2015 - Ifnur Hikmah

Friday, October 16, 2015

Bayangan di Pintu Elevator
October 16, 20151 Comments
Note: cerita ini terinspirasi dari lagu terbaru Jonghyun berjudul Elevator yang dirilis di acara Mnet Monthly Live Connection. Lagu ini terinspirasi dari masa kecil Jonghyun yang bisa dibilang menyedihkan, dan ketika dia menatap bayangannya di pintu elevator, dia teringat masa kecilnya dan pencapaiannya hingga sekarang.



Bayangan di Pintu Elevator
Ifnur Hikmah



Tatapan sayu di pintu elevator itu balas menatapku. Terlihat menantang di balik wajah kuyu. Dia terlihat sangat letih, dengan bercak-bercak peluh bercucuran menetes di pelipis mengalir hingga ke garis rahangnya. Matanya yang sayu terlihat makin redup dengan adanya kantong gelap menggantung di bawah sana.
Aku mengangkat tangan, mengusap peluh yang menetes di keningku. Bayangan di pintu elevator itu pun melakukan hal yang sama.
Aku tersenyum tipis. Bayangan di pintu elevator itu juga melakukan hal yang sama.
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku berbisik, berharap bayangan di pintu elevator itu mendengar pertanyaanku. “Apa kamu tidak letih setiap hari harus pulang tengah malam seperti ini? Demi apa?”
Aku menggeleng pelan. Wajah yang tengah menatapku itu terlihat semakin sendu.
“Lihat dirimu. Kamu tidak ada ubahnya seperti mayat hidup.”
Seolah mendengarkan ucapanku, bayangan itu tertawa sinis.
Aku tertawa sinis.
Dan bayangan di pintu elevator itu terus menatapku, membuatku bertanya, benarkah yang kulakukan sekarang?
*

Katanya rumah adalah istana buat kita. Sesederhana apapun, rumah adalah istana terindah yang kita miliki.
Namun, rumah kecil ini membuatku sesak. Ketika aku berlari keluar rumah pun, aku tidak merasakan kelegaan. Malah, sesak di dadaku semakin menjadi-jadi. Jalanan kecil di depan rumah, yang langsung berbatasan dengan rumah lainnya, anak-anak kecil seusiaku yang berlarian kian kemari, ibu-ibu yang sibuk menawar sayuran di kios sayur kecil di depan rumahku—ibuku ada di sana, meladeni ibu-ibu yang sibuk menawar harga itu. Di dekat sana ada kursi kayu seadanya, tempat nenekku sibuk merajut dengan tatapannya yang menerawang entah ke mana sampai nanti tiba saatnya dia beranjak kembali ke dalam rumah saat matahari mulai tenggelam dan kembali mengulang hal yang sama keesokan harinya. Beliau selalu membawa benang dan jarum rajut.
Namun, rajutannya tidak pernah selesai.
Aku menengadah, membiarkan mataku menantang sinar matahari di atas sana. Kuhela napas panjang, berharap aku dapat merasakan ketenangan.
Namun, teriakan anak kecil yang saling berantem berebut kelereng, ibu-ibu yang semakin ganas dalam menawar sayuran, dan adik laki-lakiku yang terus menerus memutar kaset tua hadiah dari ibu di ulang tahunnya beberapa bulan lalu, membuat dadaku kembali sesak.
Ini rumahku. Namun, ini bukan istanaku.
Aku ingin segera pergi dari sini. Pergi dari tempat yang membuatku merasa terjebak di tempat sempit seperti ini. Aku ingin pergi bersama nenek ke tempat yang nyaman sehingga dia bisa menyelesaikan merajut syal itu. Aku ingin pergi bersama ibu sehingga beliau tidak lagi harus menghadapi ibu-ibu menyebalkan yang selalu menawar sayuran kami dengan harga rendah. Juga adik laki-lakiku, ke tempat dia bisa menyanyi dengan tenang dan tidak perlu lagi mendengarkan lagu lama dari kaset tua itu.
Namun, ketika aku menatap kedua kaki kecilku, aku tahu keinginanku itu sangat mustahil.
*
Pintu itu membuka, membuatku segera berlari keluar. Aku menarik napas lega ketika akhirnya bisa keluar dari tempat sempit itu.
Aku ingat perasaan ini. ketika akhirnya aku, adik laki-lakiku, ibu, dan nenek berhasil keluar dari lingkungan sempit yang menyesakkan itu.
Aku menatap lorong di depanku. Lorong yang sudah akrab dalam hidupku karena selama  bertahun-tahun ini aku selalu melewatinya.
Sebaris senyum terkembang di bibirku.
Aku berbalik, dan menatap bayanganku di pintu elevator yang menutup di belakangku. Mata sayu itu masih ada. Wajah kuyu itu masih ada. Tubuh letih yang tak ada ubahnya seperti mayat hidup itu masih ada. Dan sosok itu masih menatapku, menantangku.
“Kamu tahu? Aku pernah memikirkan akan jadi seperti ini, tapi aku tidak menyesalinya. Kenapa? Karena di sini, aku tidak pernah merasa sesak lagi,” bisikku, pada bayangan di depanku.
Aku masih terus berdiri di sana hingga pintu elevator itu kembali terbuka dan memperlihatkan sosok adik laki-lakiku yang sudah tumbuh dewasa. Dia tersenyum hangat dan merengkuhku ke dalam pelukannya.
“Ayo kita pulang. Aku lapar,” ujarnya, dan menuntunku menyusuri lorong di hadapanku menuju ibu yang siap menyambut kami dengan sayuran yang dimasaknya, serta nenek yang masih terus melanjutkan rajutannya dengan senyuman terkembang di wajahnya.
Reading Time:

