The Westin Jakarta: Pengalaman Menginap di Gedung Tertinggi di Indonesia

Leave a Comment



Flashback kembali ke 2020.


Staycation diprediksi akan menjadi trend liburan terbaru selama beberapa tahun mendatang. Keterbatasan ruang gerak membuat kita hanya bisa bergerak di dalam kota, itu pun masih terbatas.


Tinggal sendirian di kost ada plus dan minus-nya. Plus karena bebas sendirian dan enggak perlu berurusan dengan orang lain yang bikin mumet. Sementara minus-nya, jadi sering bosan dan stuck di ruangan yang itu-itu aja.


Mau enggak mau harus menerima kenyataan kalau masih belum bisa ke mana-mana. Then I found a new way to release my stress.


Staycation looks like the perfect way for me.


Ditambah, banyak hotel bintang lima yang selama ini di-skip karena harganya yang bikin menelan ludah alias enggak sanggup di kantong, pada banting harga. Sayang, sih, karena hotel jadi salah satu industri yang sangat terdampak pandemi.


Blessing in disguise, hotel mewah yang selama ini cuma ada di angan-angan, beberapa banting harga jadi ramah di kantong. Salah satunya The Westin Jakarta. Never I imagined that I would stay in this hotel. Harga normalnya sangatlah mencekik kantong, ya.


Dari Titik Tertinggi

Yang menjadi jualan utama The Westin Jakarta adalah posisinya yang terletak di gedung paling tinggi di Indonesia. Katanya, sih, kalau dapat kamar yang tepat, Gunung Salak bisa kelihatan kalau pagi (yang langsung dimentahin oleh Sindy dengan, ‘dari lantai 17 Energy Building aja kelihatan kalau langit lagi cerah’).





Berhubung saat itu libur super panjang, The Westin tergolong ramai (untuk ukuran saat pandemi, ya), tapi tetap mematuhi protokol kesehatan. Ini juga alasan mengapa memilih hotel bintang 5, karena percaya dengan image. Mereka keluar uang banyak untuk menjaga image, jadi pasti enggak asal.


Hotel ini memiliki kesan mewah dan sophisticated. Suka, deh, sama langit-langit yang tinggi jadi terkesan lapang. Ornamen di sekitar juga sleek dan polished.


Ketika menginap, kolam renang dan gym bisa dipakai. Sayangnya lupa bawa sepatu olahraga jadi enggak sempat nge-gym. Sementara Sindy sempat menjajal kolam renang, dan berhubung enggak bisa renang, cukup leyeh-leyeh manja di pinggir kolam renang saja.


Kamar yang Bikin Pengin Tidur Terus

Tadinya, pengin jalan-jalan di hotel untuk foto-foto tapi urung karena ramai. Alasan lainnya karena … begitu sampai kamar bawaannya mager. Serius, deh, ini hotel bawaannya pengin tidur mulu.





Selama dua malam, setidaknya bisa tidur di kasur yang sangat nyaman. I can say that ini hotel yang kasurnya paling enak. Begitu mau check out, bawaannya jadi malas. Enggak mau pisah sama kasurnya, he-he.


Oke, balik ke kamarnya. Ini tipe kamar paling standar, sih. Begitu masuk, kesan pertama untuk kamarnya adalah … serius banget, ya? Ditambah dengan bentuk jendelanya yang kayak jendela gedung perkantoran pada umumnya.





Plus, meja kerja yang semakin memperkuat kesan serius.





Lalu, bagaimana dengan view yang ditawarkan. Well, pemandangan luas tanpa batas ini memang bikin syahdu, sih, buat melamun sore-sore. Ditambah segelas wine bakalan makin seru. Namun, begitu melihat ke bawah, langsung disambut oleh area pemakaman.


But first, let me take a selfie!





Seperti yang dibilang sebelumnya, kamarnya memang memiliki suasana yang sangat homey. Jadi, meski tiga hari di kamar aja enggak bakal bosen. Bisa foto-foto atau ya sekadar tidur. Namanya juga staycation, tujuan utamanya ya untuk tidur.


Oleh karena enggak mau rugi, sempat bikin photoshoot ala-ala, he-he.






Nilai plus lain, bathtub. Saatnya berendam air hangat untuk meluruhkan rasa penat di tubuh dan pikiran untuk sejenak.


Makanan yang Juara

Salah satu yang disuka dari menginap di hotel adalah breakfast buffet. Tentunya, setiap hotel harus melakukan penyesuaian sesuai dengan kondisi sekarang. So, bye bye breakfast buffet.


Jadi, untuk sarapan kita harus order ke waitress-nya. Masih all you can eat, sih, cuma beda prosesnya aja. Jadi, enggak heran porsinya mini karena diambilin, he-he. Sisi positifnya, jadi enggak banyak makanan yang terbuang. Tahu sendiri kadang kalau mengambil makanan suka kalap, berasa habis eh tahunya malah kebuang. Kan, sayang.


Beberapa sarapan yang disantap selama dua hari di sana. Menu sarapannya beragam. Mau makan sehat, bisa pesan salad (very recommended). Mau sok-sok keminggris, bisa pesan menu western.






Egg Benedict yang leleh di mulut. Enak banget.



Di hari pertama, sih, sarapannya sok-sok aesthetic, ya. Hari kedua balik ke fitrah, alias bubur ayam dan nasi uduk, he-he-he.


Nasi goreng karena orang Indonesia belum lengkap kalau sarapan tanpa nasi.



Nasi uduk, sarapan yang kembali ke perut asal



Bubur ayam karena lagi enggak enak perutnya, he-he.



Ini sarapan di hari kedua.







Blueberry pancake




Croissant yang enak dan lembut.


I love sunny side up. Apalagi yang masih hangat dan begitu ditusuk, kuning telurnya meleleh. Ini pasti jadi menu sarapan wajib setiap kali menginap di hotel. Patokan bahagia usai menginap di hotel salah satunya bagaimana penampilan sunny side up di hotel tersebut?


TERBAIK



Untuk The Westin, aku puas!


Malam pertama juga sempat memesan chicken butter. Pilihan yang salah, bukan karena enggak enak, ya. Masalahnya di timing. Waktu itu telat makan malam, dan sebelumnya berendam dulu, jadi keburu masuk angin. Ditimpa dengan makan santan. Akibatnya sepanjang menginap di sana berjibaku dengan mencrita, he-he.





Sempat juga memesan pizza dengan tujuan … properti foto. Jadi begitu makan ya udah dingin, he-he-he.





So far puas dengan pengalaman menginap di The Westin. Sesuai tujuan, yaitu staycation. Jadi ya hotelnya memang sangat memanjakan banget buat tidur sepanjang hari.








SHARE:
0 Comments
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home
BLOG TEMPLATE CREATED BY pipdig