(30 Stories 30 Days) 7: When Married Is Not On Your Priority Right Now and How You Handle People Around You Who Always Asked You to Get Married

PS: Tema ketujuh dalam rangka 30 Stories 30 Days.
Tema oleh: Dhistira Dian


Marriage. Pernikahan. When you’re in your 20’s going to 30, you have to talk about marriage.
Di usia sekarang, saya sering mendapat pertanyaan ‘kapan nikah?’ Sesekali, mama pernah bertanya tapi secara tersirat dan sambil lalu, dan berhubung saat itu saya sedang hectic, jadi pertanyaannya berlalu begitu saja. Keluarga dekat tidak pernah bertanya langsung, keluarga jauh sering dengan frontal bertanya dan cukup dijawab dengan kernyitan dahi.
Saya termasuk santai soal menikah. Di tulisan hari ketiga, ketika bicara tentang boyfriendless, saya sedikit menyinggung soal pernikahan. For now, marriage is not on my priority list. Malah, saya sendiri belum terbayang akan menjadi seorang istri. Rasanya itu masih sangat jauh.
I’m not against marriage, tapi dalam beberapa kasus saya menentang pernikahan.
1.                  Child Marriage

Setiap anak punya hak untuk bermain dan belajar. Bukannya mengurus suami dan anak. Saya selalu sedih setiap kali membaca berita tentang child marriage (yang umumnya juga berupa force marriage) dan membayangkan seperti apa masa depan mereka. Mungkin mereka bahagia, tapi di mata saya, tetap saja mereka telah kehilangan momen yang sangat penting dalam hidup. That’s why I say no to child marriage. Bahkan teenage marriage aja kadang masih suka mikir, are you really really ready?

2.                  Force marriage
Saya ingat omongan salah satu teman di TPA dulu, sekitar dua tahun lalu, saat lebaran. Ibunya bertanya apakah saya sudah menikah, dan mama menjawab, ‘jangankan nikah, kepikiran aja dia belum. Masih suka jalan ke mana-mana, kelewat santai anaknya.’ Lalu, teman saya ini dengan lantangnya nyeletuk, ‘baguslah If, ngapain nikah buru-buru kalau memang belum mau? Jangan sampai kayak Yuni, nikah dipaksa, trus sekarang di rumah aja ngurus anak, stres. Kamu kalau masih bisa pergi ke mana-mana, pergi aja, sebelum terikat kayak Yuni.’
Dia ngomong gitu di depan ibunya, di rumahnya, dan saat itu saya baru tahu kalau dia dijodohkan. Ketika saya dan mama pamitan, sekali lagi dia menekankan untuk tidak mau dipaksa menikah dan menjadikan dirinya sebagai contoh tidak bahagia akibat force marriage.
Terlepas dari cerita Yuni, saya memang tidak pernah setuju dengan perjodohan. Apa pun alasannya. Pernikahan bukan hal yang simpel, melainkan tanggung jawab seumur hidup. Kita menggantungkan kebahagiaan dan masa depan di sana, apa iya kita mau menggantungkan hal yang sangat berarti ini di tangan orang yang enggak kita kenal?
Katanya witing tresno jalaran soko kulino. Cinta ada karena terbiasa. Bagi saya itu bullshit. Mungkin saja nanti akan tumbuh cinta, tapi untuk sampai ke sana, itu sebuah perjalanan, dan kadang butuh waktu lama. Jangan sampai deh kita membuang-buang waktu hanya untuk menjalani sesuatu yang tidak kita suka.

3.                  Getting Married for the sake of you have to get married

Ini dia kasus yang paling banyak ditemui. Menikah karena tuntutan orang-orang di sekitar. Di pandangan saya, hidup kita sudah ditata sesuai pakem. Sekolah, kuliah, lulus, bekerja, menikah, punya anak. Kita harus mengikuti pakem itu, dan jika ada yang melenceng sedikit, maka orang-orang akan berteriak menyuruh kita untuk kembali ke pakem.
Makanya, begitu lebaran, pasti akan bermunculan jokes ‘kapan nikah?’ Terlebih di usia saya yang menurut pakem sih sudah seharusnya menikah.
Ada yang tidak sanggup menghadapi tuntutan. Atau mungkin dia sanggup, tapi orang lain yang tidak sanggup, seperti orangtuanya. Bisa juga dia merasa ingin menikah karena orang lain semuanya sudah menikah. Atau menikah karena menikah itu harus.
Menurut saya, orang yang menikah dengan alasan ini treat marriage as a joke. Hampir sama dengan force marriage (ini juga bisa dibilang force marriage sih secara halus), saya melihat tidak ada kebahagiaan di sana. Keputusan yang diambil secara immature akan rentan penyesalan di masa mendatang.

4.                  Getting Married as a way to solve your problem
“Gue mau nikah aja, deh, capek … (isi sendiri)”
Sering enggak denger alasan kayak gini? Mungkin hanya bercanda doang ngomong kayak gini, tapi enggak jarang juga yang take it seriously. Ada yang menganggap kalau menikah adalah jalan keluar dari semua masalah, terutama finansial. Seakan-akan, dengan punya suami semua masalah kita selesai.
Kenyataannya, bukan berarti masalah bisa selesai once you get married. Yang ada malah menambah masalah baru. I’ve been there before, ketika masih memikirkan fairytale di mana ketika dewasa kita akan menemukan prince charming yang bisa menyelamatkan kita dari semua masalah dunia.
Beberapa bulan lalu, saya membaca novel berjudul While We Were Watching Downtown Abbey salah satu tokohnya memutuskan menikah untuk menjamin keselematan finansial di masa depan. Kisah Samantha makin membuka mata saya kalau ini adalah keputusan yang salah.
Jadi, ketika punya masalah ya selesaikan masalah itu, bukannya mencari masalah lain. Getting married as a way to solve your problem means you treat marriage as a joke.

I Do Want to Get Married but Not Now

Balik lagi ke tema besar tulisan ini, apa pandangan saya tentang pernikahan?
Bagi saya, pernikahan itu sebuah keputusan besar. Dibutuhkan komitmen yang sangat besar untuk dijalani dalam waktu lama. Kita tidak lagi memikirkan diri sendiri, melainkan harus memikirkan orang lain juga. Belum lagi masalah anak, jadi benar-benar harus siap.
Berdasarkan hal tersebut, saya mendorong pernikahan ke urutan sekian di dalam daftar prioritas. Seperti yang sempat saya singgung di tulisan ini, saya sempat berada di lowest point in my life, jadi untuk bisa bangkit lagi itu susah. It takes time and it’s not easy. Saya baru banget bisa menerima diri saya apa adanya, saya sedang mencoba menata hidup lagi, dan untuk saat ini itulah yang menjadi prioritas saya.
I need to learn about myself. I need to love myself, before I love somebody else.
Our society taught us that marriage is a must but for me marriage is a choice. Menikah atau tidak itu sebuah pilihan. Menikah sekarang atau nanti, itu sebuah pilihan. Dan pilihan ini letaknya di tangan kita, bukan di tangan orang lain.
Saya pernah baca di Twitter (jujur, saya lupa siapa yang membuat thread ini tapi kalimatnya masih menempel di benak saya). Dia menulis, ‘orangtua di Indonesia lebih suka anaknya menikah tapi enggak bahagia ketimbang bahagia tapi enggak menikah’. Ini sangat menohok karena di beberapa kasus ini benar.
Untunglah sampai saat ini orangtua saya belum memaksa, tapi saya tahu mereka (terutama mama) punya indikasi ke sana, yaitu bahagia melihat saya segera menikah, ketimbang sendiri seperti ini.
Saya santai, tapi mama tidak. Saya bisa cuek dengan omongan sekeliling, tapi mama tidak. Saya sudah membuat prioritas, dan meski saya belum memberitahu beliau soal hal ini, saya sudah bisa menebak seperti apa tanggapannya (I will write about her and our relationship in my next post).

Termasuk Memutuskan Untuk Tidak Menikah

Ya, termasuk ketika ada yang memutuskan untuk tidak menikah. Itu adalah pilihan hidupnya dan kita tidak punya hak untuk menghakiminya.
“Lo cuma belum nemu orang yang cocok aja sih Kak,” said one of my friend.
Well, maybe she’s right. Saat itu saya sempat mengiyakan. Namun ketika menulis tulisan ini, saya teringat lagi omongan dia. Dan bertanya, bagaimana kalau saya bertemu seseorang yang benar-benar cocok dan saya cinta dia juga sebaliknya, kedua orangtua setuju, dia sudah siap untuk menikah, apakah saya akan bilang iya?
Mungkin saya bisa sedikit menawar, bagaimana kalau dua atau tiga tahun lagi? He-he.
But it’s true because marriage is not on my priority right now. Di postingan ini, saya menyinggung soal penyesalan. Hal ini juga jadi alasan, saya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Saya ingin membenahi diri, mengembangkan semua potensi yang saya miliki, dan menyelesaikan apa yang menjadi prioritas saya saat ini.
Lalu, apa yang ada di prioritasmu saat ini? Klise memang, tapi saya punya tanggung jawab baru di pekerjaan dan menurut saya ini pilihan yang tepat untuk membenahi diri. Hal ini sejalan dengan proses yang selama ini saya jalani, dan saya sangat bahagia menjalaninya.
(Finally, I said that).

Bukan Melarikan Diri

Rhara, yang memberi tema ini bertanya, “Lo belum nikah dan masih sibuk, dengan kerjaan, komunitas a-z, apa itu bikin lo makin jauh atau malah sengaja melarikan diri?”
Menjawab pertanyaan Rhara (sorry if I tell you this story through my writing. You know me lah ya, I’m not that comfortable with ‘curhat’ he-he). Bukan saya yang mengalami, salah satu teman yang juga bilang getting married is not her priority malah dituduh, ‘alah itu alasan lo doang kan karena masih jomblo aja.’
Mungkin ada orang di luar sana yang berpendapat sama, menganggap semua yang saya tulis di atas hanya alasan. Orang-orang seperti ini enggak bakalan bisa dihindari. Ya pemahaman dia hanya sebatas itu, tapi bukan berarti kita harus punya pemahaman yang sama, kan? Enggak perlu juga, sih, ngejelasin karena dia sudah membentuk pemahaman sendiri dan biasanya, sih, susah untuk menerima pemahaman baru.
Oke, balik ke pertanyaan Rhara. Apa pekerjaan dan teman-teman membuat saya makin jauh dari pernikahan atau saya menjadikan hal tersebut sebagai pelarian?
Jawabannya adalah tidak. Saya sudah terlalu lama mengurung diri, dan beberapa tahun lalu, ketika saya akhirnya berani membuka diri, saya menemukan dunia baru. Dunia di mana saya bisa mengembangkan diri. Salah duanya ya lewat pekerjaan dan komunitas, karena di sana saya bertemu orang baru dengan pemikiran baru yang bisa membuat saya semakin ‘kaya’ dan menuntun ke jalan hidup yang lebih benar. Ketika akhirnya saya merasakan dampaknya, saya semakin nyaman di sana dan dua hal inilah yang membantu dalam setting up my priority.
Jadi, bicara soal pernikahan, setiap orang punya pandangan sendiri. Ada yang masih belum berpikir ke arah sana, dan ada yang sudah enggak sabar untuk melangsungkan pernikahan. Keduanya adalah pilihan. Saya sudah memilih.
Dan kamu, apa pilihanmu?
XOXO,
Iif

Notes
Rhara: “Gimana lo melihat pernikahan? Apakah ‘takut’ atau malah ‘can’t wait’? Lo belum nikah, padahal umur segini, kan, pasti kanan kiri udah nanya-nanya, kan? Apalagi lo super sibuk dengan kerjaan dan komunitas A-Z, apa itu bikin lo makin jauh apa gimana? Bikin lo melarikan diri apa gimana? Gue, sih, enggak mempermasalahkan as long as lo happy, gue pengin tahu lo ngadepin kanan kiri aja.”

Rhara. Ah, what should I say about her? There was several moment that I’m so thankful to God, and one of them is the moment I met her. We’ve been friends for ten years. She taught me everything, about life, love, everything. When you look at her and her little family or her parents, I bet you, you want to get married at this moment, he-he. Because they’re so full of love. I’ll be a liar if I said I’m not envy of her. But, when I look at her, I realize the important thing, just being yourself and you’ll be happy for the rest of your life. Thanks for being my friend, ya, eventought I’m not a perfect friend for you.
Reactions

0 Comments:

Post a Comment