Friday, August 28, 2015

Reborn: Birthday Giveaway From Iif & Ninda
August 28, 2015 2 Comments


Welcome To Iif & Ninda Birthday Giveaway
Because we share a birthday, so we make this giveaway.
Awalnya enggak nyangka kalau gue dan Ninda berulang tahun di tanggal dan bulan yang sama (beda tahun doang). Ketika tahu, langsung ngeh. Pantes gue sama Ninda mirip, hi-hi. Sekarang, kita enggak hanya sharing ulang tahun di tanggal 30 Agustus aja. Tapi, kita juga sharing ide dan tulisan di novel Reborn.
Kalau biasanya yang ulangtahun dikasih kado, sekarang kita memutuskan untuk ngerayain birthday kali ini dengan ngasih kado buat pembaca (meski enggak menolak dikasih kado kok *uhuk* lipstik *uhuk*). Karena host-nya berdua, giveaway kali ini bisa sedikit niat dengan hadiah yang lebih beragam.

This is it…
Ada lima paket buku tersedia untuk lima pemenang. Paket tersebut berisi:
1 buah novel Reborn + 1 buah novel pilihan iif dan Ninda + 1 buah majalah remaja ternama di Indonesia (uhuk).
Ke semuanya akan dilengkapi dengan sebuah tas lucu dari Reborn.

Kece, kan?
Nah, buat ngedapetinnya gampang banget. Kita menantang kamu untuk me-reinterprestasi cover Reborn sesuai keinginan kamu. Cover ini boleh memakai foto apapun, entah itu foto kamu, foto idola kamu, foto nemu di Thinkstock, anything. Yang penting, kamu bisa menggunakan foto tersebut untuk menginterpretasi ulang novel Reborn jadi versi kamu.
Setelah selesai, kamu bisa share foto tersebut lewat dua cara:
1. Share di twitter dengan format: #RebornGiveaway + arti cover bikinan kamu + @iiphche @nindasyahfi. Kamu boleh mengirim 3 twit sekaligus, tapi karyanya cukup satu aja.
2. Share di Instagram dan tag @ifnurhikmah. Di caption, ceritakan arti dari cover bikinan kamu. Jangan lupa hashtag #RebornGiveaway.
Giveaway ini ditunggu sampai tanggal 13 September 2015. Pengumuman pemenang dilakukan tanggal 14 September 2015.

Buat yang masih bingung, ini dia cover dan sedikit gambaran dari Reborn.
Reborn
Karena Setiap Orang Membutuhkan Kawan Bicara
Gati dan Luca tidak sengaja bertemu di Milan. Mereka awalnya hanyalah orang asing dengan masalah masing-masing dan sama-sama terdampar di Milan. Gati sengaja datang ke Milan demi memenuhi keinginan mendiang sahabatnya, sedangkan Luca terpaksa kembali ke kota itu karena sang ayah meninggal. Mereka yang berawal dari orang asing, perlahan mulai membuka diri hingga saling memahami. Dan menyadari bahwa yang sebenarnya mereka butuhkan adalah kawan bicara, serta keberanian dalam menghadapi apa yang selama ini ditakuti.
Hint: Cover Reborn ini bolak balik. Yang tertera di atas cover dari sudut pandang Gati. Selain itu ada cover dari sudut pandang Luca dengan imej tuksedo/jas pengantin cowok. Nah, kamu bisa menginterpretasikan dari sudut pandang masing-masing atau langsung keduanya. Bebas-bebas aja, sih, selama masih make sense.

