August 2017 - Ifnur Hikmah

Friday, August 25, 2017

(30 Stories 30 Days) 25: When You Want To Try Something Else, But Something Makes You Stay
August 25, 20170 Comments


PS: Tulisan ke-25 dalam rangka 30 stories 30 days
Tema oleh Jana Miani


Pernah enggak merasa pengin melangkah maju tapi ada sesuatu yang menahan kita sehingga enggak bisa maju? Bisa saja perasaan itu berupa keinginan untuk tetap bertahan di dalam kondisi sekarang?
I’ve been there before. Sebagai seseorang yang memiliki banyak what if, susah untuk bisa melangkah maju karena dihalangi oleh si what if ini. Saya seseorang yang takut mengambil risiko—I’m not proud with it.

Banyak Pertimbangan

Siapa, sih, yang enggak mau maju? Itu hal alami yang ingin kita wujudkan. Kita sudah menetapkan target yang ingin dicapai dalam lima, sepuluh, dan beberapa tahun mendatang. Untuk bisa memenuhi tujuan tersebut kita tentunya harus memulai. Bagi saya, ini yang sulit.
Jebakan comfort zone itu memang terasa nyata. Kenyamanan begitu membuai, ditambah dengan banyaknya kekhawatiran sehingga sulit untuk akhirnya bisa melepaskan diri.
Di dalam pekerjaan misalnya. Beberapa kali pikiran untuk keluar muncul di benak. Namun, saya tidak berani untuk mewujudkannya. Selain kenyamanan, ada kewajiban lain yang menghambat saya untuk mewujudkannya. Sekian waktu berlalu, saya kembali menjalani hal yang sama hingga akhirnya merasa stuck lagi. Lalu, ingin keluar lagi dan ketakutan yang dulu ada kembali muncul.
Beberapa waktu lalu saya kembali berada di posisi ini. Ada kesempatan untuk keluar dari zona nyaman sekarang. Saat itu, dengan berbagai pertimbangan, saya hampir saja akan mengambil keputusan untuk keluar.
But in the end I choose to stay. Namun kali ini keputusan untuk bertahan bukan karena takut akan what if yang menghantui. Ada tanggung jawab lain yang harus saya pikul so I choose to stay.

Someone Choose To Leave, Other Choose To Stay

Pilihan seseorang tentu berbeda dengan kita. Kondisi yang dialami seseorang, hanya dia yang tahu. Alasan dia mengambil keputusan, hanya dia yang tahu. So, who are we to judge?
Ketika saya memutuskan untuk stay, ada yang mempertanyakan keputusan saya. Kalau bertanya baik-baik, sih, enggak apa-apa. Masalahnya, ini ada yang nge-judge keputusan saya, menyebut saya terlalu cemen untuk tidak berani mengambil langkah baru dan menyayangkan kalau saya menyia-nyiakan kesempatan. You don’t know me but you judge me. Please. “If I were you, I will leave,” she said to me. Yeah, thank God that you never be me. *enough with my rant*
Saya jadi ingat ketika ada teman yang resign lalu mengajak teman lain untuk mengambil keputusan yang sama. Lalu, side eyeing si teman karena memutuskan untuk stay. Sama halnya dengan kebahagiaan yang berbeda untuk setiap orang, apa yang terbaik untuk kita belum tentu menjadi hal yang terbaik juga untuk orang lain.
Someone choose to leave, I choose to stay. Dua-duanya adalah keputusan yang diambil dengan banyak pertimbangan. Saya memang ingin melangkah melakukan hal lain. Tapi di sisi lain ada hal yang merantai kaki saya untuk tetap tinggal.

The Beauty Inside

And then what should we do? Hal yang saya lakukan adalah mencoba untuk melihat dari sudut pandang lain. Mencoba melihat ‘the beauty inside’. Tidak selamanya pergi itu baik, dan tidak selamanya tinggal itu buruk. Hidup ibarat dua sisi mata uang, itu yang saya pegang.
Saya juga percaya, ketika satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka. Mungkin tidak langsung, mungkin butuh waktu sampai akhirnya terbuka pintu lain yang memberikan tantangan baru. But I believe that there’s always something good will happen in our life.
Dengan begitu, saya jadi terhindar dari keinginan untuk menyesali keadaan. I believe that every step that we take will bring us to another adventure. Jadi, untuk apa menyesali keputusan kita yang tidak jadi melangkah pergi sementara ada petualangan lain menunggu di keputusan yang kita ambil.
So, whatever you choose, you’ll get your new adventure.
XOXO
Iif
Reading Time:

