(30 Stories 30 Days) 21: A Thousand Face of Yours; When Your Image While You With Your Family is So Different - Ifnur Hikmah

Monday, August 21, 2017

(30 Stories 30 Days) 21: A Thousand Face of Yours; When Your Image While You With Your Family is So Different



PS: Tema ke-21 dalam rangka 30 stories 30 days
Tema oleh: Audrey Gabriella


Kesan pertama saya begitu mendapat tema ini dari Audrey adalah ngakak. Namun detik selanjutnya, saya berpikir, hmm… it’s interesting. Berangkat dari topik ini saya jadi menyelami diri saya sendiri. Begitu saya melempar topik ini ke beberapa teman yang lain, saya juga mendapat jawaban yang sama.
Kurang lebih, pertanyaan Audrey seperti ini: About being raised in a religious family but you’re not that religious that much. You rarely pray, enjoy drinking alcohol, enjoy doing sex before marriage, etc. but in the other hand you don’t want to disappoint them and keep acting like a good girl at home.
Rata-rata, 3 dari 5 orang yang saya tanya dalam survey kecil-kecilan mengaku kalau pencitraan pertama yang mereka lakukan adalah di rumah alias di depan keluarga sendiri.

Ekspektasi Orangtua

Being raised in a religious family, my parents and my family have some expectation about me. Pertama, dari nama saja. Saya ingin bercerita sedikit soal nama saya.
Dilihat-lihat, nama saya memang kental dengan unsur Islam. Nama ini berasal dari nama salah satu murid Mama dulu. Seseorang bernama Ifnur Hikmah yang sangat patuh pada orangtua, lembut, santun, alim, pintar, dan intinya sih tipikal anak idaman. Mama mencomot nama dia dengan harapan nantinya saya tumbuh menjadi seperti dia.
Sebuah ekspektasi yang sangat berat karena saya sangat jauh dari itu. Saya lebih suka main-main di atas pohon ketimbang belajar memasak. Saya lebih suka rambut pendek ketimbang rambut panjang. Saya lebih suka pakai celana dan kalau saja seragam sekolah enggak harus pakai rok, pasti saya akan dengan sangat senang hati mengganti rok dengan celana.
Setiap orangtua tentunya punya ekspektasi tersendiri tentang anaknya. Orangtua ingin anaknya menjadi seperti apa dan mendidik anak-anak agar bisa memenuhi ekspektasi itu. Saya juga pernah mengalaminya. Namun, seiring perkembangan waktu, tidak selamanya apa yang menjadi ekspektasi orangtua sejalan dengan apa yang saya inginkan.
Di satu sisi, saya berusaha untuk memenuhi ekspektasi tersebut, tapi di sisi lain saya mencoba untuk berkompromi, alias mencoba memberi pemahaman tentang apa yang saya inginkan dan kenapa saya memilih untuk menjadi seperti itu. Sometime it works, sometime it’s not.

The Other Side of Your Life

Saya percaya kalau kehidupan seseorang itu memiliki banyak sisi. Dengan kata lain pencitraan itu bener adanya. Karena kita harus beradaptasi, sehingga seringkali kita harus pintar menempatkan diri di situasi kondisi atau tempat. Dan ketika berpindah ke tempat lain, apa yang kita tampilkan pun berbeda.
Mari kita berkaca pada diri sendiri. Sejujurnya, saya sendiri mempunyai beberapa layer. Apa yang saya tampilkan di rumah, apa yang saya tampilkan di kehidupan sosial, apa yang saya tampilkan ketika saya sendiri. Kadang layer itu terbentuk dengan sendirinya, ketika sebuah keadaan memaksa kita membentuk layer baru di wajah.
Kembali lagi ke tema yang diberikan Audrey. Saya melihat diri dari sudut pandang diri saya sendiri dan sudut pandang saya sebagai seorang anak.
Orangtua mendidik saya dengan nilai-nilai agama yang kuat. Ibadah itu nomor satu, sisanya bisa jadi nomor sekian. Saya pun tumbuh menjadi seseorang yang memercayai hal tersebut. Namun ada kalanya saya tidak bisa memenuhi apa yang mereka terapkan kepada saya sejak kecil. Seperti misalnya berpakaian. Ya, saya memang memakai hijab atas keinginan saya sendiri—I will talk about it later—tapi untuk item lain, saya punya preferensi sendiri, saya tahu pakaian apa yang membuat saya merasa nyaman dan bisa mengekspresikan diri, tapi seringnya hal ini juga menimbulkan konflik antara saya dan mama. Ini hanya contoh ringan.
Semakin saya dewasa, semakin saya mengenal diri sendiri, semakin saya tahu apa yang works buat saya. Kadang, hal tersebut bertentangan dengan ekspektasi yang disematkan orangtua di pundak saya. Sebagai contoh, mama ingin saya memiliki pekerjaan yang cukup di kantor saja, sehingga jam 5 sudah pulang. Itu ekspektasi dari beliau. Namun saya tahu kalau saya tidak akan betah menjalani pekerjaan back office seperti itu. Sehingga dengan terpaksa saya memilih untuk menuruti kata hati ketimbang memenuhi ekspektasi orangtua.

A Thousand Face

Akhirnya, kita pun harus berkompromi. Dan kompromi yang saya lakukan adalah being myself when I’m on my own tapi di sisi lain saya mencoba untuk tetap menjadi anak yang setidaknya ya memenuhi ekspektasi orangtua, meski tidak sepenuhnya. Saat ini saya tinggal sendiri dan pulang ke rumah setiap dua minggu atau sebulan sekali. Ketika saya berada di rumah, saya pun menjadi pribadi yang lain.
Lelah? Pasti, karena saya tidak bisa enjoy. Namun perlahan-lahan, saya mencoba memberi pengertian kepada orangtua kalau kehidupan yang saya jalani ini bukan sekadar hura-hura, seperti yang beliau lihat selama ini. Saya ingin menunjukkan bahwa saya bahagia dengan pilihan ini.
Ketika menulis ini, saya ingat dialog yang diucapkan oleh Galih di film Galih & Ratna (2017): “Pernah enggak, sih, sekali saja Ibu memikirkan apa yang sebenarnya aku inginkan?” Berkali-kali, pertanyaan seperti itu tertahan di ujung lidah, tapi saya selalu berusaha mengontrol diri untuk tidak mengucapkannya. Menurut saya, ini kompromi yang saya lakukan.
I may not be that religious. Sometimes I drink. Sometimes I did skinship. Namun saya melakukannya bukan karena pengin rebel atau ikut-ikutan. I do have my reasons, yang kadang alasan ini tidak bisa saya kemukakan di depan orangtua. Sehingga, pada akhrinya yang bisa saya lakukan adalah kompromi.
Being myself when I’m on my own.
Being a good girl when I’m at home.
Capek memang, tapi untuk saat ini hanya itu kompromi yang bisa saya lakukan.

Merasa Bersalah?

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya sempat terpikir pertanyaan ini. Ada enggak perasaan bersalah di dalam hati. Karena bagaimanapun, bisa dibilang ini membohongi orangtua, kan?
Sejujurnya, iya. Namun, sebenarnya hal ini jadi serba salah. Di satu sisi, saya seperti membohongi orangtua. Di sisi lain, jika saya tidak melakukan kompromi ini, saya berbohong kepada diri sendiri.
But I think it’s a win win solution. Nobody hurt—at least for now.
Yang saya tekankan pada diri sendiri adalah know your limit. In every aspect that you do, remember that everything has a limit and only you know the limit. Dengan tahu batasan, kita bisa memproteksi diri sendiri, juga memperingatkan diri sendiri. Selain itu, saya juga menegaskan bahwa apa pun yang saya lakukan, pastikan nantinya tidak akan menyesal.
That’s my biggest worry, I don’t want to have any regret in my life.
And, what about yours?
XOXO,
Iif

About being raised in a religious family but you’re not that religious that much. You rarely pray, enjoy drinking alcohol, enjoy doing sex before marriage, etc. but in the other hand you don’t want to disappoint them and keep acting like a good girl at home. Karena aku ngalamin hal yang sama dan pengin melihat dari kacamata orang lain, If. Berusaha terlihat sebagai anak manis padahal ya… begitulah. Aku jadi semacam punya dua kepribadian gitu, di rumah VS di luar rumah yang bertolak belakang. Teman-teman tahunya aku gimana, keluarga tahunya aku beda.”
Audrey: When I think about Audrey, all I can remember is a girl with flowery dress, curly hair, a glasses, and Ayu Utami’s book. I met her when I took some test before I work at my current office. Then, I met her again when I join KaWanku. At that time, I said to myself, “Ha, Ayu Utami’s girl.” From Audrey, I learnt about how to love ourself and never give up to fight for what we believe. And I enjoy to read her blog. So inspiring.

No comments: