2017 - Ifnur Hikmah

Monday, December 18, 2017

“You’ve Worked Hard, Jonghyun.”
December 18, 20170 Comments



From now on, an angel will singing from heaven.
Saya ingat betapa gegap gempitanya keadaan ketika Taeyang dan Min Hyo Rin akan mengumumkan untuk menikah. Ketika tiba-tiba saja, salah seorang writer saya, memanggil.
“Mbak, Jonghyun ‘SHINee’ meninggal?”
Reaksi pertama saya adalah, ‘what?’ dan tanda tanya itu semakin besar ketika saya mulai menjelajahi internet dan melihat berita tentangmu. Saya masih mengelak dengan alasan website tersebut mempunyai imej yang buruk. Ditambah dengan berita di Twitter yang sangat simpang siur. Ada yang bilang kamu sudah meninggal. Ada yang bilang kamu masih hidup, hanya saja tidak sadarkan diri.
Saya bertahan pada harapan semu itu, berharap semoga ini hoax, atau kalaupun benar, kamu masih bisa diselamatkan. Hingga akhirnya, perlahan tapi pasti, saya tidak lagi bisa berpegang pada harapan semu itu.
Tubuh saya rasanya kehilangan kendali. Tangan saya gemetar. Saya menggigil hebat. Berita ini sungguh tidak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin saya bisa menerimanya, sementara baru minggu lalu saya menonton fancam konser tunggalmu dan berharap tahun depan kamu akan kembali ke Jakarta. Juga, baru kemarin saya membaca berita dirimu kembali ke variety show, juga rencanamu untuk merilis album, bahkan sudah selesai syuting MV. Jadi, berita ini jelas sangat tidak masuk akal, bukan?
Hingga akhirnya polisi merilis pernyataan dari kakakmu, ketika kamu mengiriminya pesan dan berkata bahwa ini sangat berat dan kamu sudah tidak sanggup lagi, sehingga kamu memutuskan untuk mengakhiri semua penderitaanmu.
My dear, Jonghyun…

Saya mungkin bukan penggemarmu yang mengikutimu sejak hari pertama. Saya juga bukan penggemarmu yang setiap 24/7 tahu semua hal tentangmu. Saya mungkin sering berpindah hati, tapi saya tahu, tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu di hati saya.
Juni 2014 jadi momen pertama saya bertemu kamu, dan itulah titik balik di hidup saya, ketika saya akhirnya menemukan kembali dirimu, dan membuat saya jatuh cinta kembali kepada suaramu yang mampu membuat siapa pun merinding. Kemudian, saya jatuh cinta kepada lagu-lagumu. Dan terlebih kepada pemikiranmu.
Sosokmu yang cerdas dan sangat berbakat mampu mencuri hati saya. Kamu begitu berani mengungkapkan pendapatmu, bahkan tentang hal sensitif, dan meski karena itu, publik pun menyudutkanmu. Kamu berani mengakui kesalahan dan langsung meminta maaf. Kamu juga mau terbuka atas pendapat orang lain, sehingga ketika ada yang menuduhmu, alih-alih marah, kamu mengajak dia berdiskusi, menyampaikan pikiranmu dan mendengarkan pikiran mereka, sehingga bisa mencapai penyelesaian dan menyelesaikan semua kesalahpahaman.
Untuk penggemarmu di luar sana—termasuk saya—kamu adalah sosok yang luar biasa.
Monthly Live Connection

Saya tidak bersama kamu selamanya sehingga saya tidak paham beban apa yang kamu pikul. Personamu begitu kuat, sebagai sosok yang percaya diri di atas panggung, sehingga saya tidak menyadari bahwa sebenarnya kamu rapuh. Hingga saya menonton acara ini dan menyadari sisi lain dirimu.
Kamu ingat Elevator? Lagu itu sangat berarti bagi saya, mungkin juga bagi kamu, karena di sana kamu terbuka tentang luka yang kamu pikul sejak kecil. Kamu bahkan mengajak kami ikut serta menaklukkan ketakutanmu, kembali ke masa kecilmu. Bagaimana kamu menginginkan dunia luas, bukan terjebak di dalam tempat sempit yang membuatmu sulit bernapas.
Lagu-lagumu begitu jujur, selalu bisa merasuk ke hati pendengarmu, dan seakan menjadi perpanjangan tangan kami, ketika kami tidak bisa menyuarakan isi hati. Seperti halnya saya yang tidak bisa menyuarakan rasa sesak yang saya rasakan dan ingin keluar, ke dunia luas, dan kamu mewakilkannya lewat Elevator.
Sekarang, kamu sudah berada di tempat yang lebih luas lagi, Jonghyun.
Itu hanya satu.
Skeleteon Flower. Diphellia Grayi.

Saya mungkin tidak akan pernah berkenalan dengan bunga yang indah ini, juga cara kamu memaknai cinta yang bisa hilang seperti halnya bunga transparan ini saat tersentuh air.
Kamu menyadarkan saya bahwa bahasa itu indah, sekalipun saya tidak mengerti bahasa yang kamu ucapkan. Yang saya tahu, saya menangkap keindahan itu dari nada yang kamu lantunkan.
Kita Terkoneksi Tanpa Batas Ruang

Kamu pernah bilang betapa kamu mencintai Blue Night. Karena di sana kamu bisa berbagi ceritamu dan kamu mendengar cerita orang lain. Kamu sendiri heran ketika tahu ada pendengar dari benua lain ikut mendengarkanmu. Sekian ribu kilometer dari tempatmu, saya ikut mendengarkanmu setiap malam, sekalipun saya tidak mengerti apa yang kamu ucapkan.
Namun, dari cara kamu menyampaikan sesuatu, menenangkan orang lain yang berbagi ceritanya denganmu, saya ikut merasakan ketenangan itu. Seakan kamu juga menenangkan semua kerisauan saya.
Kamu tidak hanya mendengarkan, tapi juga memberikan pencerahan. Kamu mungkin tidak pernah menyadari kalau kata-katamu itu merasuk masuk ke hati banyak orang, dan itu mampu menenangkan kami, termasuk saya.
Kamu mungkin tidak tahu kalau saya punya satu file penuh berisi kutipan-kutipanmu selama membawakan Blue Night. Saya serasa mendengar nasihat dari seseorang. Lucu, mengingat saya sering memanggil dirimu ‘adek’ karena kamu memang lebih muda, tapi kamu begitu tulus dan sangat menghormati orang lain sehingga banyak yang mempercayakan ceritanya kepadamu.
Namun, saya ingin bertanya, apakah kamu mempercayakan ceritamu kepada orang lain?
Saya tidak mengerti apa yang kamu lalui, tapi saya bisa memahami bahwa itu sangat berat, hingga akhirnya kamu menyerah. Mungkin kami—publik—terlalu terpukau dengan senyummu, suaramu, dan persona percaya dirimu, sampai kami lupa bahwa kamu hanyalah manusia biasa. Mungkin kamu sudah mencoba menangis meminta pertolongan, tapi kami terlalu sibuk dengan permasalahan kami, sehingga tidak mendengar tangisanmu.
Sekarang, kamilah yang menangis, ketika menyadari semuanya sudah terlambat.
You’ve Worked Hard

Kamu tahu kapan pertama kali saya mendengarkan End of a Day? Saat itu saya ada di bus, dalam perjalanan pulang ke rumah. Sudah malam dan saya masih harus menempuh perjalanan panjang. Melelahkan. Bukan saja perjalanan itu. Tapi juga pekerjaan. Ekspektasi orang lain. Ekspektasi saya sendiri. Dan permasalahan lainnya yang membuat saya rasanya ingin menyerah.
Lalu kamu datang dan berkata ‘you did a good job today, you worked so hard.’ Kalimat itu memaku saya, menyadarkan saya bahwa di penghujung hari, semua akan baik-baik saja. Sejak saat itu, End of a Day selalu menjadi teman saya. Terima kasih sudah berkata seperti itu. Dan sekarang, izinkan saya untuk ikut berkata, ‘you’ve worked hard, Jonghyun. You did a good job.’
Bernapaslah

