi sosialnya, Queen Rania juga berani. Ingat, dia dari negara Arab, ketika perempuan seringkali sulit untuk tampil. Bahkan, ada beberapa rakyat Jordan konservatif yang tidak suka sama Queen Rania karena terlalu speak up. Untung saja dia hidup di masa sekarang, dan King Abdullah II yang sangat mendukungnya. Kalau tidak, nasib Queen Rania mungkin akan seperti Princess Dina, istri pertama late King Hussein of Jordan.
Queen Rania memang fokus di anak-anak dan pendidikan, tapi saya suka cara dia membawakan diri sebagai perempuan dan mengajak perempuan di manapun untuk berani mengungkapkan pendapat. Dia juga berusaha mematahkan stigma di dunia bahwa perempuan muslim tidak boleh bersuara. She’s the real queen.


Karena itu, Jordan royal family menjadi keluarga kerajaan favorit, setelah British Royal yang ultimate yah, disukai banyak orang.

Queen Letizia of Spain



She’s journalist before she became queen. Sekilas, dia mirip Queen Rania, ya. Entahlah, vibe yang mereka berikan terasa sama, perempuan cerdas yang tahu cara membawakan diri. Alasan saya menyukai Queen Letizia sama dengan alasan saya menyukai Queen Rania. Dia sosok cewek keren modern yang tahu cara bertindak.
Sama juga dengan Queen Rania, she puts her family first. Dia bahkan melarang Queen Sofia bertemu anak-anaknya, Princess Leonor dan Infanta Sofia, agar mertuanya itu tidak ikut campur cara dia merawat anak-anaknya. Atau ketika dia nganterin anaknya sekolah, dan King Felipe di mobil kesulitan ngajarin soal tabel Kimia ke anak-anaknya, he-he.



Crown Princess Victoria of Sweden


You may say Duchess of Cambridge or Duchess of Sussex, but she is the most famous royal. Bayangin girl’s squad yang isinya the future queen of Europe, seperti Crown Princess Victoria of Sweden, Princess Mary of Denmark, Princess Matte-Marit of Norway, Queen Mathilde of Belgium, Queen Maxima of the Netherland, Princess Madeleine of Sweden dan Princess Sofia of Sweden.
Victoria juga dikenal sebagai Godmother of Europe saking banyaknya jadi Godmother untuk anak-anak royals. Tapi, vibe hangat yang dia pancarkan yang membuat saya menyukainya. Juga pengalaman hidupnya yang kaya, berpindah dari satu negara ke negara lain demi misi kemanusiannya. Dan jangan lupa, kisah cinta sederhana dan manis dengan Prince Daniel, yang tadinya personal trainer dia.
Sebenarnya, agak susah memilih antara Victoria atau Madeleine karena dua-duanya sama-sama hangat dan murah senyum, juga punya kisah cinta dramatis, he-he.



Charlotte Casiraghi



Keanggunannya membuat orang-orang seperti melihat Princess Grace Kelly semasa muda. Alasan saya menyukainya simpel, bisa dibilang karena cinta masa kecil, he-he. Ditambah dengan kehidupannya sebagai rakyat biasa (karena ayahnya tidak menerima gelar kerajaan meski secara garis darah, dia keturunan kerajaan), dan punya karier di bidang jurnalistik. Ah, kulemah sama mereka yang bekerja di bidang ini.
Royal Children
Yes, you heard me. Saya membayangkan di masa depan, ketika royal children ini sudah dewasa, beberapa memerintah negaranya, pasti akan sangat menyenangkan. Karena, entah mengapa mereka hampir seumuran dan sebagian besar PEREMPUAN. Girl Power, yes!
Sebut saja Princess Leonor yang ada di urutan tahta pertama kerajaan Spanyol, Princess Elisabeth yang sekarang berumur 17 tahun, Catharina-Amalia, Princess of Orange dari Belanda yang masih 13 tahun, Princess Estelle, urutan kedua tahta Swedia. Jadi, ketika mereka memerintah, bisa aja samaan periodenya.







Belum lagi royal children lain yang ada di urutan tahta kesekian tapi diyakini akan sangat berpengaruh di masa depan. My favorite, Princess Charlotte yang kecil-kecil sudah tahu cara bertindak seperti seorang ratu. Juga Infanta Sofia, meski lucu aja lihat dia kalau lagi bareng Princess Leonor, karena sering didandanin kembar sama ibunya jadi berasa lihat si kembar di The Shining, he-he. Juga Princess Leonore dan Princess Adrienne yang masih bayi, pasti mereka akan jadi seperti ibunya, Princess Madeleine.





Crown Prince Hussein of Jordan


Ini dia contoh kesuksesan mendidik dari orangtua keren. How he looks up to his father, how he balance his duty as second in line to the throne and being ordinary guy who loves football, just like her mother who is Queen by day and just an ordinary mother by night.
Mengikuti Instagram dia sih guilty pleasure banget. Dan sosok pangeran serba bisa melekat di dia. Militer? Check. Bisnis? Check. Pintar? Check. Nerbangin helikopter, wall climbing atau safari dessert, main bola sama teman-teman atau jamming bareng adik di waktu senggang? Check. No wonder kalau dia disebut sebagai the leader of 21st century dan icon young leader di masa depan.
I mean, look at him. I bet you’ll have a very nice dream tonight.



Dan mengikuti kegiatan para royal ini di Instagram adalah guilty pleasure. Membaca Daily Mail dan segala intriknya, itu lebih guilty pleasure lagi. Membahas kabar terbaru dengan teman sesame royal trash, chat bisa berjam-jam tanpa henti, he-he.
“Guilty pleasure gue itu main hape depan anak. Karena mestinya, sebagai working mom, waktu gue yang tersisa sedikit di rumah harusnya dimanfaatin total sama anak. Tapi karena gue suka scrolling Instagram, Twitter, kepo, dll jadi ya… kebiasaan ini susah lepas. Itu sekarang, kalau dulu gue suka banget kepoin mantan gue dan mantannya suami. He-he, enggak banget sih, but somehow itu menarik, apalagi when you know your life is happier without your ex. In my husband’s ex case, kadang gue tetap berpikir kalau gue jauh lebih baik dari dia. Kepo is my middle name, he-he. Tapi sejak nikah, cuma buat iseng aja, bukan buat comparing.” Fhia, yang entah gimana malah kepikiran ngasih tema ini, he-he.

So, what are the most guilty pleasure thing you ever did?