Thursday, August 24, 2017

(30 Stories 30 Days) 24: What We Don’t Talk When We Talk About Family
August 24, 20170 Comments
PS: Tema ke-24 dalam rangka 30 stories 30 days.
Tema oleh: Maggie


I’m not so good in expressing my feeling. Well, it’s difficult for me to express my feeling.
Ketika mendapat tema ini dari Maggie, saya langsung memikirkan salah satu kelemahan saya, yaitu kurang bisa terbuka dan mengekspresikan isi perasaan yang sebenarnya karena saya lebih sering memendam. Bahkan sampai sekarang.
Sebelum menuliskannya, saya pun memutar ulang waktu dari masa kecil hingga sekarang dan menyadari satu hal. Mungkin saya tidak bisa ekspresif karena sejak kecil dan di keluarga sendiri, saya tidak diajarkan untuk mengekspresikan perasaan.
Saya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Terlihat normal, meski sesekali mama papa sempat ribut, saya rasa itu wajar terjadi dalam rumah tangga. Namun, saya tidak merasakan kedekatan yang sangat erat dengan keluarga. Saya dekat dengan mereka tapi selalu terasa ada jarak.

Tidak Terbiasa Bercerita

Saya sempat bekerja di majalah parenting sebelumnya. Di sana, saya pernah menulis tentang family meeting—momen kebersamaan dalam keluarga, tempat setiap anggota keluarga bercerita soal keseharian dan cerita apa pun. Momen yang bisa menyatukan semua anggota keluarga.
Baik ketika menulis artikel itu dulu atau ketika saya menulis ini sekarang, ada perasaan hampa yang saya rasakan. Karena saya tidak pernah mengalami langsung momen itu. Pertama kalinya saya bicara heart to heart dengan mama terjadi beberapa bulan lalu. For almost 28 years, it was the first time I told my mom what’s inside my heart and begging her to understand me.
Saya tidak pernah mengalami masa curhat kepada orangtua. Saat saya bingung ketika tumbuh remaja, saya tidak pernah bercerita kepada mama. Waktu kecil saya memang dekat dengan papa, tapi begitu menginjak usia remaja, saya dan papa pun jadi berjarak. Begitu juga dengan kakak. Kami sering berantem waktu saya kecil dulu—dia menuduh mama papa memanjakan saya sementara saya melihat justru dia yang keinginannya selalu dituruti—sampai akhirnya dia kuliah dan kami terpisah sejak saya kelas 1 SMP dan tinggal bersama lagi ketika saya kuliah.
Seringkali, saya menghabiskan waktu sendiri. Saya bisa betah di rumah membaca buku atau belajar sementara mama bekerja atau papa sibuk berkebun. Lama-lama saya jadi terbiasa dan baru akhir-akhir ini saya menyadari that I lacked emotion. Maksudnya emosi dalam mengekspresikan diri, emosi yang bisa membuat saya bercerita jujur dari hati ke hati because it takes a long time for me to open my heart. Sampai-sampai teman saya pernah bertanya apakah saya tidak menganggap dia teman, mengingat saya tidak pernah curhat.
Bukannya tidak mau, tapi saya terlanjur nyaman melakukan apa pun sendiri.

Sumber Kesalahpahaman

Mungkin, karena minimnya waktu yang kami habiskan dan tidak adanya keterbukaan yang membuat saya dan mama sering terlibat kesalahpahaman. Mama memiliki asumsi terhadap saya, dan saya pun memiliki asumsi sendiri. Kami tidak pernah membicarakannya, masing-masing larut dalam asumsi yang kami miliki.
There was a time when I thought that my mom drove me crazy. There was a time that I don’t want to meet her. There was a time when I feel that I don’t need her. There was a time when I thought that she never understands me and she didn’t try to understand me.

Lack of Expression

Menjelang ulang tahun, satu-satunya hal yang ingin saya dengar adalah ‘selamat ulang tahun, iif’ dan diakhiri dengan doa. Ya, saya ingin mendengar kalimat itu dari mama, papa, dan kakak. Kalimat simple dan straight to the point.
Because I never heard that.
Mereka memang mengucapkan selamat ulang tahun, tapi tidak pernah straight to the point. “Makan ke mana kita?” that’s what my sister said. “Jadi, sekarang hari apa?” That was my mom. And nothing from my dad. Saya tahu di balik kalimat bersayap itu adalah ucapan selamat ulang tahun dan saya tahu meski tidak pernah berkata langsung, mereka pasti mendoakan saya.
But, pardon my selfish heart because I want to hear that simple and straight to the point statement.
Ini hanya contoh dari betapa minimnya keromantisan di dalam keluarga. Saya rasa itu juga yang mendasari kenapa saya begitu gigih ingin mengapresiasi diri sendiri, mungkin karena selama ini saya sangat jarang mendengarnya.
Mungkin itu cara saya mengisi kekosongan yang selama ini saya rasakan.