So, what are you waiting for? Kami tunggu ya hasil kreasinya.
Regards,
Iif + Ninda
Reading Time:

Monday, July 13, 2015

[Book Review] Critical Eleven by Ika Natassa
July 13, 20151 Comments
Critical Eleven
Ika Natassa



Maybe this is the most anticipated book of the year. Gimana enggak, teaser demi teaser yang dikeluarkan Ika selama 2 tahun akhirnya terbayar ketika kita bisa PO. Enggak nyangka bisa dapat (sempat ada dramanya juga hihi).
Mungkin, karena title the-most-anticipated itu juga aku jadi memasang high expectation untuk buku ini. Come on, ini masterpiece terbarunya Ika gitu. Buku dia enggak pernah enggak bikin kagum (kecuali Twivortiare 2 yang jujur aja aku enggak minat). Karena itu, jadi enggak sabar buat baca.
Pertama-tama, aku enggak punya gambaran soal isi ceritanya kayak apa. Oke... sejujurnya, aku sempat menebak-nebak dengan tebakan klise some guy and some girl ketemu di bandara berkali-kali lalu kisahnya berlanjut di bandara. Or the handsome passenger with beautiful stewardess. Tapi, ketika baca, ternyata temanya enggak se-shallow bayanganku. Enggak nyangka kalau Ika menyorot masalah pernikahan. Di awal-awal, sempat bertanya-tanya apa yang membuat Tanya dan Ale jadi seperti orang asing.
Ternyata...
Dealing with grief. Tema yang mungkin biasa tapi jadi luar biasa karena cara Ika menyampaikannya yang luar biasa. Ya udah sih ya, kalau urusan gaya menulis enggak usah dibahas. Aku masih suka dengan gaya menulisnya Ika yang lugas dengan suguhan informasi di sana-sini. Dan, suguhan itu enggak terkesan menggurui. Mungkin beberapa orang merasa keberatan, bilang Ika show off dengan semua name dropping-nya itu. But i'm fine with that.
Cara Ika membangun chemistry antara Tanya dan Ale juara. Kerapuhan mereka, pergolakan bathin mereka. Aku suka. Ika berhasil menggambarkan konflik bathin Tanya dan Ale, masing-masing dengan cara yang berbeda. Susah lho nulis dari sudut pandang cowok, dan Ika berhasil.
Jadi, apa aku suka dengan novel ini?
I like it. Tapi, enggak terlalu menikmatinya.
Why?
Simply because of the characters.
Tanya dan Ale enggak jauh beda dengan karakter Ika sebelumnya. Keberatanku sama kayak tokoh-tokohnya Christian Simamora yang selalu berada di pakem itu. Tanya kerasa kurang istimewa karena aku melihat ada Keara di sana, ada Alex juga. Ale pun juga, ada Beno dan Ruly di sana. Makanya, ketika aku siap-siap untuk dibikin kesengsem sama Ale, ternyata enggak karena aku melihat dia sebagai Beno dan Ruly. MUngkin Ika harus keluar dari pakem cool-independent-modern kind of girl dan cowok-pendiam-tapi-romantis. Buat pembaca baru, karakter ini mungkin biasa-biasa aja, tapi buat yang mengikuti Ika dari awal, lama-lama bosan juga disuguhinya yang begini-begini terus (untung Tanya enggak bankir haha).
Oh, sepertinya Ika kecele di novel ini. Bagian Tanya bilang dia suka toko buku dan toko buku dengan segala keberagamannya, itu kan pernah dibikin di Antologi Rasa bagian Ruli?
Jadi, kesimpulannya, aku suka Critical Eleven tapi enggak terlalu menikmati. Sejauh ini, favoritku dari Ika tetap Antologi Rasa.

(Oh bahkan di sini Harris lebih mencuri perhatian dibanding Ale).
Reading Time:

Monday, May 18, 2015

Charli XCX & Meghan Trainor Concert, First Experience, and Random Talk With Singaporean Teenagers
May 18, 20150 Comments
Oke, this is supeeer late.

