(30 Stories 30 Days) 6: What Do You Do to Build Your Self Confident and Beat Your Insecurities? - Ifnur Hikmah

Sunday, August 6, 2017

(30 Stories 30 Days) 6: What Do You Do to Build Your Self Confident and Beat Your Insecurities?

NB: Tema ke-6 dalam rangka 30 Stories 30 Days
Tema oleh: Intan Aprilia



Insecure dan percaya diri, dua hal yang saling berkaitan. Bicara soal hal ini memang enggak akan pernah ada habisnya, karena, well, topik ini memang related banget ke hidup banyak orang. When we were a kid, when we were a teenager, and now, when we are an adult.
Or at least for me.
Ketika menulis hal ini, saya bertanya pada diri sendiri, ‘apa yang bisa kamu tulis tentang percaya diri? Are you confident enough to talk about it?’
Mungkin jawabannya adalah tidak, tapi saya akan mencoba bicara tentang percaya diri dari kacamata saya, seseorang yang butuh waktu hampir sepuluh tahun untuk bisa sedikit percaya diri.

Insecure, Masalah Semua Orang

Saya rasa, hampir semua remaja merasa insecure. Ada saja hal yang membuat kita minder dan tidak bisa percaya diri. Merasa kurang cantik, kurang pintar, kurang kaya, dan kalau ditelaah, akan ditemukan banyak hal kecil yang bisa menjadi sumber insecurity. Sampai dewasa, hal ini terus kita rasakan, bisa berkurang atau malah bertambah.
Bahkan, orang paling flawless sekalipun juga pernah dealing with their insecurity.
Dalam pekerjaan, salah satu job desk saya adalah menulis profil tentang seseorang, entah itu interview langsung atau kurasi dari sumber kedua, ketiga, dan seterusnya. Seringkali saya menemukan curhatan tentang insecure ini. Mereka yang di mata kita terlihat seperti seseorang yang sempurna juga tidak bisa terhindar dari hal ini.
Seulgi ‘Red Velvet’ pernah bercerita kalau dia sering merasa insecure akibat ketidakpastian yang dialaminya soal kapan akan debut. Melihat teman-temannya secara silih berganti keluar dari agensi, sementara dia menghabiskan waktu tujuh tahun sebagai trainee membuatnya sempat insecure dan mempertanyakan apakah ini jalan yang benar?
Joy ‘Red Velvet’, salah seorang vokalis dengan suara menenangkan sempat tidak pede untuk terus bernyanyi karena komentar negatif yang diterimanya dan membuatnya jadi takut saat berada di panggung.
Irene ‘Red Velvet’, yang disebut sebagai salah satu seleb paling cantik, juga merasa insecure dengan wajahnya, sehingga dia memutuskan memakai kacamata karena merasa wajahnya jelek.
Seorang pemain film Indonesia berinisial T pernah bercerita kepada saya kalau growing up is suck, dan dia sempat memiliki toxic friend yang membuatnya akhirnya menyabotase diri sendiri sehingga insecure dengan penampilannya, dan dia pun mengalami gangguan makan yang lumayan parah.
Atau mungkin salah satu teman saya, dengan pemasukan bulanan yang bisa dibilang fantastis, juga merasa insecure ketika memikirkan masa depan dan kisah percintaannya.

We have our own insecurities. Masalahnya, jika dibiarkan maka insecure ini akan menghambat kita dan ujung-ujungnya tidak membuat kita melakukan apa-apa. Seulgi dan Joy melawan rasa insecure itu, T juga melakukan hal yang sama. Teman saya, sampai saat ini masih sering memikirkan hal ini, tapi perlahan kami bersama-sama mencoba untuk melawannya.