Green-eyed Monster

Iri? Tentu saja. Sudah tidak terhitung berapa banyak saya menatap iri teman-teman yang bisa curhat panjang lebar dengan mamanya atau bisa dekat dengan papanya. Juga sisterhood moment dengan kakak—entah sekadar jalan-jalan atau belanja bareng.
It never happened in my life.
And then, what would you do?
Saya memang masih sering merasa awkward saat harus mendekatkan diri kepada orangtua. Namun, saya selalu ingat kalau I don’t want to live with regret.
It’s better late than never, kalimat ini benar banget. Ketika saya tahu papa sudah mulai sering sakit-sakitan, saya sadar bahwa sudah saatnya untuk mengubah keadaan. Ya, keluarga saya memang tidak romantis, tapi bukan berarti saya tidak bisa menciptakan kehangatan itu.
Hal pertama yang saya lakukan adalah menerima keadaan. Saya memang tidak bisa bercerita akrab dengan mama, tapi saya tahu, di balik SMS singkat setiap Jumat ‘pulang If?’ itu berarti banyak. That she waits for me every weekend because she wants to spend her time with me. Di balik pertanyaan papa soal berita yang dia tonton, itu caranya to keep our conversation, seperti dulu dia sering menyodorkan koran ke arah saya dan memberitahu berita menarik yang dia baca. Di balik kecerewetan kakak, I know that she cares for me.
Lambat laun saya menyadari kalau setiap orang punya cara berbeda untuk menuangkan isi hati. Ada yang bisa dengan mudahnya mengekspresikan diri, dan ada yang seperti keluarga saya.
Kami punya cara masing-masing.
Mama dan papa mungkin tidak pernah mengatakan sayang secara verbal, but they always there for me. Dulu mata saya sempat tertutup ntuk menyadarinya. There would be no ‘get well soon’ everytime I got sick, but my mom always took first flight from Padang to Jakarta everytime I got sick.
Now I understand that it’s more than enough.
When I take the first step, ternyata canggung itu hanya ada di awal. One thing at a time, itu prinsip saya. Saya pun membiasakan diri untuk membangun percakapan ringan dan tidak lagi memendam asumsi sehingga tidak perlu ada lagi kesalahpahaman.
Semua orang punya cara masing-masing untuk menunjukkan kehangatan hati. Di sinilah dituntut saling pengertian sehingga bisa sama-sama saling menerima.
Termasuk menerima kalau cara orang lain tidak sama dengan cara kita.
And you, what will you do to express your emotion?
XOXO
Iif

Maggie: “Karena gue ngerasa sama nyokap itu lebih kayak teman, tapi gue enggak pernah bisa peluk-pelukan sama nyokap, enggak bisa manja-manjaan. Gue bisa kayak gitu cuma sama Oma. Maksud gue, sayang enggak sih lo enggak bisa nanya soal cowok sama nyokap lo saking ada jaraknya, misalnya gitu.”

Maggie. You don’t know what life brings into your life, including someone unexpected. Maggie is a text-book kind of friend, I mean she always do what friends should do. You can count on her when it comes to someone who always listen to you or be at your side everytime you need a friend. She’s a-shoulder-to-cry-on kind of friend. I feel bless because I know her and being her friend.
Reading Time:

Wednesday, August 23, 2017

(30 Days 30 Stories) 23: Is It a Sin If We Don’t Like Kids or Don’t Want To Have Children?
August 23, 20171 Comments
PS: Tema ke-23 dalam rangka 30 stries 30 days.
Tema oleh: Muti Siahaan (digabung dengan tema pemberian Aditia Yudis juga)


Isn’t it sensitive topic?
Saya sering mendengar statement seperti ini. “Seorang perepuan belum menjadi perempuan seutuhnya ketika dia belum menjadi seorang ibu.” It’s so wrong, karena kodrat seorang perempuan tidak ditentukan oleh apakah dia punya anak atau tidak. Kodrat perempuan itu hanya menstruasi, selebihnya adalah pilihan.
Oke, ini sebuah pembukaan yang cukup kuat.
Perempuan dan anak. Masyarakat membentuk pandangan bahwa seorang perempuan sudah seharusnya mempunyai anak. Namun, apakah iya?
Karena kenyataannya ada perempuan yang tidak ingin punya anak.
When I look in to myself, I can’t imagine myself being a mother. Call me selfish, it’s okay because I think there’s something wrong in me when I have my own child. It’s like I can’t be myself when I’m surrounded with kids.
Saya memang bukan seseorang yang bisa akrab dengan anak kecil. Namun, berada di tengah tangisan dan teriakan anak kecil seems like hell for me. Pardon my French.
Hanya ada beberapa pengecualian yag bisa dekat dengan saya. Ya, saya memang sayang kepada keponakan saya, tapi hanya keponakan dekat dengan pertalian darah yang sangat dekat. I do enjoy my time with them, meladeni pertanyaan mereka yang tidak ada habisnya, mengikuti imajinasi mereka yang tidak ada batas, memanjakan mereka, membacakan dongeng atau cerita, menemani mereka main sepeda atau sekadar main bola di taman di sore hari, ya saya menikmatinya. When he called me and asked me when will I come home, it warms my heart. When he run into me when I came, I do nothing but smile.
Namun, ketika membayangkan anak sendiri, saya hanya bisa bergidik.
Di saat teman-teman saya bersemangat melihat anak kecil dan menjadi seorang ibu, I can’t see myself being like them.

Punya Anak, Semacam Keharusan

Kita dididik dalam sebuah kepercayaan yang membentuk pola hidup tertentu yang harus dijalani. Sekolah, kuliah, bekerja, menikah, lalu punya anak. That’s it.
Namun, apakah pola itu cocok untuk semua orang? Jawabannya adalah tidak.
Ketika datang ke launching buku Book of Forbidden Feelings, Lala Bohang menyampaikan forbidden feeling yang dia rasa. Kurang lebih, Lala berkata seperti ini. “Punya anak itu adalah pilihan. Tapi kenapa saya merasa kalau di masyarakat kita punya anak itu adalah sebuah keharusan atau kewajiban?”
Saya setuju dengan pernyataan itu karena saya pun mempertanyakan hal yang sama. Sama halnya dengan kita ingin bekerja di bidang apa, apakah kita ingin menikah atau tidak, punya anak atau tidak juga seharusnya menjadi pilihan. We have right to choose. Namun kebanyakan orang di sekitar seringkali silently judging—hell, bahkan ada yang judging terang-terangan. Contoh nyata, kenapa banyak banget yang kepo kapan seseorang hamil setelah dia menikah?

I Can Barely Supporting Myself

Suatu malam, teman saya, mbak Yuska sharing sebuah link artikel di Twitter. Inside the Growing Movement of Women Who WishThey’d Never Had Kids yang dimuat di Marie Claire. Artikel itu membahas ibu yang merasa menyesal sudah mempunyai anak. Karena menjadi ibu itu berat. Sebagian ibu di artikel ini memang mempunyai anak di usia muda, sehingga ketika anaknya sudah dewasa and living a life that she wanted, dia pun merasa menyesal dan iri karena dulu tidak sempat menjalani kehidupan yang dijalani anaknya sekarang.
Penyesalan karena ada waktu yang terambil dan belum sempat memaksimalkan potensi diri.
I can see myself like that, entah kenapa. Berkaca dari keadaan saya sekarang, saya jadi tahu alasan kenapa saya tidak ingin ceapat-cepat menikah apalagi punya anak. I can barely support myself, let alone supporting kids. Memenuhi kebutuhan sendiri saja masih ngos-ngosan apalagi memenuhi kebutuhan orang lain? Mengatur diri sendiri saja masih belum benar, apalagi mengatur orang lain?
Akhirnya saya sadari kalau inilah yang saya takutkan. Saya tidak ingin menjadi satu dari ibu-ibu yang menyesal itu. Jika memaksakan untuk memiliki anak sekarang, bisa dipastikan kalau saya akan menjadi seperti mereka.
Kedengarannya mungkin selfish, tapi bukankah itu lebih baik? Saya ingin menjadi settle terlebih dahulu, sehingga nanti saya bisa memberikan yang terbaik untuk anak saya kelak. Bukankah hal yang alami ketika kita ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang kita sayang, let’s say our kids? Saya tahu dengan kondisi yang sekarang saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk mereka. I’m still in process to make my life better and I think I need more time to think about myself until someday I’m ready to take another challenge.
Masyarakat kita memandang punya anak setelah menikah itu sesuatu yang default. Harus dilakukan. Namun pada kenyataannya, we’re allowed to make decision for our own life.
Trus juga ada omongan seperti ini. “Kalau enggak punya anak, nanti tua siapa yang urus?”
Menurut saya, justru orangtua yang berpikiran seperti inilah yang selfish. Sudah berpikir sang anak akan membalas jasa kita bahkan sebelum anak itu lahir. Seakan-akan menggampangkan kehadiran seorang anak, yaitu biar ada yang mengurus ketika tua nanti.
Juga omongan “punya anak untuk melestarikan gen bagus.” Ini juga selfish menurut saya karena seakan-akan menjadikan having kids like a joke.

Belum Saatnya

Never say never, begitu kata Justin Bieber. I agree with him, begitu juga dalam hal perkara punya anak atau enggak. We never know what will happen tomorrow, sehingga yang bisa kita lakukan hanyalah berkaca dari masa sekarang, dan masa sekarang yang saya jalani sangat jauh dari punya anak.
Untuk saat ini, saya memutuskan bahwa punya anak is not on my priority. Yess, I can’t see myself being a good mother. Being a cool aunty, I can live with that, but having my own, well maybe one day I will.
Karena saya punya prinsip, benahi hidup kita sebelum melangkah ke tahap selanjutnya.
Dan menanggapi omongan orang lain? Darling, our life will be more interesting if we don’t let anyone else told us what we should do.
That’s mine. What about yours?
XOXO,
Iif

Muti: “What do you think about woman who doesn’t like children? Kan banyak stigma kalau cewek itu harus suka anak kecil dan it’s part of our maternal instinct.”

Mbak Muti was my office mate for the past four years. We can talk about everything, from Kpop to Hollywood thingy to traveling to book and more book and about this, what’s inside my heart. Something that I can’t talk about it with everyone else. Maybe she doesn’t realize, but we have same point of view about many things.
Reading Time:

Tuesday, August 22, 2017

(30 Stories 30 Days) 22 The Wildest Thought Ever Crossed Your Mind
August 22, 20170 Comments
PS: Tema ke-22 dalam rangka 30 stories 30 days
Tema oleh: Kiki Nurrizky


Di hari pertama, kita bicara tentang pemkiran paling menakutkan yang pernah ada. Kali ini, kita kembali bermain dalam pikiran. Bedanya, saya ditantang untuk mengemukakan pemikiran paling liar yang pernah melintas dalam benak saya.
As an imaginative person, I have sooo many wild things in my head. Sesekali saya pernah mengemukakannya, dalam konteks bercanda meski sebenarnya saya juga memikirkan bagaimana kalau pemikiran itu serius ada?
Saking banyaknya, ketika akhirnya disuruh menuliskan pemikiran paling liar yang pernah terlintas di benak, saya pun jadi bingung. Setelah berpikir lumayan lama, saya membuat daftar hal paling liar yang pernah menjadi salah satu keinginan saya.

Menjadi Wartawan Perang

You heard it, right? Yup, ketika memutuskan untuk menjadi wartawan, saya sebenarnya ingin menjadi wartawan perang atau berada di lokasi konflik. Tidak jelas bagaimana awalnya pikiran ini muncul di benak saya. Mungkin saja dipengaruhi oleh tontonan.
Menurut saya wartawan perang itu keren. Juga penuh tantangan. Meskipun wartawan saat berada di lokasi konflik berada di bawah perlindungan PBB, tetap saja setiap detik itu berisi ancaman apakah kita akan selamat atau tidak. Saya suka membaca biografi para wartawan ini, dan setiap kali membaca, bulu kuduk saya berdiri.
I wish I was one of them.
Saya tidak menutup kemungkinan ini. Maybe someday I will achieve it.

Berhadapan dengan Psikopat

Yess, you read it right. Psikopat, untuk hal ini saya sendiri juga lupa kapan persisnya saya tertarik dengan mereka. Mungkin ketika saya membaca 24 Wajah Billy atau sejak keranjingan menonton Dexter dan Criminal Minds. You know, watching criminal series is my guilty pleasure.
Saya menyukai cerita kriminal, tapi kurang suka dengan kriminal lokal—yang menurut saya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Namun di serial TV yang saya tonton, penjahat itu punya isi otak yang berlapis dan saya selalu amaze dengan mereka. Sebut saya gila, tapi berhadapan dengan para psikopat dan menyelami isi pikiran mereka, itu adalah salah satu hal paling tidak masuk akal yang ingin saya rasakan.

Making New Identity

Salah satu novel favorit saya adalah The Bride Stripped Bare karanan Nikki Gemmell. Yang saya baca adalah versi aslinya, ketika diterbitkan atas nama Anonymous. Ini novel dengan sudut pandang orang kedua paling bagus yang pernah saya baca. Bercerita tentang seorang istri yang kenalan dengan seorang cowok dan dia pun mulai melakukan eksplorasi seksual.
Novel ini ditulis dalam bentuk diari dan diakhiri dengan cerita menggantung karena si cewek ini menghilang, lalu fokus cerita beralih kepada sang ibu. Sang ibu percaya anaknya masih hidup, tapi dia sudah mengganti identitas dan menjadi seseorang yang baru.
Berangkat dari novel ini, saya pun banyak mencari bacaan tentang sosok yang menghilang lalu tiba-tiba muncul dengan identitas baru. Literally being new person. Menurut saya, apakah bisa seseorang bener-bener cut off orang-orang di hidupnya lalu membentuk identitas baru.
Ketika saya berada di keramaian, pemikiran ini seringkali muncul. Bagaimana rasanya jika saya menjadi orang lain? Berhenti menjadi seorang Ifnur Hikmah, dan membentuk identitas lain yang benar-benar berbeda dibanding diri saya sekarang. Kalau dari yang saya baca, ada dua kemungkinan. Seseorang menjadi pribadi baru karena dicuci otak, atau membentuk identitas baru karena muak dengan hidupnya sekarang dan dia tidak bisa berubah jika masih menjadi dirinya sehingga satu-satunya cara adalah mengganti identitas.
Namun kayaknya ini susah, ya.

Living in Nowhere

I woke up one day and wondering what would it be if I live in different world? I quit my job, leaving my world and do something else? Maybe being a volunteer and live in somewhere far from my home?
Menurut saya, ini ada kaitannya dengan yang nomor tiga. Mungkin saya tidak bisa membentuk identitas baru, tapi mungkin saja saya bisa meninggalkan dunia yang saya tempati sekarang dan mencoba tinggal di dunia baru. Mungkin jadi volunteer di pedalaman Afrika, menjadi volunteer yang menolong anak-anak di daerah terpencil atau anak-anak yang menjadi korban konflik di negaranya, being wildlife photographer?
Or simply just living in the road, just like Supertramp. Alasan saya akhirnya memutuskan untuk belajar menyetir bukan karena pengin bisa menyetir untuk memudahkan kehidupan sekarang—ya alasan ini ada. Namun ada sedikit bagian di hati yang membuat saya ingin bisa menyetir because someday I want to live in the road. Just me and my car and the road in front of me. Nowhere to go but I don’t care. Because I want to live with worry-free and unleash my free spirit who always hiding inside me.
It’s too hard, I know. Dan kalau dilihat-lihat sih saya cukup tahu diri kalau saya tidak akan sanggup menjalani hidup seperti ini. But still, I have that thought in my mind.
Maybe someday I’ll do it.
Because I’ll wait for a day so I could say, “fuck everything.”
Hanya itu yang saya ingat. Mungkin ini akan jadi cerita berseri, saya akan menuliskannya lagi kalau ada pemikiran paling liar yang melintas di benak saya.
And what about yours?
XOXO,
Iif

Kiki: “The wildest thought ever crossed in your mind. Jadi psikopat mungkin? Atau ingin jadi Alexander Supertramp di Into the Wild, jadi napi di Shawshank Redemption, jadi Andy DUfrens, atau Red atau Brook, atau keinginan lo untuk disappear into oblivion. Kayak jadi warga negara maa, enggak ada kabar, putus kontak sama dunia lo yang sekarang, tiba-tiba udah jadi penduduk lokal di Edensor aja. Atau jadi agnostic/atheist atau jemaat pengikut sekte pemuja sesuatu yang aneh-aneh. Well, that’s all mine, he-he. Wildest, anything, kali aja lo kepikiran something yang 50 shade-ish.”

She’s one of crazy girl in my life. But crazy girl used to be with someone crazy, so maybe that’s why we’re friends eventought she’s a lot younger than me. Keep up your craziness, Kiki, because it’s your charm—beside your random twit.
Reading Time: