Resign: Menutup Satu Episode Kehidupan


Personal integrity. Kamu dan aku rada mirip. Uang dan posisi itu nomor kesekian. Harus ada yang memotivasi lebiih dari itu. Dan kalau emang udah nemuin ‘rumah’ kayaknya kalau harus pergi itu kayak diusir, padahal ya kita sendiri yang mau pergi.” - Mbak Marti.

Pada satu Juli nanti, tepat lima tahun saya bekerja di Kompas Gramedia. Seharusnya, karena sebulan sebelum merayakan ulang tahun ke-lima, saya memutuskan untuk pergi. Tentu, bukan keputusan yang mudah ketika akhirnya memutuskan untuk mengakhiri petualangan di tempat yang sudah memberikan kenyamanan. Saking nyamannya, saya tidak pernah memikirkan untuk pergi.

Tapi, hidup selalu bergerak maju sehingga kita tidak bisa selamanya berdiam di suatu tempat, sekalipun tempat itu adalah yang kita rasa sebagai tempat terbaik. Hal inilah yang akhirnya saya alami, meskipun untuk melangkah keluar dari tempat ini, rasanya sangat berat.

Saya mengawali postingan ini dengan sebuah kalimat dari mentor terbaik saya di majalah KaWanku. Mbak Marti berkata seperti itu ketika saya mengaku akan pindah kerja. She knows me since five years ago. Bahkan, dialah yang menginterview saya kala itu. Dia sudah bersama saya sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di lantai 14 Graha Mandiri, meski dia tidak bersama saya ketika saya keluar dari lantai 5 Gedung Gramedia Majalah-tapi mbak Marti menawarkan bantuan, he-he.

Kalimat itu benar. Jika saya memikirkan uang dan posisi, saya sudah lama pergi. Tapi, ada sesuatu yang mengikat saya untuk bertahan. Saya tidak menyangka keterikatan emosionalnya begitu tinggi, baik dulu saat masih bernama majalah KaWanku, hingga sekarang, bertransformasi menjadi Cewekbanget.id.

Let me teel you my story. Looking back to one afternoon in the middle of July, 2017. Saat itu saya berada di ruangan mas Devy. Keadaannya, saat itu saya sendirian. Sendirian dalam artian, semua mentor dan teman yang membimbing saya sejak saya masuk ke kantor ini pergi di saat yang bersamaan, meninggalkan saya dengan tanggung jawab baru. Mas Devy bertanya, kenapa kamu tinggal?

Kenapa saya tinggal?

Mari kita kembali ke masa lima tahun lalu. Seperti yang saya tulis di tulisan ini, ada masanya saya merasa hilang dan tidak tahu apa yang sebenarnya saya cari. I don’t even know who I am. Saya selalu dipenuhi pikiran negatif dan ketakutan. Salah satu momen yang membuat saya keluar dari masa-masa itu adalah dengan menemukan lingkungan baru.


Di lingkungan baru ini, saya bertemu orang dengan pemikiran positif. Orang yang tahu about their purpose in life. Orang yang tidak ragu untuk beropini, sekalipun mungkin opininya itu bertentangan dengan apa yang disukai oleh umum. Orang yang berani menunjukkan siapa dirinya, sekalipun mungkin tidak semua orang bisa menerimanya. Tanpa saya sadari, pikiran saya terbuka. Saya menyadari apa yang salah dengan hidup saya. Perlahan, mereka membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang. Saya pun sering berdialog dengan diri sendiri hingga akhirnya, perlahan tapi pasti, saya paham siapa diri saya yang sebenarnya. Perlahan juga, saya mulai berani beropini hingga akhirnya sekarang saya tidak lagi seperti tikus kecemplung got yang kedinginaan jadi bisanya hanya mojok.

I finally found my voice. And the most important thing, I finally found my self.

Balik lagi ke pertanyaan dari Mas Devy saat itu, apa yang membuat saya tinggal ketika ‘kakak-kakak’ saya pergi?

Jawabannya adalah karena saya masih sayang dengan tempat ini. Saya masih berharap tempat ini bisa terus menempa diri saya agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan wishful thinking saya adalah saya ingin berbagi agar orang-orang di luar sana, yang pernah merasa seperti saya--clueless, have low self esteem, merasa berada di tengah kegelapan, takut akan masa depan, tidak tahu akan siapa dirinya dan tidak tahu cara mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya--agar menemukan suara mereka dan nantinya, menemukan tempat mereka di dunia ini.

Saya tidak ingin egois. Tempat ini memberikan kesempatan bagi saya untuk berubah menjadi lebih baik lagi, dan sudah semestinya saya berbagi hal itu. Karena itulah, saya sangat menyayangi Cewekbanget.id. Ini tempat saya bersuara.

Lalu, kenapa akhirnya memutuskan untuk pergi?

Looking forward ke masa hampir satu tahun kemudian, Mas Devy kembali mempertanyakan hal yang sama. Apakah tanggung jawab itu sudah selesai? My another boss, Mas Didi, juga mempertanyakan hal yang sama, apakah sudah tidak ada lagi yang ingin saya suarakan?

Jawabannya, ada.

Lalu? Kenapa akhirnya pergi?

Because, for the first time in my life, I want to put myself first. Selama ini, saya seringkali mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang apa yang diinginkan oleh diri saya sendiri. Jadi, ketika di awal tahun saya tanpa sengaja melihat kembali daftar impian lama yang saya buat dan menyadari, sudah saatnya untuk mewujudkan impian yang tertunda itu. Dan kesempatan itu datang.

Saya memiliki target untuk pindah di 2015, tapi setiap kali saya akan pergi, ada tantangan baru, juga tanggung jawab baru (termasuk dalam hal pribadi) yang membuat saya memutuskan untuk stay.
Tiga tahun kemudian, kesempatan itu datang. Kesempatan untuk memenuhi impian yang sudah menghuni bucket list saja sejak lima tahun lalu.

Jadi, saya tidak menemukan alasan untuk menghindar. Karena dengan menghindar, saya hanya akan kembali menjadi diri saya yang dulu--takut untuk memulai sesuatu yang baru dan bertahan di kenyamanan.

Balik lagi ke omongan Mbak Marti yang saya kutip di pembuka tulisan ini. Ada banyak pertimbangan yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk pergi. Uang dan posisi bukanlah hal utama, meski pertimbangan itu terlalu personal untuk saya bagi di sini. Ketika akhirnya keputusan itu sudah saya ambil, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, saya masih menyayangi Cewekbanget.id. Namun di sisi lain, ada tujuan lain yang harus saya raih.

Meminjam istilah Mas Devy, ‘ini tuh sama kayak harus berpisah dengan orang yang kamu sayang karena beda agama. Sama-sama tahu masih sayang tapi sama-sama tahu juga, hubungan ini enggak bisa dibawa ke mana-mana.”

It’s time to move on, but why it feels so hard?

Selama satu bulan terakhir saya seolah berada di awang-awang. Setiap kali memasuki ruangan, saya berpikir, is it real?

Semakin mendekati hari akhir, semakin saya merasa berada di dalam sebuah limbo. Dan ketika hari itu tiba, ketika saya melangkahkan kaki keluar kantor untuk terakhir kalinya, di satu sisi saya merasa berat, tapi di sisi lain saya merasa bersemangat. Berat karena itu berarti saya harus menutup satu episode panjang kehidupan. Dan bersemangat karena saya akan mulai menulis episode baru dalam kehidupan.

Mas Devy pernah bertanya, apakah kamu akan bahagia di tempat baru? I don’t know what future holds for me but one thing for sure, whatever happen, I’m ready to take a risk because I have responsibility for every choice I made.

Jadi, saya ingin berterima kasih kepada Kompas Gramedia Majalah, Majalah KaWanku dan Cewekbanget.id yang telah menempa saya selama lima tahun terakhir ini, membentuk saya dari a-clueless-girl-who-doesn’t-know-who-she-is menjadi seseorang yang *insya Allah* yakin dengan hidup yang dijalaninya.

Pada akhirnya, saya akan menutup episode kehidupan yang ini.