Sebenarnya kejadian ini udah hampir sebulan lalu, tepatnya 21 April 2015. Masih ingat banget di ingatanku waktu itu hari Selasa, beberapa menit menjelang jam 12 siang alias jam makan siang, ketika Mbak TZ, pemimpin majalah X tempatku bekerja, memanggil ke ruangannya. Di ruangannya, Mbak TZ—sambil ketawa—bilang, “Jadi, harusnya besok NN ke Singapur buat liputan. Tapi, paspor dia abis bulan September jadi enggak bisa pergi. Kamu paspornya masih ada kan? Kamu yang pergi, yah.” (ya kira-kira begitulah ucapannya mbak TZ, secara udah lama, jadi lupa-lupa ingat).
Reaksiku waktu itu, jeng jeng… ketawa garing. Kenapa? Soalnya, berangkatnya itu besok pagi dan ini mendadak banget. juga kasihan sama NN yang udah persiapan super matang buat berangkat, lalu batal berangkat karena kesalahan teknis, sedang aku enggak ada persiapan apa-apa. Jadilah sore itu kalang kabut nyiapin semua kebutuhan buat berangkat besok subuh.
Gila, interview di daerah Jakarta aja bisa dibikin kalang kabut kalau waktunya mendadak begini. Apalagi ini? Liputan di negeri orang, artis bule, konser, dan semuanya serba mendadak? Jadinya, malam itu enggak bisa tidur. ditambah dengan kebiasaanku yang emang enggak bisa tidur nyenyak setiap kali mau naik pesawat pagi besoknya.
Long story short, sampailah di Singapura. Jadwalnya hari itu press conference Charli, dilanjutin Meet and Great lalu malamnya konser. Untungnya sih enggak sendiri, ada temen dari majalah Z dan radio P dan temen-temen dari labelnya Charli di Indonesia. Okelah, meski deg-degan dan persiapan seadanya, kita hajar aja.
I know Charli from The Fault of Our Stars. Hei, I am John Green biggest fans. I like everything about John, termasuk soundtrack TFIOS. Jadilah, aku excited begitu mau ketemu Charli. Terlebih, dari hasil riset berupa tontonan dan baca-baca interview dia, ketahuan kalau anaknya cuek tapi yakin dengan yang dia mau. And she also loves Britney Spears and her biggest influence is 90s music. Oke, dua kesamaan yang bikin aku makin semangat buat ketemu Charli.
Ketika press conference, jawaban-jawaban Charli yang witty tapi nancep bikin aku makin takjub sama dia. Di balik sikapnya yang terlihat cuek dan imej rebel doi, tersimpan jawaban-jawaban yang fun dan cerdas. Wow.

Malamnya, adalah konser Charli. Untuk liputan konsernya sendiri bisa dibaca di majalah kaWanku edisi #203 yang terbit 13-27 Mei 2015 dengan kover Raisa (oke, ini pure promosi ceritanya, he-he). Yang jadi highlight sebenarnya bukanlah konser Charli (hei, konsernya udah ditulis di majalah), tapi pengalaman nonton konser. Ini pertama kalinya nonton konser di luar negeri soalnya, he-he.
Ketika menunggu di media pit, sempat ngobrol-ngobrol dengan abege-abege Singapur. Begitu aku minta foto mereka, dengan excited mereka pasang gaya paling gokil. Pas aku bilang aku dari majalah, mereka makin menjadi-jadi girangnya. Padahal, ini kan bukan majalah di negara mereka. Malah, ada satu anak, langsung manggil teman-temannya biar ikutan foto. enggak jaim dan apresiatif banget.
Jadi ingat pengalaman minta foto penonton konser di Jakarta yang sebelum bilang mau selalu punya banyak alasan. “Jangan ah, kak. Malu.” Atau “jangan deh kak, lagi kucel, enggak cantik,” dan sejuta alasan lain. Masalahnya, ini kan konser. Lo panas-panasan antri lama, gerak ke sana ke mari, heboh-hebohan menunggu idola lo, wajar dong kalau jadi kucel? Lalu, kenapa harus malu? Malah, kekucelan itu jadi bukti betapa excited-nya lo ketemu sama idola lo.

Okay, back to the topic. Gue sempat ngobrol-ngobrol panjang dengan Beau, dkk. Empat cowok Singapur. Mereka excited nanya-nanya soal pekerjaan gue. Sampai ada satu cewek di belakang mereka yang dari tadi nguping bilang ‘you have the coolest job ever. I wanna be like you.’
Detik itu, aku terdiam. Bahkan enggak denger Beau nanya apa. Celetukan itu bikin aku mikirin lagi pekerjaan yang aku geluti.
Anak lain bertanya. “Have you met your idol?”
Pertanyaan itu bikin aku mengangguk senang. Yess, I have.
Anak itu menimpali, “I want to have a job like you, so I can meet my idol, interview her/him, watch her/him performance, and go to another country.”
Aku cuma tersenyum. Andai kamu tahu dek kalau kenyataannya enggak seperti itu.
Tapi, dia ada benarnya juga. Mereka harus keluar duit banyak demi ketemu idola, itu pun enggak semuanya bisa tatap muka langsung. Dan masih banyaaak anak-anak di luar sana yang enggak bisa nonton konser idola mereka. And, here I am. Kalau dilihat dari kacamata fangirl, jelas pekerjaan ini adalah ANUGERAH BESAR.
So, this is one of many reasons why I love my job.
Begitu aku keluar dari media pit, Beau sempat teriak, “Please ask Charli, what is her favorite food? Thank you.” And I keep that question in my mind, I will ask her tomorrow. Soalnya, besok jadwalnya ketemu Charli.

Hari pertama berjalan dengan lancar. Yang awalnya enggak yakin bisa, hari ini jadi semangat. Hari pertama udah dilewatin tanpa halangan berarti, lalu hari kedua pasti bisalah, he-he.
Hari kedua di Singapura. Jadwalnya, interview Charli lalu berlanjut ke press conference Meghan Trainor dan malamnya nonton konser Meghan di lokasi yang sama dengan Charli malam sebelumnya. Setelah ada drama kehujanan dan muter-muter demi nyari hotelnya Charli, akhirnya ketemulah sama Charli. Sempat deg-degan begitu mau masuk ke ruangan tempat Charli, menunggu. Namun, deg-degan itu hilang begitu Charli menyambut dengan senyum dan celetukan, “Hei, we meet again.” Gilak, enggak nyangka kalau dia masih ingat kemarin pernah ketemu di press conference dan sempat foto bareng waktu meet and great.
Ngobrol dengan Charli seru. Anaknya enggak jaim dan jawaban-jawaban dia bikin aku akhirnya menyingkirkan daftar pertanyaan yang udah disiapin. Karena, lebih enak ngobrol sama dia daripada tanya jawab. (Lengkapnya, bisa dilihat di majalah kaWanku 204 yang terbit 28 Mei 2015 kover Charli XCX). Dan, enggak lupa nanyain pertanyaannya Beau.

Selesai interview, saatnya beranjak ke tempat selanjutnya buat preskon Meghan Trainor. Jika sebelumnya pas Charli ada teman, untuk Meghan, I do it by myself. Alias, teman dari majalah Z dan radio P udah pulang karena mereka enggak liput Meghan. Deg-degan yang sempat hilang kembali muncul. Tapi, pede aja. pikirannya, Hari pertama bisa lancar, maka hari kedua pun pasti bisa. Untung enggak lama ketemu mbak dari label Meghan di Indonesia sehingga enggak kayak anak hilang deh.
Hmm… Meghan? She’s sooo beautiful. Aslik, cantik gilak. I love her, lagu-lagunya yang punya banyak pesan positif dan kepercayaan dirinya yang patut diacungi jempol. Selama beberapa saat, sempat bengong akibat jawaban dia selama preskon. Dia enggak kayak para motivator yang penuh kalimat bersayap demi memotivasi orang, tapi Meghan memberikan kalimat cablak yang terkesan realistis dan penuh humor tapi malah efek memotivasinya lebih dahsyat dibanding ucapan para motivator. Enggak jarang ucapan Meghan bikin orang yang dengerin dia waktu mengangguk setuju, termasuk aku, yang berkali-kali bilang, ‘you’re right, girls.’ (Baca cerita selengkapnya di kaWanku edisi 205 yang akan terbit bulan Juni nanti*promo lagi*).