Saya juga pernah merasa insecure. Flashback ke masa sepuluh tahun lalu, sepertinya di tanggal-tanggal ini saya tengah deg-degan ingin memulai perkuliahan. Salah satu teman kost saya dulu pernah berkata, ‘Komunikasi kan isinya anak gaul semua. Jurusan artis. Tajir-tajir. Yakin kamu bisa survive?’ Mendapat pertanyaan seperti itu, nyali saya ciut, karena saya tahu jawabannya tidak.
Salah seorang teman SMA saya juga pernah berkata. ‘Kok bisa kamu lulus Komunikasi? Aku aja yang lebih pintar dari kamu dan ketika try out selalu lulus sementara kamu enggak, tapi kenapa malah enggak tembus?’ Pertanyaan itu membuat saya berpikir, apa iya saya pantas kuliah di sini?
Masa awal perkuliahan adalah sesuatu yang berat. Selama berbulan-bulan saya seperti berjalan di atas benang tipis, dan kapan saja harus siap untuk terjatuh kalau saya tidak cukup yakin untuk meniti benang itu.
Satu hal yang saya pelajari saat itu, I have to fight back. Selamanya ciut enggak akan menyelesaikan masalah. Saya ragu, saya gamang, saya tidak pede, tapi saya mencoba melihat dari sudut pandang lain.
Just like what Sam said:

Ketika melihat teman-teman, yang welcoming saya dengan tangan terbuka, saya melihat ke depannya akan ada banyak hal seru menanti untuk ditaklukkan, dan bukankah itu yang selama ini saya impi-impikan? Saya selangkah lebih dekat dengan impian, apa saya tega semuanya jadi hancur berantakan hanya karena saya tidak yakin?
Later, setelah semakin dewasa, setelah berkenalan dengan banyak orang, setelah mengetahui banyak kisah hidup orang, saya paham kalau we have our own insecurities. Yang bisa dilakukan hanya dua, menyerah atau melawan. Ada yang menyerah, ada yang melawan. Lucky me, saya lebih banyak melihat orang-orang yang melawan, sehingga saya terpacu untuk melakukan hal yang sama.
Belakangan saya sadar kalau mungkin tidak ada orang yang benar-benar percaya diri. Karena bagaimanapun, rasa insecure itu akan selalu ada. Namun, kembali lagi, bagaimana cara kita membawa diri? Mereka yang terlihat pede dan yakin bisa menguasai dunia, bisa saja di dalam hatiya dia merasa insecure akan satu hal, tapi hal itu tidak digubrisnya.
Dan saya mencoba untuk seperti itu.



It’s Not Easy

Ini tidak mudah. Tentu saja. Juga bukan hal yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Seseorang mungkin butuh waktu beberapa hari saja untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya, dan ada yang butuh waktu bertahun-tahun.
Saya termasuk orang yang membutuhkan proses dalam waktu lama.
2012-2013 merupakan titik balik dalam hidup saya. Di rentang waktu ini, saya akhirnya benar-benar tahu siapa diri saya yang sebenarnya. Di rentang waktu ini juga, masa depan yang dulu kabur, perlahan mulai terlihat cerah.
I’ve got a new and better job. A job that fits me so much and makes me learnt many things, including how to beat my insecurities. At that time, I also achieved my old dream, published my own book.
Jatuh bangun dalam waktu lama, melihat orang-orang datang dan pergi dalam hidup, belajar banyak hingga akhirnya saya mulai merasa bisa melangkah dengan mantap.

Memarahi Diri Sendiri

The question is, what did you do?
Sewaktu interview Meghan Trainor, saya pernah bertanya apa ada kebiasaan sederhana tapi punya impact luar biasa dalam hidupnya yang bisa membuat dia jadi makin percaya diri? Meghan menjawab kalau dia suka berkata dan menyemangati dirinya sendiri di depan kaca setiap pagi. Saying that she’s beautiful and she can do it.
Sama seperti Meghan, setiap pagi saya selalu berdialog dengan diri sendiri. Saya akan memulai dengan pertanyaan simpel, ‘apa yang akan kamu lakukan hari ini? Apa yang akan kamu capai hari ini?’ Dengan begitu, saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan untuk memenuhi keinginan di hari ini.
Lebih jauh lagi, saya juga sering memarahi diri sendiri di depan kaca. Butuh keberanian untuk memarahi diri sendiri, saya mengakuinya.
Pertengkaran terbesar dengan diri sendiri terjadi ketika saya berumur sekitar 22 tahun. Menjelang lulus kuliah, saya kembali gamang saat memikirkan masa depan. Saat itu saya berkenalan dengan nulisbuku club. Awalnya saya enggak berani untuk ikut, tapi suatu hari, ketika saya berdialog dengan diri sendiri, pertengkaran itu terjadi.
Saya memarahi diri sendiri yang pengecut, tidak berani untuk keluar dari kesendirian yang selama ini sudah membuat saya terlalu nyaman. Saya membeberkan apa yang mungkin saya dapatkan. Teman baru dengan interest yang sama, kenalan dengan orang yang lebih ahli di bidang literasi, dan tentunya kesempatan untuk mewujudkan impian lama yang selama ini selalu tertunda karena saya yang terlalu pengecut.
Bertahun kemudian, saya bisa berkata pada diri sendiri ‘told you, ya’ dan tidak ada penyesalan.

Again, what did you do? Well, sederhananya begini:

1.                  Melihat dari kaca mata lain. Kalau hanya melihat dari kaca mata kita dan satu sudut pandang saja, saat ini saya pasti masih jadi sosok enggak pede yang punya banyak kekhawatiran. Simpelnya, saya meyakinkan diri akan banyak petualangan baru menanti di masa depan, jadi harus bisa nyiapin diri untuk menyambutnya.
2.                  Berdialog dengan diri sendiri, sejujur-jujurnya. Saya tahu, jujur kepada diri sendiri itu sulit. Namun, perlahan-lahan pasti bisa. Setiap pagi, luangkan waktu untuk berbincang dengan diri kita. Dan akhiri seperti yang dilakukan Meghan, ‘you can do it’.
3.                   Saya suka quotes. Teman saya Astri Arsita pernah menulis soal kenapa, sih, seseorang suka banget baca quotes? Saya termasuk seseorang yang suka membaca quotes. Quotes dari tokoh terkenal, quotes yang suka ditemui di tumblr dan pinterest dan enggak diketahui sumbernya, saya juga suka menandai, lalu mencatat kembali quotes menarik di buku yang saya baca, atau menjadikannya caption di Instagram. Saya follow beberapa akun quotes, dan galeri handphone dipenuhi dengan quotes yang saya temukan, baik di internet atau secara langsung. Sebelum berangkat kerja, saya akan membaca quotes ini and believe it or not, that quotes make me happy. Juga meyakinkan saya kalau everything’s gonna be okay, at least for today.
4.                  Surround yourself with positive people, who accept you for the real you, who laugh at themselves so you can laugh at yourself. Pertengkaran dengan diri sendiri di tahun 2011 membuat saya akhirnya mencoba untuk mengenal banyak orang baru dan memperluas pertemanan. Akhirnya, saya bisa mengelilingi diri dengan teman-teman who inspire me in their way and maybe they don’t realize it. Selalu ada yang bisa saya pelajari dari mereka. Di balik chat random, di balik obrolan saat makan siang, di balik obrolan saat menghadang macet, di balik tawa haha hihi bersama mereka, selalu ada yang saya pelajari dan saya kembalikan ke diri sendiri sehingga saya pun bisa jadi sosok yang lebih baik.

Jadi, apa yang kamu lakukan agar bisa percaya diri?
XOXO,
iif

Notes
Intan: “Soalnya Kak If pernah cerita kalau dulu sempat enggak percaya diri dan sekarang udah lebih percaya diri. Nah, itu gimana cara membangun kepercayaan diri itu, pasti, kan, enggak gampang.”

Intan is Cewekbanget.id’s writer. She’s not only inspired me about skincare or lipstick, but our random conversation brings something into my life.

No comments: