What is the Meanest Thing Someone Did to You?


 Day 6, tema dari Mita

“Butuh keberanian, nih, buat cerita,” ungkap Madam Mita ketika saya meminta cerita versi dia untuk melengkapi tulisan di blog ini. Karena, dialah yang memberikan tema ini.
She’s right, butuh keberanian untuk bercerita soal hal ini karena membuka kembali luka lama yang sudah dipendam. Beberapa bahkan sudah selesai begitu saja, tapi jika dipikir-pikir lagi, masih ada sedikit rasa sesak saat mengingatnya.
When I think about that, mungkin ini momen yang shaped us menjadi pribadi yang lebih baik. Sakit memang, tapi pengalaman menyakitkan ini memberikan satu dua pelajaran yang menjadi pijakan di hari berikutnya, benar?
Sepanjang saya bisa mengingat, ketika hal menyakitkan itu terjadi, saya hanya diam, tidak melakukan apa-apa. Namun ketika teringat lagi bertahun kemudian, dengan pikiran jernih, meski rasa sakit itu masih ada, saya bisa menarik pelajaran dari sana.
I’m not straight A student. Cukup di SD saja saya selalu mendapat ranking teratas. Ketika SMP, saya masuk ke kelas unggulan yang isinya murid super pintar dan ambisius, sementara saya sudah berusaha, hasilnya tetap tidak memuaskan.
Ketika SMA, saya juga bukan murid populer apalagi murid super cerdas. Malah sejujurnya, saya tidak suka dengan cara belajar yang terlalu text book dan membosankan—hal ini sudah saya alami sejak SD. Apalagi saya masuk jurusan IPA yang sebenarnya tidak saya inginkan—saya ingin masuk kelas Bahasa tapi karena peminatnya kurang jadi kelas Bahasa ditiadakan. Saya bisa mengikuti pelajaran, tapi seringkali bukan karena penjelasan guru di kelas, melainkan karena saya belajar sendiri.
Satu-satunya momen yang saya sukai di sekolah dulu adalah pelajaran Bahasa Indonesia yang mengharuskan untuk menjelaskan tema tertentu di depan kelas. Mengerikan, pada awalnya, tapi lama-lama saya enjoy. Selama tiga tahun, Bahasa Indonesia jadi pelajaran favorit karena selain presentasi, saya bisa menulis dan menunjukkan kelebihan saya.
Saya juga suka pelajaran sejarah, terutama di kelas tiga, karena setiap minggu ada diskusi.
Sisanya? Saya tidak terlalu suka. Saya mengharapkan pelajaran Biologi yang banyak praktik tapi nyatanya malah disuruh nyatet sebuku-buku. Saya kesulitan menangkap Fisika karena penjelasan berbelit-belit. Saya baru bisa menikmati Matematika di kelas tiga karena dua tahun sebelumnya punya guru yang suka ngambek.


Dengan memahami kesulitan itu, saya mencari jalan keluar lain. Saya selalu belajar sendiri di rumah. Beruntung keluarga tidak pernah bermasalah kalau saya butuh buku pelajaran apa pun, dan uni siap ngirimin buku yang dibutuhin dari Jakarta jadi bisa dibilang buku pelajaran saya lengkap dan beragam. Apalagi di kelas tiga, menjelang lulus. Saya juga mulai belajar pelajaran IPS karena menargetkan untuk ambil pilihan IPS saat SNPMTN.
Karena itu, di sekolah saya cenderung cuek dan tidak terlalu ambisius. Padahal kalau dipikir-pikir, kurang ambisius apa coba pas naik kelas tiga langsung mikirin SNMPTN, he-he. Saya pasrah dapat nilai ulangan yang kurang memuaskan selama saya paham apa yang saya pelajari.
Tanpa disadari, image saya tidak terlalu bagus karena sering dilihat main-main saja, bukannya belajar. Ketika pelajaran tambahan pada fokus sama Fisika, saya menyelinap belajar Akuntansi di kelas lain demi persiapan SNMPTN sehingga dikiranya saya enggak peduli dengan pelajaran tambahan.
Long story short, saya lulus SMA dengan nilai memuaskan. Lebih jauh lagi, saya lulus SNMPTN di jurusan yang sangat saya inginkan. Ilmu Komunikasi UI itu favorit dengan passing grade tinggi. Saya sendiri amaze, karena selama try out, baru di try out terakhir saya meraih nilai sedikit di bawah batas lulus, dan guru di tempat bimbel yakin saya bisa lulus, kalau dilihat dari grafik nilai saya selama bimbel dan try out.
Namun ternyata hal itu tidak bisa diterima oleh akal sehat teman-teman SMA saya dulu. Saya mendapat cerita dari teman baik soal komentar mereka, mengingat saat pengumuman kelulusan saya sudah di Jakarta. Hingga ada teman yang cukup dekat sewaktu SMA mengirim SMS yang kurang lebih isinya seperti ini:
“Kok If bisa lulus? Waktu SMA, If biasa-biasa aja. Waktu try out, nilai Na selalu lebih tinggi. Na lebih pintar dan If kan bodoh. Kok bisa lulus? Na enggak percaya.”


