Who is the Most Inspiring Person in Your Life and What S/he Did?


 Day 5, tema dari Manda

Ada kalimat dari Manda yang saya setujui ketika dia menyerahkan tema ini untuk digarap. “Gue, sih, mikirnya sometimes people always seeing yang inspire itu macam artis or heroes or duchess of kembrij (yes, she writes it like that, he-he). Padahal, kan, yang inspire tuh kadang orang-orang yang bisa do something small but real and applicable di kehidupan sehari-hari.”
I agree with her. Seringkali kita melihat sesuatu yang berskala besar dan jadi lupa sama hal kecil yang jauh lebih nyata dan kita bahkan bisa merasakan langsung akibatnya. Mungkin tidak di saat itu juga. Saya juga percaya, hal kecil yang dilakukan oleh seseorang bisa mendapatkan manfaat besar bagi orang lain.
Bicara soal orang yang menginspirasi, untuk saat ini, saya memiliki beberapa orang yang saya follow di Instagram, kenal atau tidak, tapi ada sesuatu yang dia lakukan dan langsung menyentuh. Lebih jauh lagi, membuat saya bertekad untuk melakukan hal yang sama. Sangat sederhana, tapi dari hal yang sederhana itu bisa mengakibatkan dampak yang besar.
Ya, saya akui dalam sehari saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan scrolling Instagram yang tak ada habisnya dan membaca stories yang sangat banyak. Namun saya tidak merasa sudah membuang waktu. Saya sangat menjaga siapa saja yang saya follow sehingga saya selalu mendapatkan pengaruh positif setiap kali selesai menjelajah Instagram. Dari membaca stories satu per satu, tidak hanya membuat saya jadi tahu info terbaru tapi juga memberi makan bagi otak. Plus, membuat saya kian peka dan malah bertanya sendiri akan suatu topik yang dibahas, lalu mencari literatur lebih lanjut.
Jadi, berikut 4 orang di Instagram yang tanpa mereka sadari, hal kecil yang mereka lakukan atau ucapkan, memberi dampak besar bagi saya, dan orang lain.

@poeticpicture


Saya follow mbak Marrysa karena suka dengan hasil fotonya. Sekaligus mencuri ilmu, berhubung beliau sering berbagi info dan tips menghasilkan foto yang menarik. Namun, ada satu tindakannya yang menggelitik: do small things to mother nature.
Mbak Marissa sering share cerita soal anti-sedotan di postingannya. Hal sederhana, tapi anggap saja seratus orang melakukan hal yang sama dalam satu hari, sudah berapa banyak mengurangi sampah plasti? Jika hal itu dilakukan setiap hari, artinya kita turut berperan dalam menjaga bumi.
Sebagai manusia yang hidup di bumi, sudah sepatutnya menjaga tempat tinggal kita ini. Saya sering miris melihat orang-orang yang dengan seenaknya buang sampah sembarangan. Saya pernah bertengkar dengan bapak-bapak yang tidak terima ditegur karena buang sampah di atas KRL. He said to me: “Biar petugas kereta ada kerjaannya. Mbak enggak usah sok.” Bawaannya pengin ngamuk tapi kuhanya bisa mengurut dada. Setidaknya, contoh itu membuat saya tahu harus mengajarkan apa kepada keponakan yang masih kecil.

@ladyzwolf

Ketika membaca twit itu, juga stories Twelvi lain yang membahas soal body positivity, saya sepenuhnya memahaminya. Saya juga pernah mengalami dipandang aneh oleh orang lain seolah saya alien yang nyasar ke bumi hanya karena saya suka memakai knee-length boots dan lipstik gelap. Itu cara saya mengekspresikan diri, lalu apa salahnya dengan itu?
Tidak ada. Twelvi suka memakai dress lucu. Saya suka memakai knee-length boots. Orang lain memiliki preferensi lain yang membuatnya nyaman. Jadi, di mana letak salahnya?
Tidak ada. Kecuali orang-orang yang bersikap holier-than-thou yang menganggap ini cara yang salah dalam mengekspresikan diri. Setiap orang memiliki cara sendiri dalam mengekspresikan diri dan membuat dirinya merasa nyaman, jadi siapa kita untuk nge-judge mereka?
Kita bukan siapa-siapa.
Oh satu lagi, saya juga takjub dengan Twelvi yang liburan 70 hari, dan membuat saya terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Mungkin tidak liburan 70 hari, tapi mewudujkan impian yang selama ini terpendam.

@ikanatassa

A post shared by Ika Natassa (@ikanatassa) on

I love her books. Jadi, jelas tujuan utama saya follow Ika adalah untuk mencuri ilmu menulis dan memasarkan buku, he-he. ‘Menggunting titik-titik’ di Instagram Ika adalah hal paling menyenangkan untuk dilakukan setiap malam. Namun, dari itu saya bisa belajar satu hal, yaitu stay true to yourself.
Ada satu pembahasan Ika yang membuat saya meneteskan air mata beberapa hari yang lalu. Ketika orang dengan entengnya berkomentar tanpa menyadari komentarnya itu bisa menyakitkan. Seperti Ika yang dihina secara fisik ketika membahas buku. Come on, apa hubungannya?
Tidak ada.
Namun itu menyadarkan bahwa orang bisa berkomentar tanpa filter dan ketika ditegur malah bersembunyi di balik ‘gitu doang marah. Baperan lo.’
Kata-kata itu menyakitkan dan jika ditujukan kepada orang yang salah itu bisa berdampak parah. Karena itu, body shaming, slut shaming, skin shaming, apa pun itu, tidak boleh dibiarkan. Komentar yang kita anggap ringan bisa menusuk seperti pisau bagi orang lain.
Bertahun-tahun saya menganggap diri saya bodoh hanya karena omongan so-called friend yang bilang saya tidak sepintar dia jadi saya tidak akan bisa sukses.
Anggap saya baper, karena bagi saya omongan itu tidak sekadar basa basi, melainkan memengaruhi kepercayaan diri saya selama bertahun-tahun. Begitu juga dengan ucapan basa basi ‘kok gendutan?’, ‘kok iteman?’, ‘kok kurusan?’. ‘kok masih gini-gini aja hidup lo?’ yang sudah sangat ketinggalan zaman. Kita tidak pernah tahu struggling apa yang dia alami, dan komentar ringan seperti itu malah menyakitkan.
Think smart, biar terlepas dari omongan basa basi yang sudah sangat basi ini.
Dari titik-titiknya Ika saya juga belajar, jika urusan orang lain enggak ada hubungannya denganmu, enggak usah sok ngerecokin. Berdalih mengingatkan? Well, bisa bicara baik-baik, kan? Juga menghindari holier-than-thou attitude yang sangat tidak di tempatnya.

@psychofat

Namun, yang jauh lebih menginspirasi adalah karena dia mengingatkan saya bahwa bermimpi itu tidak mengenal batasan. I told her, ‘aku umur segini tapi pencapaianku masih belum banyak,’ and she said ‘I got it when I’m 30-ish.’
I used to limit myself. Yup, rasa rendah diri membuat saya tidak berani untuk melakukan sesuatu yang sifatnya grande karena saya pikir saya tidak akan pernah mampu. Semakin bertambahnya umur dan melihat mereka yang jauh lebih muda dari saya dengan sederet prestasi membanggakan membuat saya semakin ciut.
But she proves me wrong. Tidak ada batasan dalam meraih apa yang kita cita-citakan. Not our age, our gender, our body, anything. Satu-satunya yang membatasi kita adalah diri sendiri.
Masalahnya, itu yang sering saya lupakan, dan dia mengingatkan saya kembali untuk tidak membatasi diri.
Fly high!


And you, who is the most inspiring people in your life and what s/he do?
Reactions

0 Comments:

Post a Comment