Highlight terbesar malam ini juga terjadi di lokasi konser. Aku ketemu dengan anak-anak yang super excited begitu mau menonton Meghan. Beberapa anak yang ketemu semalam di konser Charli juga ketemu lagi malam ini. Mereka bahkan mengajak ngobrol duluan begitu aku bengong nunggu konser mulai di media pit. Seperti kemarin, mereka bertanya aku dari mana, pekerjaanku, dan pendapat mereka tentang pekerjaan.
Back to the days when I was a naïve teenager for a small town. Waktu itu, mengandalkan koran dan majalah, aku membaca info soal idolaku (Britney Spears, The Moffatts, etc). Sejak saat itu, aku pun sudah memiliki rasa iri pada wartawan-wartawan itu yang berkesempatan ketemu sama artis idolaku (ya, aku pun masih iri sama mbak M dari majalahku yang pernah ke LA dan ketemu The Moffatts. Gilaaakkk, gimana enggak iri cobak? They are my childhool hero). And that night, at The Coliseum Hard Rock Café Singapore, I know that I am one of the lucky girl who can accomplish her childhood dream and make a living from what she loves.
Malam itu aku juga ketemu Amy (ternyata, dia berulang tahun dan malam itu diajak Meghan ke atas panggung. Liputan konser Meghan bisa dibaca di kaWanku 203 terbit 13-27 Mei 2015 kover Raisa). Amy and the gank remind me of my past. Mereka yang masih bersemangat menggapai impian dan punya cita-cita yang seru. Hei Amy, wherever you are, I believe someday you will be whatever you want. Dan, hal yang paling diingat justru malah ngobrol-ngobrol bareng anak-anak ini.

Oh, di saat ngobrol sama Amy, Beau nyamperin dan nagih pertanyaan dia.
Dan, sebelum keluar dari media pit, Amy ngacungin tangan sambil bilang, ‘high five’. Setelah high five, Amy bilang ‘see you again’.
Yess, see you again, Amy.
People said that you will never forget your first experience. Dan aku enggak akan pernah lupain pengalaman deg-degan liputan jauh mendadak dan berakhir ke ngobrol-ngobrol seru bareng abege-abege yang masih polos ini. Dan tentu saja, nonton konser Charli dan Meghan, he-he.

And… I’m ready for new challenge, haha
Reading Time:

Thursday, April 9, 2015

Giveaway Novel Reborn
April 09, 2015 4 Comments
#Reborn: Karena Setiap Orang Membutuhkan Kawan Bicara.



Enggak ada yang lebih menyenangkan selain menyaksikan proses kelahiran sebuah buku. Proses berdarah-darah *oke, lebay*, kurang tidur, kurang main, dan lain-lain akhirnya terbayar begitu memegang novel yang baru terbit. Rasanya, tuh, sama kayak mendapati sepatu yang udah lama diincar tapi harganya selangit ada di rak sale tiga bulan kemudian *okay, enough with this metaphore*.
Seperti biasa, aku enggak pengin ngerasain momen-momen bahagia ini sendiri. I want to share it with you guys. Jadi, di post ini, aku mau ngadain giveaway berhadiah novel terbaruku, REBORN, plus beberapa novel lain pilihanku.
How:
1. Jawab pertanyaan berikut: Kalau kamu terlahir kembali sebagai seseorang, kamu pengin jadi siapa?
2. Ada dua cara menjawab:
Lewat twitter: mention jawaban + foto orang yang kamu pengin ke akun @iiphche. Maksimal 3 twit.  Di twit terakhir tambahkan nomor hadiah yang kamu mau. Sertakan hashtag #RebornGiveaway.
Lewat Instagram: tag foto dan sertakan alasan kamu memilih dia di caption ke @ifnurhikmah plus hashtag #RebornGiveaway. Sertakan juga nomor hadiah yang kamu mau. Maksimal, 2X tag.
3. Kamu boleh memilih salah satu dari dua cara tersebut.
4. Periode giveaway: 10 April 2015-20 April 2015.
5. Pengumuman akan dilakukan tanggal 21 April 2015.
6. Berikut hadiah yang bisa kamu pilih:
A. Reborn + 2 novel pilihan (Sparkle by Eve Shi dan Love You Anyway by Alamanda Hendarsyah)
B. Reborn + 2 novel pilihan (My Friends My Dreams by Ken Terate dan Being 17 by Amalia)
C. Reborn + 2 novel pilihan (Practice Makes Perfect by Julie James dan Too Hot To Handle by Robin Kaye)
D. Reborn + 2 novel pilihan (Wallbanger by Alice Clayton dan The Accidental Best Seller by Wendy Wax)
E. Reborn + 2 novel pilihan (Bidadari Santa Monica by Alexandra Leirisa Yunadi dan Dramaturgi Dovima by Faris Rachman Hussain).

Ditunggu partisipasinya, ya, girls. Info selanjutnya bisa ditanyain lewat komen di postingan ini atau mention aku di @iiphche.


Enjoy this giveaway!!!
Reading Time:

Thursday, March 26, 2015

Joy, Please Stay
March 26, 20151 Comments
Joy, Please Stay
Oleh Ifnur Hikmah



Joy, Joy, please stay
I will give you all my heart and soul and everything
Joy, Joy, please stay
I know it’s hard but I will try to understand that you just wanna do the right thing
But deep in my heart I will always hope you to stay with me
Joy, Joy, please stay
**

The Barfly, 49 Chalk Farm Road, Camden Town, London. Saturday, March 28th, 2015. 23:03
Masih ada satu jam menjelang pergantian hari.
Happy birthday, Louis. I hope you’ll have a wonderful year ahead.
Aku mengangkat gelas berisi bir itu tinggi-tinggi, menganggukkan kepala ke sekeliling ruangan, meski tidak ada seorang pun yang kukenal. Permohonan yang sederhana, tapi hanya bisa kuucapkan seorang diri. Aku tidak tahu, apakah udara pekat di pub ini bisa mengantarkan permohonanku kepada Louis yang entah di mana sekarang.
Setidaknya, di dalam pub yang penuh sesak oleh orang-orang dan raungan gitar yang makin memekakkan telingaini, aku bisa merasakan kehadirannya. Aku bisa menatap foto dirinya berada di bawah sorotan lampu sambil memegang gitar dan urat-urat bertonjolan di dahinya saat dia menggapai nada tinggi sewaktu foto itu diambil.
Juga, dari alunan lagu yang tengah dimainkan The Average Boys di atas stage. Lagu yang dulu dinyanyikan Louis di hadapanku saat aku memutuskan pergi dari hidupnya. Lagu yang kemudian melambungkan nama Louis dan membuatku terkenal sebagai Joy the Heartbreaker.
Joy, Joy, please stay.
Setelah gelas ke sekian, aku merasa Louis-lah yang menyanyikan lagu itu. Tepat di hadapanku. Memohon agar aku tetap tinggal.
Aku menutup mata. Berharap ketika membuka mata, dia benar-benar ada di depanku. Dengan cengiran lebar khasnya.
Namun, aku tahu, harapan itu tidak akan mungkin terkabul.
**

Joy, Joy, please stay…
Sebut aku bodoh karena terus memutar lagu tersebut di sepanjang Chalk Farm Road. Aku tahu, seharusnya aku mematikan lagu itu. Namun, aku tidak bisa berpisah dari Louis. Untuk saat ini, hanya suaranya yang kumiliki.
Dan, hanya lagu itu satu-satunya cara agar aku bisa mendengar dia memanggil namaku.
Joy, Joy, please stay.
Dan memintaku untuk tinggal.
Aku merapatkan jaket yang kupakai. Udara malam Camden terasa menusuk kulit. Satu lagi kebodohan yang kulakukan—berjalan tak tahu arah di bawah pengaruh alkohol yang membuat kepalaku terasa berat di saat seharusnya aku beristirahat untuk mengejar penerbangan pukul enam pagi ke New York. Namun, aku tetap bertahan di sini. Menelusuri jalan yang dulu kujelajahi dengan tanganku berada di genggaman Louis.
Camden Lock Market terpampang di hadapanku. Malam ini, pasar itu masih ramai. Langkahku menuju ke sana. Teringat dulu aku dan Louis sering berada di sana. Selalu saja ada barang unik yang kami temukan di sana—penjual baju bekas yang menawarkan pakaian murah, koleksi piringan hitam atau CD penyanyi kesukaan Louis, pelukis jalanan yang melukis kami, dan makanan. Ada banyak penjual makanan yang dulu selalu mengisi perutku dan Louis.
Pasar itu ramai, tapi aku merasa sepi. Sepi yang selalu menghantuiku semenjak aku memutuskan untuk mengakhiri semua yang sudah kujalani bersama Louis selama lima tahun terakhir demi impian yang ingin kuraih.
Aku berhenti di depan penjual kopi. Aku tahu, seharusnya aku tidak menambah beban kepalaku dengan kafein. Namun, aku butuh sesuatu untuk mengembalikan kehangatan yang sudah hilang semenjak aku meninggalkan Louis dua tahun lalu.
**