Yes, she said that I was stupid. Dia menganggap dirinya yang jauh lebih pintar tapi enggak lulus SNMPTN dan saya yang bodoh tapi lulus itu pure luck saja.
Nyesek, ya?
Tapi saya hanya diam. Bukannya tidak mau meladeni, tapi terbiasa diam membuat saya menelan mentah-mentah apa saja yang dituduhkan orang lain. Beruntung saya punya teman yang malah ngebelain tanpa diminta, he-he. Thanks, Fhia.
Kejadian itu sudah sebelas tahun berlalu tapi masih membekas hingga sekarang. Bukan berarti saya dendam lalu menyimpannya sampai mati. Hanya saja, kata-kata itu begitu menyakitkan, makanya susah hilang. Ditambah, hal tersebut cukup banyak memengaruhi kepercayaan diri. Saya jadi seseorang yang susah untuk memulai sesuatu karena tidak percaya pada kemampuan. Selama bertahun-tahun, cap bodoh itu melekat di benak saya.
Hingga akhirnya saya menyadari kalau hal bodoh yang sebenarnya adalah membiarkan cap tersebut memengaruhi saya, bahkan menghambat diri sendiri.
Pengalaman itu mengajarkan beberapa hal. Pertama, cemburu itu wajar dialami semua orang, tapi jangan sampai cemburu yang kita rasakan menyakiti orang lain. Pada dasarnya, cemburu itu menyakiti diri kita (I’ll talk about my jealousy in next post) dan dorongan untuk melampiaskannya ke orang lain itu sangat besar, tidak peduli apakah orang tersebut ada kaitannya dengan kita atau tidak. Di situlah saya belajar untuk menahan diri agar tidak termakan rasa cemburu. Saya merasakan sendiri kecemburuan orang lain membuat saya mengalami masalah mental selama bertahun-tahun.


Kedua, asal nyeplak itu gampang banget, menyesal urusan belakangan. Saya yakin, omongan teman saya itu hanya asal nyeplak, dan mungkin dia enggak bermaksud menyakiti. Di sisi lain, pasti ada omongan asal nyeplak yang keluar dari mulut saya dan membuat seseorang sakit hati. Itulah pelajarannya, untuk lebih menjaga omongan. Saya berprinsip, ‘if you don’t have something nice to say, please keep silent.’
Terakhir, kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Namun yang lebih penting, tidak perlulah digembar gemborkan ke orang-orang apa saja yang sudah kita lakukan. Fokus pada tujuan lebih penting ketimbang image baik di mata orang. Teman saya, Ira, pernah bilang, ‘kayak bebek, kelihatannya planga plongo, tapi kakinya kerja keras buat berenang tapi enggak ada yang lihat.’
Balik lagi ke cerita di masa lalu menyadarkan bahwa it’s not easy being teenager. Karena saat itu kita belum tahu bagaimana cara bersikap, cara membela diri, cara mengekspresikan diri dengan tepat. Tapi, itu sebuah pelajaran, dan hidup adalah pelajaran tanpa henti dengan ujian yang semakin sulit dari hari ke hari dan tak kan pernah usai.
Mungkin terlambat, tapi lewat postingan ini saya ingin berterima kasih pada teman saya itu, karena tanpa disadari dia sudah membentuk saya jadi seperti sekarang.
“Gue punya teman sebangku pas SMA. Gue pikir kita teman, tapi kok dia selalu deketin cowok yang gue suka? Sampai akhirnya gue enggak bilang kalau suka sama kakak kelas, tapi akhirnya dia tahu. Suatu hari ada telepon ke rumah pas Valentine’s Day, dari anak kecil. Dia bilang kalau diminta kakaknya nelepon gue dan bilang kalau kakaknya suka sama gue. Nama kakaknya Mario, kakak kelas yang gue suka. Ya gue enggak sebego itu untuk percaya meski sebenarnya ngarep juga. Besoknya, teman sebangku gue ini sambil ketawa bilang, ‘kemarin ada anak kecil nelepon lo ya? Itu tetangga gue, gue yang suruh.’ Ya kalau di kerjaan ada sih yang jahat juga, tapi enggak habis pikir aja anak 15 tahun bisa sejahat itu. Lesson learned-nya, it’s not easy to find true friends and beautiful girls can be jealous as fuck to regular girl like me. Makanya dia enggak suka gue deket sama gebetan-gebetan gue,” Mita.

For you, what is the meanest thing someone did to you?
Reactions

0 Comments:

Post a Comment