Tidak apa-apa jika kamu merasa lelah dan kehabisan napas. Itu hal yang pasti dialami semua orang. Tapi, jangan menyerah karena semuanya pasti akan terlewati.
Sekali lagi, lewat permainan katamu, kamu memberikan pijakan bagi kami, para manusia lelah yang berjuang dengan hidup sepanjang hari. Namun sekali lagi, kami lupa bahwa kamu pun merasakan hal yang sama, atau mungkin lebih berat. Mungkin kamu merefleksikan dirimu lewat lagu ini, hanya saja kami tidak menangkapnya karena terlalu senang memiliki sesuatu yang bisa menenangkan rasa lelah kami.
Kami bisa berpegang pada musikmu, tapi kepada siapakah kamu berpegang?
Dear my favorite writer…

Jika saya egois, maka saya akan bertanya, ‘kenapa kamu melakukan ini?’ Tapi tidak. Iblis itu sudah menjadi musuhmu sejak lama dan kamu berjuang sendirian melawannya, tanpa kami perlu tahu hal itu. Saya mengerti keputusanmu, meskipun berat untuk menerimanya.
Kamu mungkin tidak mengenal saya atau tahu bahwa saya ada. Namun saya ingin kamu tahu bahwa banyak orang yang berterima kasih kepadamu. Atas tulisanmu. Atas lagumu. Atas nasihat yang kamu berikan. Atas perhatianmu mendengarkan cerita kami.
Atas semuanya.
Sekarang, kamu tidak perlu lagi melawan iblis itu.
You’ve worked hard, Jonghyun.
Ditinggalkan memang menyakitkan. Namun, ditinggalkan juga menyadarkan saya bahwa kita harus menghargai kehadiran seseorang karena kita tidak pernah tahu berapa lama waktu yang kita miliki bersama. Ditinggalkan juga menyadarkan saya untuk lebih menghargai waktu, karena setiap waktu yang terbuang adalah sesuatu yang berharga.
Saya tidak tahu apakah esok saya sanggup melangkah memasuki kamar dan disambut oleh poster wajahmu. Saya juga tidak tahu apakah saya masih sanggup mengelap albummu agar tidak berdebu. Dan saya juga tidak tahu apakah saya masih sanggup mendengarkan lagumu.
Namun yang saya tahu, saya tidak akan pernah berhenti mengagumi.
Hari ini dunia berduka karena sudah kehilangan salah satu musisi berbakat. Namun ada yang berduka karena sudah kehilangan seorang anak, seorang adik, seorang sahabat, seorang rekan kerja, seorang mentor, seorang yang sangat berarti di hidup kami.
Sekali lagi, terima kasih Jonghyun, karena sudah menjadi inspirasi bagi dunia.
You’ve worked hard, and now, you can smile from heaven and singing your heart out.
Your fans.
Reading Time:

Saturday, December 9, 2017

7 Hal yang Membuatku Merasa Seperti Yoon Ji Ho di Drama Korea Because This Is My First Life
December 09, 20170 Comments
Yoon Ji Ho (Jung So Min) - Because This Is My First Life


Jujur, awalnya saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton drama ini. I know Jung So Min as some girl from Playfull Kiss and Lee Min Ki as some psycho kids from Shut Up Flower Boy Band. Ketika mereka dipasangkan, saya kurang tertarik karena sudah lama sejak terakhir kali melihat mereka, sekalipun media Korea banyak memberitakan mengingat So Min meraih popularitas lewat drama sebelumnya, Father Is Strange, dan ini comeback Minki ke dunia drama setelah sepuluh tahun (cameo enggak termasuk). Ditambah, sinopsis awal yang sama sekali enggak menggambarkan seperti apa ceritanya.
Pada akhirnya, di sela menunggu kelanjutan While You Were Sleeping (akhirnya ini belum diselesaikan), saya pun melirik drama ini. Terlebih ketika di Twitter banyak bertebaran review singkat dua episode pertama drama ini, dengan quotes yang oh-so-relatable. Sehingga saya pun menontonnya.
Dan saya langsung jatuh cinta di dua episode pertama. Selesai menonton, saya pun menetapkan ini sebagai drama terbaik yang saya tonton di tahun 2017. Well, maybe this will be my lifetime drama, just like Signal and Another Oh Hae Young.

Cerita yang dihadirkan memang masih memiliki unsur fairy tale, tapi penulis skenario bisa membuatnya terlihat realisis. Yang juara adalah dialog dan monolog para tokoh, seakan apa yang dihadirkan di sana adalah curahan hati kita.
Dalam tulisan kali ini, saya akan bicara soal Yoon Ji Ho, our main protagonist. Sepanjang enam belas episode, saya bisa nyambung dengan karakter Ji Ho. Dia perempuan biasa, terlalu biasa malah. Dia bukan perempuan tangguh yang bisa berdiri tegak melawan dunia, juga bukan damsel in distress yang oh-so-miserable dan bisanya hanya menunggu untuk diselamatkan. Ji Ho adalah perempuan kebanyakan, sehingga saya bisa melihat bagian dari diri saya di dalam diri Ji Ho.
Di beberapa bagian, Ji Ho bisa menyuarakan apa yang tidak bisa saya kemukakan. Ya, saya masih punya kesulitan untuk mengungkapkan apa yang saya maksud dan cenderung menyimpannya dalam hati. Ji Ho pun seakan menjadi corong yang mewakili saya.
Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan 7 yang membuat saya merasa seperti Yoon Ji Ho di drama Korea Because This Is My First Life.

Don’t Know What To Do

I’m approaching my 30. This year, i celebrate my 28 birthday. Diceritakan Ji Ho kelahiran 1988 yang tahun ini merayakan usia ke-30 (dalam perhitungan Korea). Bicara soal umur 30, mungkin muncul ketakutan bahwa apa yang kita impi-impikan selama ini sudah berhasil dicapai. Usia ini merupakan saat kita mulai mengecap apa yang ditabur di tahun-tahun sebelumnya.
Kenyataannya? Hidup Ji Ho sangat jauh dari kata mapan. Dia bahkan struggling menemukan tempat tinggal, struggling di pekerjaan, di saat teman-temannya sudah bisa dibilang sukses. Ji Ho tidak pernah menyangka jika usia 30 akan dijalani seberat ini. Dia terlalu sibuk memikirkan dirinya dan struggle yang harus dihadapinya sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan masalah cinta.
At some point, I feel like Ji Ho. When I was a kid, I imagine my 30 would be full of glamorous things. Sayangnya, saat itu saya tidak melihat sisi lain, perjuangan, dan faktor lain yang membuat perjalanan hidup itu kadang terasa berat. Dan menjelang usia 30, Ji Ho menyadarkan saya kalau saya pun merasa clueless, don’t know what to do about my 30. Namun yang pasti, setiap hari adalah tantangan yang harus dihadapi. Everyday is a struggle.


Anak Rantau
Dok. cewekbanget.id

Ji Ho bukan berasal dari Seoul, melainkan dari Namhae. Dia menghabiskan masa kecil dan remajanya di sana, dan bermimpi bisa kuliah di Seoul University. Namun, nilainya tidak memungkinkan dia untuk masuk fakultas hukum, sesuai keinginan ayahnya. Tapi, dia malah mengambil jurusan yang disukainya, Korean Literature, karena dia ingin jadi penulis.
Mengikuti latar belakang Ji Ho membuat saya melirik kembali masa sepuluh tahun ke belakang. Just like Ji Ho, I was born in small town and grown up there, dreaming that someday I will step into big city to achieve my dream. And just like Ji Ho, I want to be a writer too, so I want to study Indonesian Literature. Itu pilihan kedua saya, dan sebenarnya jauh dalam hati, itulah jurusan yang saya inginkan. Saat itu, saya bukan murid cemerlang dan meski punya mimpi tinggi, saya pun menyadari kalau suatu hal yang mustahil bisa lulus di Ilmu Komunikasi. Namun Tuhan berkata lain.
Sama seperti Ji Ho, saya datang ke Jakarta dengan koper baru dan rasa gugup, berharap kota ini bersikap baik sama saya. Dan sama seperti Ji Ho, ada masanya saya menyerah dan sadar kalau tidak ada tempat untuk saya di sini dan ingin pulang, mengabaikan semua impian saya.
“Comeback without achievement? There’ll no place for me since beginning.” - Yoon Ji Ho
Ji Ho tidak jadi menyerah. Dan saya? Sampai saat ini masih berusaha bertahan, meski koper itu sudah rusak sejak bertahun-tahun lalu.


Why It’s Hard To Achieve Your Dream?

Diceritakan Ji Ho adalah lulusan Seoul University, universitas bergengsi (looks like my background, right?). Ketika ingin mencapai impiannya, dia tahu kalau jalan yang akan ditempuhnya tidaklah mudah. Namun dia tidak menyangka kalau jalan itu akan seberat ini.
As a dreamer, saya punya bayangan akan seperti apa masa depan nantinya. Dulu, sepuluh tahun lalu. Saya tidak seperti Ji Ho yang sudah sejak awal menyadari bahwa it’s not easy and it never gonna be easy.
Namun pada akhirnya, saya pun tiba di titik yang sama seperti Ji Ho, menyadari bahwa perjalanan ini, ketika akhirnya kita mulai menapaki mimpi-mimpi itu, tidaklah mudah. Ada banyak hambatan di kiri kanan. Setiap pagi saya bangun dengan pertanyaan ‘kesulitan apa lagi yang harus saya hadapi sekarang? Kenapa tidak ada waktu, sehari saja, untuk saya bernapas tanpa harus khawatir?’
But this is life. Setiap detik itu berisi tantangan dan untuk saat ini, dan setiap detik kita (saya) harus khawatir.
Jika Ji Ho berteriak di bawah terowongan, saya cukup berteriak di ruangan karaoke saja.


Satu Ruangan, Cukup

Bagian ini juga sangat related ke kehidupan saya sekarang.
Ceritanya Ji Ho harus ‘terusir’ dari rumahnya karena adiknya menikah dan dia luntang lantung. Untuk menyewa apartemen pun susah karena dia enggak punya deposit yang cukup. Akhirnya ada satu ruangan di apartemen Nam Se Hee yang bisa dia sewa. Satu ruangan, tapi itu sudah cukup baginya. Tempat dia bisa beristirahat, tempat dia bisa menulis.
I don’t have home or apatment. All I have is one small room but it’s enough. I just need some place to sleep after a long and tired day.


Always Be a Defender, Never Been a Striker

Ji Ho suka banget sepak bola. Sebuah kebetulan karena saya dan Ji Ho adalah Gooner alias fans Arsenal. Ji Ho mengibaratkan dirinya ke dalam permainan sepak bola. Dia adalah seorang defender, alias pemain belakang. Fungsi pemain belakang adalah menahan serangan lawan dan melindungi gawang. Sebagai defender, dia hanya menunggu, tidak pernah berinisiatif untuk memulai duluan. Sampai suatu ketika, Ji Ho menyadari kalau seumur hidupnya, dia adalah seorang defender.
Dan detik itu saya juga menyadari kalau seumur hidup saya juga seorang defender. Saya hanya menunggu. Menunggu kesempatan, menunggu apa pun. Jaraaaang banget saya memulai sesuatu, menjadi seorang striker, yang bergerak mencari celah untuk mengoyak pertahanan lawan.
Tidak ada salahnya menjadi defender, tapi saya rasa, sekarang sudah saatnya untuk menjadi seorang striker.
Termasuk dalam masalah hati. Selama ini, ternyata saya juga seorang defender, tapi lagaknya sering berkata seolah-olah saya ini seorang striker. Seperti Ji Ho yang memutuskan untuk berhenti menjadi defender dan mencoba jadi striker demi membobol gawang alias hati Se Hee, saya pun ingin melakukan hal yang sama. Being a striker.


Longing for Love

Ji Ho punya dua sahabat, Soo Ji dan Ho Rang. Di salah satu episode diceritakan ketika mereka masih SMA dan apa yang ingin mereka raih dalam hidup. Soo Ji ingin jadi CEO dan Ho Rang ingin menikah dengan pria mapan lalu jadi ibu rumah tangga.
Sementara Ji Ho? Out of nowhere, dia ingin mendapatkan cinta. Impian Ji Ho memang abstrak dan seolah tidak sesuai dengan dirinya.
But, do you know what I want from inside my heart? It’s love.
Mungkin saya terlihat cuek dan seakan tidak peduli, mungkin saya terlihat ingin meraih hal lain, tapi sekali hopeless romantic, sepertinya selamanya akan menjadi hopeless romantic.
Dan sampai saat ini, saya masih memimpikan satu hal itu. Cinta yang apa adanya. Cinta yang tanpa tendensi apa-apa. CInta yang tidak menuntut apa-apa.
Tapi mungkin impian ini masih harus disimpan dulu, karena saatnya belum tepat. Di beberapa tulisan sebelumnya, saya pernah menyinggung soal masa pembenahan diri. Saya masih mencoba untuk menerima dan mencintai diri sendiri. Bagi saya, ini penting, sebelum sepenuhnya bisa menerima orang lain.
“I can hardly support myself, how can I  date and love in this state?” - Yoon Ji Ho


Happy When You’re Writing

Ho Rang pernah bertanya, kurang lebih begini, “apa ada masalah dengan tulisanmu? Kamu tidak begitu mengejar karier seperti Soo Ji, dan kamu juga tidak punya pacar seperti aku. Tapi kamu selalu bahagia ketika kamu menulis.”
Ho Rang tidak hanya bertanya pada Ji Ho. Seakan dia juga menyadarkan saya.
Jika boleh memilih momen yang paling membahagiakan, itu ketika saat menulis, dan kemudian membaca hasil tulisan itu. Seperti saat ini, saya merasa lega ketika menulis ini, dengan bulir-bulir air mata yang setiap saat bisa turun (saya tidak mengerti kenapa saya begitu emosional saat menulis ini).
Jika Ji Ho akhirnya memutuskan untuk berhenti menulis karena sesuatu hal, saya pun sempat akan berhenti menulis karena merasa jenuh dan enggak punya waktu. But someone reminds me to keep writing.
“Dari pada lo makin gila enggak jelas, sana nulis lagi. Lo itu bukannya enggak ada waktu. Kalau lo masih punya waktu buat scrolling Instagram sampai jam 2 pagi, itu artinya lo punya waktu buat nulis. Lo jenuh? Itu wajar, tapi masa iya cuma karena jenuh trus udahan?”
Thank you, capt.
In the end, I try to write again. Saya melihat folder berisi file yang belum selesai dan membacanya satu per satu. Dan benar, keinginan itu muncul lagi. Ketika sudah mulai, maka selanjutnya akan berjalan lancar. Tahu-tahu saya sudah menulis sekian ribu kata. Ini terapi yang saya butuhkan biar enggak gila.
Saya tidak tahu tulisan itu nanti akan berakhir di mana. Entah di meja editor, entah di rak di toko buku, atau akan tetap ada di laptop saya, tapi yang pasti, saya bahagia.


Menonton drama ini memang menghibur dengan tingkah antiknya Se Hee, tapi juga membuat saya semakin mengenal diri saya lewat Ji Ho. Thank you Ji Ho, for making me appreciate my life.

Seperti kata Ji Ho. Hidup itu dipenuhi banyak momen pertama kali. Bahkan, setiap detik itu adalah momen pertama yang kita rasakan. Dan kenapa kita merasa sudah mengenal ‘hari ini’ hanya karena kita sudah melewati ‘hari kemarin?’ Hari ini adalah momen pertama dalam hidup, dan kita tidak mengenalnya, tapi kita harus menjalaninya.
“This world is not going to be a better place, that also means my life is not going to get better. I shouldn’t be looking forward to the better future. I might be living to avoid the worst thing that could happen tomorrow.” - Yoon Ji Ho.


PS:


But one thing for sure. I know I’m crazy, sometimes makes crazy decision, but I know I never get married with someone I barely know for the sake of some place to stay. But I think I’ll consider it if someone like Se Hee asks me to married him.

(Buat baca quotes Yoon Ji Ho yang oh-so-relatable banget, bisa ke cewekbanget.id atau klik link ini)
Reading Time: