(30 Stories 30 Days) 5: How Do You See Your Childhood From This Moment

PS: Tema ketiga dalam rangka 30 Stories 30 Days
Tema oleh: Fhia Hafizhah


What’s pop into your mind when you think of your childhood?
Happy?
Sad?
Confusing?
Joy
Or what?
For me, it’s lonely.
Bicara soal masa kecil, yang paling saya rasakan adalah sepi. Friendless.
Di postingan ini, saya sempat menyinggung sedikit soal masa kecil, terutama masa sekolah. Betapa saya sulit sekali untuk bisa berbaur dan nyambung dengan teman-teman di sekitar rumah.
Let me tell you a story.
Kakak-kakak saya, kakak kandung dan sepupu, selalu sekolah di SD yang berada lumayan jauh dari rumah. Naik angkot 15 menit itu termasuk lama dan jauh untuk kota kecil. Singkatnya, SD saya itu berada di kelurahan lain, sementara di kelurahan saya ada dua SD.
Di sana mengenal sistem rayon. SD di kelurahan saya, SDN 11 dan 02, rayonnya adalah SMP 2. Karena yang terbaik adalah SMP 1, maka kami dikirim ke SD 04.
Hal ini membuat saya jauh dari teman-teman di dekat rumah. Ya, saya bisa main dengan mereka tapi saya tidak mengerti inside jokes mereka. Ketika mereka heboh bercerita, saya hanya bengong dan mengangguk seperti orang bego karena tidak mengerti apa yang mereka ceritakan. Dan mereka juga tidak mau menjelaskan, hanya berkata, ‘kamu, sih, sekolahnya beda.’
Selalu seperti itu. Sehingga lama-lama saya jadi menghindar. Saya capek menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa. I tried, but they didn’t.
Tapi, kan, ada teman-teman di sekolah.
Well, saya memang punya teman di sekolah. Beberapa bahkan masih akrab sampai sekarang (hai Nana). Namun masalahnya adalah, mereka rumahnya jauh dan saya tidak pernah dapat izin untuk main ke rumah mereka. Mama lebih prefer mereka main ke rumah ketimbang saya yang main ke tempat mereka. Sesekali, mereka memang main ke rumah. Kami membuat kartu lebaran bareng and that was special moment for me that I can’t forget.
Hanya sesekali saya merasa tidak kesepian.

Tidak Boleh Ini, Tidak Boleh Itu

Saya tumbuh dengan banyak larangan ini itu dari orangtua yang ketika dipertanyakan alasannya apa tidak pernah mendapat jawaban. Larangan tersebut membuat pergerakan saya semakin terbatas.
Ketika saya mencoba untuk main bersama teman-teman di dekat rumah, seringkali saya mengikuti mereka. I want to be a part of them, jadi saya mengikuti mereka. Ketika main ke sungai di dekat rumah, pulang-pulang saya dimarahi. Sementara teman saya tidak. Ketika saya bersepeda agak jauh, pulang-pulang saya dimarahi, sementara teman saya tidak. Ketika saya main petak umpet dan memanjat pohon, pulang-pulang saya dimarahi sementara teman saya tidak.
Saat itu saya merasa diperlakukan tidak adil. Saya memberontak karena ingin diberikan kebebasan yang sama dengan teman. Saya bertanya alasannya, dan tidak mendapat jawaban. Hanya omongan ‘pokoknya enggak boleh.’ Begitu seterusnya, ‘pokoknya enggak boleh’ sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Hal ini berakibat kepada saya jarang diajak main.
Beranjak remaja, saya semakin terpisah dengan mereka karena sekolah kami berbeda. Lagipula di kelas 1 SMP saya masuk siang sehingga ketika teman-teman saya pulang, saya malah baru akan masuk sekolah. Di sini saya bertemu banyak jenis orang dan saya makin mengenal segala macam jenis orang.
Ini pengalaman pertama saya berurusan dengan banyak orang.
Dan ternyata itu membuat saya enggak nyaman karena tanpa disadari, saya sudah terbiasa sendiri.
Years later, saya baru menyadari kalau mungkin saja sejak kecil saya sudah nyaman sendirian ketimbang berbaur dengan orang lain.

Jatuh Cinta Kepada Buku

Pengalaman ini membuat saya terbiasa sendiri. Saya menghabiskan waktu sendiri, lalu mama dan papa memperkenalkan saya kepada buku. Di keluarga, saya termasuk yang cepat bisa membaca. Umur empat tahun, saya sudah lancar membaca. Saya jadi haus akan buku, sehingga setiap hari saya menagih bacaan baru. Saya selalu menanti mama pulang membawa majalah Bobo (bekas) dan melahapnya dalam satu hari.
Kami tidak berasal dari keluarga berada, tapi bisa dibilang cukup. Meski setiap hari saya menagih Bobo dan bacaan baru, mama dan papa tidak pernah membantah. Mama selalu membelikannya, sesekali membawa saya ke Padang dan saya diizinkan untuk memilih bacaan sendiri. Ranking bagus, maka saya bisa membawa pulang buku pilihan.
Jika ada yang saya syukuri dari rasa sepi saat kecil adalah saya jadi cinta membaca. Saya sering sendirian, dan saya mengisinya dengan membaca. Apapun saya baca. Sore-sore papa akan membaca koran, dan saya duduk di sebelahnya membaca Bobo. Ketika sudah disuruh tidur, saya akan membaca berbekal senter di balik selimut—seperti yang sering saya lihat di film-film meski akibatnya adalah minus mata tambah parah.
Bertahun kemudian saya baru menyadari hal ini. Masa kecil saya memang sepi, tapi tidak menyedihkan.

Missing a Sleepover

Saya suka menonton film remaja, sampai sekarang. Ngomongin soal remaja, maka seringkali ada cerita tokoh-tokohnya sleepover di rumah salah satu. Curhat, salon-salonan, pokoknya melakukan hal yang—sepertinya—menyenangkan. Sayangnya saya tidak pernah merasakannya.
Larangan untuk main ke rumah teman berlanjut sampai SMA. Mama lebih suka mereka yang main atau menginap di rumah. Alasan mama sudah ada sekarang, ‘ngapain nginap di rumah orang? Kayak enggak punya rumah aja.’
Jadi ketika teman-teman ngadain sleepover, saya hanya gigit jari.
Pernah sekali saya mengajak mereka menginap di rumah. Mama setuju. Mereka setuju. Malamnya kami memutuskan untuk main-main ke Jam Gadang. Mama setuju dengan syarat harus ditemenin. Really? Kami bertujuh dan mama enggak mengizinkan kami pergi tanpa pengawasan. Akhirnya kami tetap pergi main, bersama mama, dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Itu pun menjadi saat pertama dan terakhir kalinya mereka sleepover di rumah.
Berikutnya ada teman yang suka nginap di rumah. Mama suka, karena kami tidak ke mana-mana. Hanya bikin PR dan belajar, itu saja. Well, saya memang lebih suka belajar sendiri. Enggak tahu kenapa lebih cepat aja nangkap pelajaran saat dipelajari sendiri ketimbang di sekolah, sehingga di sekolah kesannya saya adalah si pemalas yang ogah-ogahan belajar. Teman sebangku saya ini tahu kebiasaan saya sehingga dia suka menginap di rumah.
Saya senang bisa nginap bareng, tapi sayangnya dia hanya menginap di rumah untuk belajar saja. Sementara di sekolah kami tidak begitu akrab. Dia bersama geng gaulnya, pergi main bareng lalu dia akan menginap di rumah untuk belajar. Lama-lama perasaan senang itu hilang.
Jika boleh mengulang waktu, saya ingin kembali ke masa lalu dan mengubah pola pertemanan. Saya tidak menyesal, karena pengalaman itu mengajarkan saya banyak hal. Membuat saya bisa memahami berbagai jenis orang dan membuat saya tahu mana yang seharusnya dipertahankan, dan mana yang tidak perlu dipertahankan.
Masa kecil dan remaja saya memang sepi dan seringnya sendiri, tapi ternyata hal tersebut malah membentuk pribadi saya. Memberikan saya banyak pengalaman yang akhirnya memperkaya saya.
Membuat saya memaksa untuk fit in di suatu lingkungan, pretended to be someone else, mau-maunya dimanfaatkan, melakukan hal negatif untuk bisa diterima, dan saya akui itu sangat tidak baik. Namun bertahun kemudian, ketika saya melangkah ke dunia yang lebih luas, pengalaman tersebut sedikit banyak berguna.
Setidaknya saya pernah merasakannya sehingga di usia dewasa, saya tidak ingin kembali bersikap seperti itu.
Namun sleepover bersama teman-teman, saya masih menginginkannya.
XOXO,
Iif

Notes
Fhia: “Kenapa tema ini? Well, mungkin karena sense of motherhood bawaan hamil kali ya. Aku sempat recall momen childhood aku seperti apa supaya nanti aku enggak lupa kalau pernah jadi ‘anak’.”

Fhia is one of my friend since we were a kid. We knew each other since elementary school because of some competition, then we go to same school until senior high and the rest is history. I live in Jakarta, she live in Padang but we’re always be friend)
Reactions

0 Comments:

Post a Comment