Louis tengah memainkan gitarnya di The Barfly. Dia akan tampil sebentar lagi. Untuk ukuran pub lokal, The Barfly sangat terkenal—terutama bagi para calon musisi yang berharap bernasib sama seperti Blur, Oasis, atau Coldplay yang mengawali karier di sini. Termasuk, Louis. Dia berharap pub ini bisa melemparkannya ke panggung besar di O2 Arena.
Menemani Louis selalu terasa menyenangkan. Dia dengan gitarnya, dan aku bersama buku gambarku. Aku akan menggambar apa saja, tapi seringnya aku melukis para pengunjung pub. Aku juga melukis Louis. Sudah tidak terhitung berapa banyak lukisan Louis terpampang di flat sederhana yang kami sewa bersama.
Namun malam itu, ada sesuatu mengganjal benakku. Selembar kertas berisi pemberitahuan aku menerima beasiswa di New York. Aku punya dua pilihan; terima atau tolak—setiap pilihan pasti akan menyakitiku atau Louis.
“It’s my turn.”
Aku mendongak dan tersenyum mengiringi kepergian Louis menuju panggung. Aku terdiam cukup lama, merekam semua momen itu ke dalam benakku.
Entahlah. Malam itu aku merasa aku akan menyakitinya.
**


Aku melakukannya. Menyakiti Louis.
Gig itu sukses. Louis bahkan menerima beberapa tawaran untuk tampil di pub lain di London. Dia terlihat sangat bersemangat saat kami berjalan menelusuri Chalk Farm Road. Gitarnya ikut terayun seiring langkah kakinya.
Cuaca malam Camden menusuk tulang. Louis menggenggam tanganku dan menyimpannya ke dalam saku coat yang dikenakannya.
“Sudah lebih hangat, kan?”
Aku mengangguk. Sementara satu tanganku berada di dalam saku coat Louis, tanganku yang lain sibuk memainkan selembar kertas di dalam saku jaketku. Kertas itu terasa berat, tapi cepat atau lambat, aku harus membawanya ke hadapan Louis.
Begitulah. Aku berhenti di depan sebuah barbershop. Louis menatapku heran saat aku mendadak berhenti.
“Ada apa, Joy?”
“Aku…” aku tergagap. “Aku menerima beasiswa di New York.”
Louis tahu betapa aku ingin menjadi seorang pelukis. Betapa aku menginginkan kesempatan ini. Namun saat itu, aku melihat sebaris luka di wajahnya.
**

Pada akhirnya, aku meninggalkannya. Ketika mengepak barang-barangku, dia menyanyikan lagu itu, untuk pertama kalinya.
Joy, Joy, please stay.
Aku menulikan telinga karena aku yakin lagu itu bisa mengubah pendirianku jika terus mendengarnya.
I’m sorry, Joy. Aku enggak bermaksud membebanimu,” Louis memelukku. “Creativity is great. Dan, kepergianmu membuatku berhasil memecahkan rekor membuat lagu dalam waktu sepuluh menit.” Louis menyengir lebar, tapi aku tahu hatinya merasa sakit. “Pergilah. It’s your dream. Bukankah kita sudah berjanji akan menggapai mimpi masing-masing?”
Aku mengangguk pelan. “I know it’s hard but in the end I understand that you just wanna do the right thing,” bisiknya.
**

Aku merapatkan jaket dan memeluk tubuhku sendiri untuk mengusir rasa dingin. Aku menangadah, menatap langit gelap di atasku ketika aku kembali berada di The Barfly. Louis sudah selesai menyanyikan Joy, Please Stay dan keheningan menyergapku.
Aku mengeluarkan iPod dan kembali memutar lagu itu. Perlahan, aku membuka pintu The Barfly dan disambut oleh foto Louis.
Aku tidak tahu di mana dia. Namun aku tahu, seperti diriku, dia juga sudah berhasil menggapai impiannya.
***



Salah satu tokoh yang menarik perhatianku adalah Tyrion Lannister. Selain keadaan fisiknya yang langsung menarik perhatian, aku mengagumi karakternya yang ambisius. Sepertinya, di antara semua keluarga Lannister, hanya Tyrion yang bisa diajak kompromi. Di balik kekurangan fisiknya, dia punya banyak akal, strategi dan kecerdasan untuk bertahan di tengah konflik yang terjadi di Westeros, termasuk saat menjadi Hand of the King dan menghadapi King Joffrey Baratheon yang semena-mena.
Reading Time: