Sepuluh Bulan Bersama Wattpad, Akhirnya Menyelesaikan Menulis Satu Novel




Sejujurnya agak lupa gimana ceritanya sampai akhirnya nyemplung di Wattpad. Namun yang saya ingat, semua bermula dari obrolan di grup WhatsApp bersama teman-teman yang kebetulan memang suka menulis.
Mungkin berawal dari keprihatinan banyaknya novel di toko buku dengan embel-embel ‘sudah dibaca sekian juta kali di Wattpad’ tapi seringkali embel-embel tersebut hanya sebatas gimmick saja, mengingat ceritanya bisa membuat kita mengernyitkan dahi.
Anyway, entah siapa yang memutuskan sehingga saya dan teman-teman membuat akun di Wattpad. Ada yang tumbang, dan saya pun hampir tumbang.
Menulis Tanpa Tendensi Apa-Apa

Saya suka menulis, tapi kapan terakhir kali saya menyelesaikan menulis sebuah novel? It’s a looong time ago. Mungkin sekitar 2014, karena setelah itu, saya tidak lagi ingat pernah selesai menuliskan novel sendiri (kalau novel duet kayaknya ada di 2015). Jadi, kenapa tidak memanfaatkan momen ini sebagai ajang untuk membangkitkan kembali hasrat menulis?
Kadang, melakukan sesuatu tanpa tujuan tertentu atau tenggat tertentu memang bikin kita lebih enjoy.
Itulah yang saya alami selama menulis di Wattpad.
Ide cerita ini muncul begitu saja, bahkan saya tidak tahu akan membawa cerita ini ke mana. Yang saya tahu, saya hanya ingin menulis seorang cewek yang pesimis sama cinta dan menikmati hidupnya karena baggage issue yang dimiliki. Lalu ada pria yang kurang lebih sama. Ya, saya memang suka dengan tokoh pesakitan seperti ini. Entah kenapa, membuat karakter dengan masa lalu kelam jauh lebih menantang sekaligus menyenangkan.
Dan saya pun mempertemukan mereka di tempat favorit saya, bandara.
Selanjutnya? Jujur,saya tidak punya gambaran apa-apa.
Bikin Ala-Ala Wattpad

Salah satu topik bahasan di grup kami itu adalah tipikal cerita Wattpad. Yup, some jerk CEO with innocent maid. Kasarnya seperti itu, karena cerita yang banyak beredar adalah cowok super tajir super seksi super segala-galanya dan cewek super biasa-biasa saja. Tambahkan si cowok juga galak, dan si cewek innocent serta clueless. Lalu mereka saling tertarik.
“Jangan lupa adegan enak-enak.” Ini kata salah satu teman saya.
Tahu maksudnya? Yup, mungkin Wattpad menjadi salah satu tempat untuk menyalurkan rasa ingin tahu terhadap seks sehingga cerita yang mengandung adegan seks selalu meraih hits tinggi. Jangan bayangkan seks manis seperti Rachel Gibson, karena kebanyakan ceritanya adalah adegan seks yang bikin siapa saja mengerutkan kening saking enggak masuk akalnya.
Berangkat dari hal itu, saya pun tertantang untuk menulis di sana. Dengan nama pena yang hanya diketahui segelintir orang, tanpa promosi apa-apa, karena saya ingin tahu, sejauh mana sebuah cerita bisa menjangkau pembaca.
Namun akhirnya saya tidak bisa membohongi hati nurani. Damsel in distress is not my kind of girl. Cowok super juga tidak sesuai dengan akal sehat saya. Sehingga pada akhirnya saya tetap menulis karakter sesuai dengan yang saya inginkan.
Fairy tale juga bukan lahan saya, sehingga akhirnya saya pun menghadirkan cerita yang realistis. Meski tentu saja, dramanya tetap ada.
Sempat Tertunda, Akhirnya Selesai

Saya memulai menulis cerita ini di Maret 2017. Sempat terhenti sebelum mulai lagi di Juni. Terhenti lagi dan baru rutin kembali di November – Desember 2017.
Bisa saja cerita ini mengalami nasib yang sama dengan cerita selanjutnya, terabaikan begitu saja di laptop tanpa diselesaikan. Namun, pengalaman di Wattpad memecut semangat saya hingga akhirnya cerita ini selesai di Februari 2018. Hampir satu tahun. Memang, itu waktu yang lama, tapi saya senang karena berhasil mengalahkan rasa malas dan akhirnya ada juga novel yang berhasil saya selesaikan.
Selama ini, ada dua pihak yang sangat demanding menurut saya, yaitu pacar dan bos. Namun setelah berkecimpung di Wattpad, saya menemukan pihak ketiga yang demanding-nya jauh melebihi pacar dan bos: pembaca Wattpad.
Yup, mereka sangat antusias. Mereka tidak ragu memberikan upvote dan meninggalkan komentar. Sehingga saya bisa langsung mengetahui feedback-nya. Merekalah yang akhirnya melecut semangat saya untuk melanjutkan menulis. Karena tidak update dua hari saja, selalu ditanyain terus menerus.
Interaksi timbal balik seperti inilah yang membuat engagement antara penulis, karakter, dan pembaca jadi satu kesatuan yang kuat. Sekarang saya tidak heran kenapa bisa banyak novel dari Wattpad di toko buku, karena pembacanya yang setia. Mereka mengikuti dari awal, meninggalkan komentar, mengingatkan jika salah, bertanya jika ada yang mengganjal, sehingga kamu bisa langsung memperbaikinya di bab selanjutnya. Dan jujur, ini adalah pengalaman yang menyenangkan untuk saya.
Penulis dan pembaca tumbuh bersama karakternya. Mereka tidak perlu tahu siapa di balik cerita itu, selama ceritanya mereka suka dan bisa diterima, itu sudah cukup. Bisakah kita memasukkan ini ke dalam kriteria brandless yang menurut survei akhir-akhir ini akan semakin menjamur? Orang-orang tidak lagi fokus mengomsumsi sesuatu karena brand, melainkan mencari apa yang mereka butuhkan. Mungkin, jika penulis sekaliber Ika Natassa menulis di Wattpad, dalam sehari dia bisa meraup jutaan pembaca. Namun, penulis tanpa nama pun bisa merasakan bukunya dibaca jutaan orang selama cerita itu sesuai dengan yang diinginkan pasar.
Sedikit Keprihatinan

Saya hanya mengamati sedikit, membuka beberapa judul yang muncul sebagai rekomendasi. Beberapa lumayan menyenangkan, tapi ada beberapa cerita di Wattpad yang menjadi concern saya. Terlebih jika cerita ini dibaca oleh remaja—hell, bahkan ada yang ditulis oleh remaja. Saya rasa, butuh regulasi yang lebih ketat dari pihak Wattpad untuk menyortir cerita yang layak tayang, meski ini takes time dan takes effort banget.
Juga, mungkin regulasi untuk pembaca novel di kategori dewasa, harus diberikan batasan umur, karena jika dibiarkan, ini bisa menyesatkan.
Menurut sepengamatan saya, berikut beberapa tema yang menjadi concern saya (suatu hari nanti list ini bisa di-update).
1.                   Cerita seks untuk anak sekolah. Beberapa kali saya menemukan cerita remaja dengan tokoh yang sangat wild dan doyan seks. Dek, I will tell you this, sex is not like that. Serius, karena ketika kamu ada di usia dewasa dan membaca cerita ini, akan merasa cringey. Dan parahnya, ini lama-lama bisa membentuk pola pikir yang salah di kalangan remaja. (akan saya update jika menemukan lagi judul dengan cerita seperti ini)
2.                   Straight of pedophilia. Or something like that. Tokoh cowok berumur itu jadi salah satu makanan yang menggiurkan di Wattpad. Tokoh om-om hot dengan duit segudang. Dan ceweknya? Ada satu cerita si cowok 40-an dijodohkan dengan anak SMA 17 tahun. What the hell is this? It’s not romantic, it’s sick. Saya meninggalkan komentar di sana, tapi sepertinya komentar itu dihapus oleh si penulis. So, siapapun yang kebetulan membaca postingan saya ini dan pembaca Wattpad, saya harap kita lebih bijak dan lebih cerdas dalam memilah bacaan.
3.                   Damsel in distress dan lelaki berkuasa. Yeah right, makanan menggiurkan lainnya. Seringkali karakter cewek dihadirkan lemah dan membutuhkan pertolongan si cowok. Atau si cewek yang pasrah tidak bisa melakukan apa-apa, sementara si cowok berbas berlaku seenaknya dan pada akhirnya mereka jatuh cinta. Iya kalau plotnya masuk akal dan penulisnya oke sehingga masih bisa lumayan enjoy bacanya, tapi ini enggak.
Lagipula, sudah saatnya kita berhenti menulis cerita cewek pasrah dan cowok berkuasa karena secara tidak langsung itu bisa melanggengkan patriarki. Yup, ketika si cewek enggak bisa apa-apa dan si cowok mengontrol sepenuhnya. Ingat, itu bukan cinta, karena cinta itu equal, enggak mengenal si superior dan si inferior.
Ada salah satu pembaca saya yang meninggalkan komentar: heran, deh, kok cerita bagus dan rapi kayak gini enggak naik trus yang naik malah yang biasa aja? Dek, I’ll tell you this: you can stop it. Kalau kamu enggak mau cerita yang seperti itu jadi hits, berhenti membacanya. Ada banyak cerita di sana, jangan ragu untuk membuka judul apapun dan memilih yang sesuai dengan akal sehatmu.
4.                   Adegan yang tidak masuk akal. For the sake of they have to having sex or they have to do some romantic things and so on. Sehingga semua nalar diabaikan. Sehingga semua ketentuan menulis dinomorduakan. Jadinya? Ceritanya cringey banget dan bikin ngakak. Bukannya bermaksud ngetawain, tapi saya juga mengerti Wattpad ini ajang latihan. Namun, harusnya ada dong pertimbangan-pertimbangan penting yang harus diperhatikan?
Memang, tidak semua novel Wattpad itu jelek, karena bagi saya tidak ada novel yang jelek. Yang ada hanya novel yang ditulis dengan teknik yang kurang tepat sehingga unsur penting dalam novel tidak terpenuhi.
Saya pun menemukan novel Wattpad yang menarik. Beberapa sudah dibukukan, seperti Resign (saya akan menulis reviewnya setelah ini).
Kapok?
Jawabannya, tidak. Malah sebaliknya, saya semakin bersemangat. Wattpad secara tidak langsung sudah mengembalikan saya kepada cinta lama, yaitu menulis. Dan saya akan terus menulis.
Oh, mungkin cerita ini sebaiknya kita kirimkan ke penerbit? Why not?
PS: Untuk yang bertanya akun Wattpad saya, jawabannya rahasia, he-he. Biarlah itu menjadi alter ego saya saja.

Reactions

0 Comments:

Post a Comment