Jalanan Instagramable Menuju Ciletuh, Siap Berpanas-panas Ria Demi Konten


Penguasa jalanan




Jalanan ke Ciletuh itu kontradiktif. Di satu sisi, mengocok perut berkat konturnya yang berbelok-belok naik turun. Meskipun sudah diaspal dan bagus, tapi belokan-belokan tajamnya butuh kewaspadaan tingkat tinggi. Yah namanya juga membelah bukit.

Sementara, di sisi lain, pemandangannya cantik banget. Di sisi kiri ada pantai yang enggak habis-habis. Di sisi kanan, perbukitan. Terlebih ketika datangnya saat kemarau, ketika dedaunan berwarna cokelat.

Feels like autumn.

Kurang lebih seperti inilah jalanan ke Ciletuh.



Jika ingin ke Ciletuh, disarankan berangkat Jumat malam. Namun, hati-hati aja. Terlebih setelah keluar tol, karena jalanannya gelap dan keluar masuk hutan. Rumah penduduk memiliki jarak yang lumayan jauh. Sesekali ada perkampungan, lalu hutan lagi, dan kemudian perkampungan lagi.

Masalahnya, jalanan di sini minim lampu jalan. Jadi, benar-benar gelap.

Perjalanan pertama, rombongan saya berangkat pukul sepuluh malam dan sampai di Ciletuh jam 2an dini hari. Perjalanan kedua lebih malam lagi, jam 11-an, dan sampai di Ciletuh jam 3an. Hanya punya waktu istirahat sebentar untuk kemudian bersiap-siap menjelajah Ciletuh.

Nah, kebahagiaan sebenarnya terletak di perjalanan pulang. Usahakan berangkat siang, agar sampai Jakarta tidak terlalu malam. Pastinya, spend waktu lebih agar bisa menikmati jalanan di sini.



Berhubung pemandangan pantai dari atas itu bagus banget, ada beberapa spot yang sengaja dirancang sebagai tempat memandang lautan. Sekaligus wisata selfie.

Paling terkenal adalah Puncak Darma. Tapi, kami melewatinya karena sangat ramai. Tidak begitu jauh dari Puncak Darma ada spot lain yang memandang lautan di Teluk Ciletuh.



Di perjalanan kedua, kami berhenti di spot yang lain. Kali ini pemandangannya masih seputar teluk Ciletuh, dan Pelabuhanratu terlihat dari kejauhan. Tepatnya di Puncak Gebang.

Menantang panas di Puncak Gebang


Wisata selfie di Puncak Gebang

Banyak papan berisi kalimat ngayayay kayak gini, termasuk will you marry me di atas pohon. Entahlah apa maksudnya

Ada beberapa highlight di perjalanan pulang ini. Pertama, namanya tanjakan Balewer, diambil dari nama orang Belanda van Balewer. Sempat dinamakan tanjakan Dini, nama seorang korban kecelakaan yang tewas di tanjakan ini. Tanjakannya sih tajam banget, bikin bingung antara menahan napas karena ngeri atau menahan napas karena view yang bagus.

Girang banget
wataview
Demi konten rela panas-panasan pt. 1


Selain itu, ada jalanan lain, yang menurut guide kami, jalanan patah. Posisinya di atas, dan turunan di bawahnya tidak kelihatan, sehingga langsung terlihat lautan. Jadi, seolah-olah jalanan itu berhenti di atas dan langsung nyebur ke lautan. Sayang saya tidak sempat mengabadikannya.

Sejujurnya, jalanan Ciletuh yang sepi dan bagus ini sangat instagramable. Kami pun menemukan sebuah spot yang sangat menarik. Di kedua perjalanan ini, saya berhenti di jalanan itu.

Berlatar pantai Pelabuhanratu di belakang.

Jalanan instagramble


Kapan lagi, kan, bisa mejeng di jalanan seperti ini? Ini dia hasil berpanas-panasan di jalanan yang instagramable demi kepentingan konten, he-he.

This pict sum up our holiday in Ciletuh

Namaste

Preman sini

Fly high
Warna yang kontras bikin foto lebih kece


Namun, siap-siap aja kepanasan. Apalagi kalau nekat duduk di jalan, itu aspal serasa mau ngebakar.

Stay cool padahal panasnya minta ampun


Saking sepinya, suara kendaraan dari kejauhan sudah terdengar. Jadi, lagi  asyik-asyik foto trus mendengar suara kendaraan, jadi langsung lari ke pinggir. Sudah lama ditungguin, kendaraannya enggak nongol-nongol, saking jauhnya.

Itu si Agus lagi ngecekin ada mobil/motor atau nggak


Sebenarnya, ini enggak disarankan karena berbahaya. Tapi, kalau mau mencoba, silakan.




Special addition
Panenjoan


Bisa istirahat sebentar di sini setelah dari Curug Awang


Sebenarnya bingung ingin menyelipkan tempat ini di mana, tapi sepertinya cocok di sini karena Panenjoan ini semacam tempat peristirahatan sementara setelah dari Curug Awang sebelum ke Curug Cikanteh. Plus, ini tempat pandang juga.





Dari ini, terlihat bukit-bukit yang memenuhi Ciletuh. Ada tangga spiral dua biji di sini (di kedatangan kedua sudah dibongkar yang di sisi kanan). Tangga ini lumayan bikin gamang, apalagi di atas dan bawahnya langsung jurang, dengan angin yang dahsyat.


Coba tebak, ini ketawa asli atau palsu?


Selain itu, tidak jauh dari Curug Cimarinjung ada persawahan penduduk. Hanya sawah biasa, tapi sebagai anak kota yang tiap hari lihat gedung, sawah-sawah ini jelas mengundang perhatian. Ditambah pada saat ke sana dalam keadaan masih basah dan habis hujan, sehingga pematang yang licin sukses membuat terpeleset. Hanya Catur yang balik dari sawah ini dalam keadaan bersih. Gue? Jangan ditanya, sempat aja gitu nyuci celana buat ngilangin tanah di selokan di pinggir jalan dekat sawah ini. Agus malah ngejemur celananya di kap mobil.

Semua demi konten, he-he.

Yang tiga di bawah udah kepeleset. Yang di atas masih mikir mau turun apa enggak

Tak perlu ke Abbey Road karena kita punya sawah

Jadi, untuk short weekend getaway, Geopark Ciletuh worth to visit kok.

Cheers,
XOXO
iif

Reactions

0 Comments:

Post a Comment